Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Ancaman


__ADS_3

Dathan tersenyum menyeringai. Mana mungkin dia akan melakukan hal itu. Yang ada dia akan membuat pertanyaan semakin panjang.


“Apa kamu mau aku menjawab satu pertanyaan satu hari?” Dathan menatap Neta dengan lekat. Dia tidak akan melepaskan Neta begitu saja. Karena itu dia memberikan ancaman.


Neta menelan salivanya. Jika satu pertanyaan satu hari, yang ada nanti dia akan sebulan baru selesai wawancara. Yang ada keburu dirinya dipecat.


Neta dengan polosnya tersenyum dengan memamerkan deretan giginya. “Tidak.” Dia menggeleng.


Dathan ingin sekali tertawa. Neta begitu menggemaskan sekali.


“Aku akan mengambil tasku kalau begitu.” Neta segera menuju ke ruangan sebelahnya.


Dathan mengikuti Neta ke ruangannya. Dia memerhatikan Neta yang sibuk merapikan beberapa kertas yang berisikan pertanyaan yang diberikan padanya. Melihat, hal itu rasanya Dathan belum bisa merelakan Neta. Namun, hari ini ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikannya.


“Apa kamu akan pulang saat Cinta bangun?” Neta yang berbalik sambil meletakkan tasnya di bahunya.


“Iya, aku akan pulang setelah Cinta bangun. Lagi pula juga aku harus mengerjakan pekerjaanku.”


Neta terdiam. Sejujurnya, dia merasa kasihan ketika Loveta tidur di kantor. Namun, dia begitu kagum dengan Dathan yang melakukan pekerjaan sambil menjaga anaknya.


“Besok datanglah ke rumah. Kita akan wawancara di rumah.”


Neta membulatkan matanya. Kenapa dia mengajaknya ke rumah? Padahal jelas jika dia bisa wawancara di kantor.


“Kenapa di rumah?” tanya Neta yang begitu terkejut.


“Bukankah pasti pertanyaan wawancara itu ada, ‘bagaimana cara Pak Dathan membagi waktu antara pekerjaan dan kantor?’.”


Dathan mencontohkan pertanyaan yang akan diberikan Neta.


Neta memikirkan pertanyaannya yang ada di kertas miliknya. Dia merasa jika memang pertanyaan itu ada.

__ADS_1


“Jika iya, aku tidak akan sekadar menjawab. Aku akan tunjukan.” Dathan tersenyum.


Neta akhirnya tahu alasan Dathan memintanya datang ke rumah. Neta jadi penasaran sekali apa yang ditunjukkan oleh Dathan.


“Baiklah, aku akan langsung ke rumah.” Neta mengangguk.


“Naiklah taksi, agar aku bisa mengantarkanmu pulang.” Dathan tentu saja tidak akan sangat senang jika bisa menghabiskan banyak waktu dengan Neta.


Neta tahu Dathan ingin bersamanya. Karena itu sengaja memintanya untuk naik taksi. Entah kenapa Neta merasa tidak keberatan. Apa mungkin karena sudah adanya perasaan di hatinya.


“Baiklah.” Neta mengangguk. Mengiyakan permintaan Dathan. “Kalau begitu aku pulang dulu.” Neta segera mengayunkan langkahnya meninggalkan Dathan.


Baru saja langkahnya diayunkan, tangan Dathan sudah mencekalnya. Membuat Neta berhenti dan berbalik melihat Dathan.


“Hati-hati di jalan.” Dathan tersenyum sambil menatap Neta penuh damba. Dia merasa benar-benar mencintai gadis manis di depannya itu.


Neta mengangguk dan membalas senyuman Dathan. Kalimat yang diberikan Dathan benar-benar membuat hatinya begitu tenang. Dia merasa setiap kata yang keluar dari mulut Dathan memang sesuatu yang luar biasa. Jadi wajar saja dia terus saja terpesona pada Dathan.


Neta segera melajukan motornya untuk pulang. Waktu sudah menunjukan jam empat. Jika kembali ke kantor yang ada baru datang dia akan pulang nanti. Jadi lebih baik jika dirinya mengerjakan pekerjaanya sekaligus di rumah. Kantor Neta memang sangat fleksibel. Sebagai wartawan, dia bisa menyelesaikan pekerjaanya di mana saja. Asal bisa selesai tepat waktu.


