Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Jaga Baik-Baik


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Dathan membangunkan anaknya. Tangannya membelai lembut wajah sang anak yang masih tertidur pulas.


“Cinta, bangun.” Dathan membangunkan dengan lembut anaknya.


Loveta justru semakin pulas. Dia meringkuk di bawah selimut. Menikmati kehangatan selimut. Dathan yang melihat hal itu justru tersenyum. Dia mendaratkan kecupan di dahi sang anak.


“Cinta hari ini akan ikut mama jalan-jalan. Jadi ayo bangun. Kalau tidak bangun berarti Cinta tidak mau pergi.” Dathan menggoda anaknya. Berharap jika itu akan membuat anaknya mau bangun.


Loveta yang mendengar itu langsung membuka matanya perlahan. Dia teringat dengan rencana kali hari ini. “Lolo mau ikut mama jalan-jalan.” Dia tidak mau melepaskan kesempatan yang diberikan padanya.


“Kalau begitu ayo bersiap. Papa akan bantu Cinta bersiap.” Dathan tersenyum.


“Baik, Pa.” Loveta mengangguk. Perlahan dia bangun dari posisi tidurnya.


Dathan segera memanggil asisten rumah tangga. Meminta untuk membantu Loveta mandi. Saat anaknya mandi, Dathan mengeluarkan koper kecil milik Loveta yang sudah disiapkannya. Dia meletakkannya di ruang keluarga. Agar nanti mudah untuk diambil.


Setelah menaruh koper, Dathan mengecek kembali buku-buku yang diperlukan Loveta. Karena anaknya itu akan berangkat sekolah dari rumah sang mama, tentu saja dia harus menyiapkan semua. Satu tas buku pun Dathan bawa keluar. Menaruhnya tepat dekat koper.


Saat kembali ke kamar, Dathan mendapati jika anaknya sudah selesai memakai baju. Dathan mengambil alih untuk menyisir Loveta.


Loveta asyik memainkan mainan yang didapatkannya kemarin di area permainan. Kemarin, Neta yang bermain koin, mendapatkan boneka beruang lucu, dan memberikannya pada Loveta.


“Nanti Cinta harus menurut dengan mama. Dengarkan apa yang dibilang mama.” Sambil menyisir rambut Loveta, Dathan memberikan nasehat.


“Iya, nanti Lolo dengar.”


“Jangan lupa makan, minum susu, dan minum vitamin.” Dathan mengingatkan Loveta.

__ADS_1


“Nanti Papa telepon Lolo ya, biar Lolo tidak lupa.” Loveta menengadah. Melihat ke arah Dathan.


Dathan tersenyum dan langsung mencium pipi sang anak. Aroma bedak bayi bercampur minyak telon tercium begitu segar di hidungnya. Bau khas yang selalu disukai Dathan.


“Iya, nanti Papa akan telepon untuk ingatkan kamu.” Dathan tersenyum.


Rambut Loveta yang basah membuat Dathan tidak bisa mengikat rambut Loveta. Karena itu, dia membiarkan tergerai saja.


“Ayo.” Dathan mengulurkan tangannya. Mengajak Loveta untuk makan terlebih dahulu. Dia ingin anaknya kenyang sebelum perjalanan ke puncak.


“Papa, boleh Lolo bawa boneka ini?” Loveta menatap sang papa dengan harap.


Ada banyak boneka, tetapi boneka hadiah dari Neta yang dipilih Loveta untuk dibawa. Hal itu tentu saja menandakan jika Loveta menyayangi boneka itu. “Tentu saja boleh.” Dia tersenyum.


Bersama papanya, Loveta keluar dari kamar. Mereka segera menuju ke ruang makan untuk menikmati sarapan mereka. Dathan menemani anaknya yang makan dengan lahap. Melihat anaknya, rasanya Dathan merasa berat sekali. Namun, dia sadar jika dia harus turut senang karena anaknya senang.


...****************...


“Aku senang akhirnya kamu mendengarkan apa yang aku katakan.” Mauren tersenyum menatap Arriel.


Arriel ikut tersenyum. Kemarin sewaktu di Paris, Mauren memang memberikan nasihatnya pada Arriel. Mengingatkan Arriel jika dia sudah kehilangan banyak waktu bersama anaknya. Padahal Mauren sudah berkali-kali mengatakan itu, tetapi Arriel yang masih sibuk dengan dunianya, justru mengabaikannya.


“Mungkin aku baru disadarkan sekarang ketika kesuksesan sudah kuraih. Beruntungnya Dathan memberikan aku waktu untuk dekat dengan Lolo.” Arriel tersenyum. Dia memang patut bersyukur. Karena memang Dathan memberikan ruang bersama anaknya.


“Tapi, jika dia punya kekasih, apa ini bukannya akan menyulitkanmu. Maksudku, kamu akan berbagi kasih sayang Lolo dengan ibu barunya pastinya.” Mauren merasa jika memang posisi Arriel terlalu sulit.


“Aku hanya punya kesempatan ini. Sebelum Dathan menikah, aku harus dapatkan cinta anakku.” Arriel tidak mau jika harus berbagi cintanya dengan yang lain. Dia mau jadi yang pertama untuk anaknya.

__ADS_1


“Aku berharap dia akan menerimamu.” Mauren hanya berharap temannya itu bisa bersama dengan anaknya seperti yang diharapkannya.


Mobil sampai di rumah Dathan. Tepat saat


dia datang Loveta dan Dathan sudah di depan rumah.


Dathan mengantarkan Loveta ke depan rumah sambil membawakan kopernya. Tadi ketika suara mobil terdengar, dia segera keluar dari rumah.


“Sayang.” Arriel langsung menyambut Loveta yang keluar dari rumah. Baru saja dia keluar dari mobil, Dathan dan anaknya sudah keluar. Arriel berjongkok dan memeluk anaknya.


“Mama.” Loveta menyambut sang mama dengan bahagia.


Dathan melihat pemandangan itu merasa jika akhirnya mantan istrinya bisa menyayangi Loveta seperti yang diharapkannya.


“Hai, Than.” Mauren menyapa Dathan.


“Hai, Ren.” Dathan tersenyum.


“Ayo, kalau begitu kita berangkat.” Arriel menatap Loveta. Dia begitu bersemangat sekali ketika akan pergi dengan anaknya.


“Ye ….” Loveta bersorak senang.


Arriel beralih pada Dathan. “Aku bawa Lolo dulu, Than.” Dia berpamitan pada mantan suaminya itu.


Dathan mengangguk. “Jaga dia baik-baik.” Satu pesan diberikan Dathan untuk mantan istrinya itu. Dia beralih pada anaknya. Berjongkok agar mensejajarkan tubuhnya. “Jangan lupa telepon Papa.” Dia tersenyum.


“Nanti aku akan telepon Papa.” Loveta mendaratkan kecupan di pipi sang papa.

__ADS_1


Arriel segera meraih tangan sang anak. Mengajaknya untuk masuk ke mobil. Supir sudah memasukkan koper milik Loveta. Jadi mereka tinggal masuk dan berangkat.


Loveta melambaikan tangan pada Dathan ketika mobil berjalan. Dathan berharap anaknya akan baik-baik dengan mantan istrinya.


__ADS_2