Neta sampai di kos miliknya. Tepat saat sampai di lantai atas kosnya dia melihat ada seorang pria yang berdiri di depan kosnya. Tepat saat itu langkah Neta berhenti. Dia ingin melihat apa yang dilakukan oleh pria itu. Tampak pria itu meletakkan sebuah paper bag di ganggang pintu kamarnya. Seolah memberikan benda itu, karena dirinya yang tidak ada di rumah.


Pria itu berbalik. Bersiap meninggalkan kosan milik Neta. Namun, langkahnya pun terhenti ketika melihat ada Neta yang berdiri, tak jauh dari tempatnya berdiri.


“Kamu sudah pulang.” Adriel begitu terkejut ketika melihat Neta datang. Hal itu membuatnya sedikit gugup.


Neta mengembuskan napasnya ketika melihat Adriel datang ke kos miliknya di saat dirinya tidak ada. Sebenarnya ini bukan pertama kali. Sayangnya, ini adalah pertama kali Neta melihat Adriel yang datang.


Neta mengayunkan langkahnya. Tangannya merogoh kunci yang berada di dalam tas miliknya. Tepat saat di depan Adriel, dia meraih paper bag yang diletakkan Adriel di gagang pintu. Kemudian membuka pintu kamarnya.


“Ayo, masuk.” Neta mempersilakan Adriel masuk. Tempat kos milik Neta adalah kos campuran. Jadi pria dan wanita bebas tinggal. Sengaja Neta memilih kos yang bebas, mengingat dia sering pulang malam saat tugas. Jika sampai tinggal di kos yang ada jam malamnya, tentu saja dia akan kesulitan.

__ADS_1


Adriel yang ketahuan oleh Neta tidak punya pilihan lain. Dia pun masuk ke kamar Neta. Mengekor di belakang Neta. Neta yang membawa paper bag dari Adriel meletakkan meja makan.


Saat di dalam kamar Neta, dia duduk di sofa yang berada di samping tempat tidur. Dia masih merasa canggung karena baru terpergok oleh Neta.


“Kak Riel baru ada meeting?” tanya Neta sambil membuka paper bag. Dia tahu jika Adriel pasti membawakan kue bolu banana kesukaannya. Dari aroma saat memegang paper bag itu saja, dia sudah bisa menebak apa yang dibawah Adriel.


“Iya, aku ada meeting besok.” Adriel berusaha untuk tetap tenang. Lagi pula, mereka putus secara baik-baik, jadi tentu saja tidak ada masalah antara dirinya dan Neta.


Neta mengambil pisau dan memotongnya. Kemudian segera menyajikannya ke meja yang berada di depan Adriel.


“Sudah ke panti?” Neta melempar pertanyaan, tetapi dia berbalik ke dapur untuk mengambil minum di lemari pendingin.


“Sudah. Sampai aku langsung ke panti.”


Neta kembali dengan botol dan air putih.


“Hanya ada air putih, ucapnya sambil tersenyum. Dia meletakkan minuman di atas meja.


“Tidak apa-apa. Aku sudah lama juga tidak minum soda.” Adriel tersenyum.


“Baguslah.” Neta menarik kursi di meja makan dan mendudukkan tubuhnya di sana.


“Apa ibu menceritakan jika aku dan Maria ke sana?” Neta mencoba mencairkan suasana.


“Iya, dia menceritakan jika kamu ke sana dengan Maria untuk membantu acara ulang tahun Leo.” Di panti tadi memang ibu panti banyak sekali bercerita.


Neta sudah menduga jika ibu panti pasti bercerita.


“Ibu juga menceritakan jika kamu sudah punya kekasih.” Adriel pun mengingat apa yang diceritakan ibu panti tadi padanya.


Seketika Neta terdiam. Candaan Maria ternyata dianggap serius oleh ibu panti. Namun, dia tidak bisa menyalahkan. Karena kemarin memang dia begitu semringah sekali. Neta menimbang-nimbang tanggapan apa yang pas untuk diberikan pada ucapan Adriel.

__ADS_1


__ADS_2