
Loveta dan Richa tidur bersama setelah tadi makan malam. Mereka begitu lelap sekali. Si kembar tidur bersama kedua orang tuanya. Neta menyusui anak-anak hingga mereka tidur.
Dathan yang mengobrol dengan Reno di ruang tamu, segera berlalu masuk ke kamar. Mengecek anak-anaknya. Berharap anak-anaknya sudah tidur.
Saat masuk, Dathan mendapati jika anaknya
sudah tidur. Melihat anak-anak yang tidur tentu saja membuat Dathan senang. Ini kesempatan untuknya.
“Sudah tidur?” tanya Dathan memastikan.
“Iya.” Netta mengangguk.
“Aku akan panggil Reno dulu.” Dathan tersenyum. Setelah mendapati anggukan dari istrinya, dia segera keluar kembali. Menemui Reno dan meminta temannya itu untuk masuk ke kamarnya.
Mendapati keadaan sudah siap, membuat Reno langsung memanggil istrinya. Padahal istrinya baru saja tidur. Harus dibangunkan karena tugas yang harus dikerjakannya.
Rifa yang bangun merasa bingung. Karena suaminya hanya mengajaknya ke kamar Dathan dan Neta. Tidak mengatakan apa tujuannya.
“Kalian mau ke mana?” tanya Rifa yang penasaran sekali. Dia memang tidak tahu rencana Reno dan Dathan.
“Kami akan keluar jalan-jalan. Aku mau titip Danish dan Nessia.” Dathan memberitahu temannya itu.
Rifa melihat jam dinding yang menempel di dinding. Waktu menunjukkan jam sembilan malam. Bingung kenapa temannya jalan-jalan malam-malam. Apakah mereka tidak takut? Namun, Rifa tidak mau memikirkan apa yang dilakukan oleh Dathan. Dia memilih untuk langsung ke kamar Dathan untuk tidur di samping anak Dathan dan Neta.
“Sudah pergilah. Aku akan menjaga mereka.” Reno segera menyuruh temannya itu untuk pergi.
“Baiklah.” Dathan mengangguk. Dia memberikan isyarat pada istrinya.
__ADS_1
“Titip, Kak.” Neta malu sekali menitipkan anak-anaknya.
Reno mengangguk. Dia menahan diri untuk tampak biasa saja. Dia tidak mau istri temannya canggung.
Dathan dan Neta keluar dari kamar. Dathan menarik Neta untuk keluar. Mereka menaiki mobil untuk meninggalkan vila.
“Apa kita akan pergi jauh?” Neta merasa tidak tenang meninggalkan anaknya terlalu lama.
“Tidak.” Dathan menggeleng.
Beberapa blok dari vila mereka bertemu sebuah hotel besar. Dathan memilih tempat yang tidak jauh dari vila tempat tinggal mereka. Karena agar bisa pulang dengan segera ketika ada apa-apa.
Dathan segera memasuki parkirkan hotel. Dengan semangat dia mengajak turun istrinya. Dathan menuju ke resepsionis. Menanyakan pesanan atas namanya. Resepsionis pun langsung memberikan kunci kamar mereka.
Dathan dan Neta langsung segera ke kamar mereka. Neta tersipu malu ketika hendak ke kamar mereka.
“Pengantin baru rasa lama.” Neta tersenyum.
Mereka sampai di kamar hotel. Dathan membuka pintu kamar hotelnya. Dengan perlahan, dia membuka pintu kamar. Aroma semerbak tercium ketika pintu dibuka. Neta curiga kamar dihiasi seperti waktu mereka malam pertama.
Dathan masuk lebih dulu untuk menyalakan lampu. Neta masuk ke kamar. Melihat apakah benar kamar dihiasi dengan bunga. Seperti dugaanya, kamar dihiasi dengan bunga-bunga di atas tempat tidur.
Bunga-bunga dibentuk love yang begitu cantik. Membuat Neta hanya bisa menggeleng saja. Bisa-bisanya suaminya menyiapkan hal ini.
“Biar kita merasakan malam pertama.” Dathan memeluk Neta dari belakang. Mendaratkan kecupan di pipi sang istri.
Neta tersipu malu. Bisa-bisanya suaminya membuat malam pertama untuk mereka.
__ADS_1
Dathan memutar tubuh sang istri. “Kamu tahu, betapa aku merindukan sentuhanmu.” Dathan membelai lembut wajah sang istri. Menyelipkan rambut ke belakang telinga.
“Sentuhan seperti ini?” Neta membelai leher sang suami hingga ke dada.
Baru disentuh sang istri saja rasanya seperti sengatan listri yang menjalar ke tubuhnya. Dathan sampai memejamkan matanya merasakan sentuhan sang istri.
“Atau sentuhan seperti ini.” Neta mendaratkan kecupan di leher sang suami. Dia harus berjinjit sedikit agar mencapai leher sang suami.
Dathan melenguh ketika bibir kenyal milik sang istri menyentuh kulitnya. Sang istri seperti sedang membangunkan macam yang sudah lama tertidur. Macan lapar yang siap memakan mangsanya.
Ketika Neta hendak menjauhkan tubuhnya, Dathan menarik lembut wajah sang istri.
“Aku tidak akan melepaskanmu.” Dathan mendaratkan bibirnya pada bibir sang istri. Menyesapnya dengan lembut.
Rasa rindu yang dirasakan oleh Neta pun mengantarkannya membalas ciuman tersebut. Tangannya melingkar di leher sang suami agar ciuman lebih dalam.
Mereka berdua larut dalam pertukaran saliva. Menikmati bibir manis yang begitu dirindukan.
Perlahan Dathan mendorong dengan perlahan tubuh sang istri ke tempat tidur. Tautan bibir tak dilepaskan begitu saja, seolah tak mau melepaskan sedikit pun kenikmatan yang ada.
Neta yang memakai gaun kancing depan membuat Dathan mudah untuk membukanya. Sambil menyesap manisnya bibir sang istri, dia menyingkirkan apa yang melekat di tubuh sang istri.
Dathan melepaskan tautan bibirnya. Beralih membuka apa yang melekat di tubuhnya. Melihat sang istri yang jauh lebih berisi dari sebelum menikah, membuat Dathan terkagum. Dia suka bentuk badan sang istri yang sekarang.
Dathan kembali mendaratkan bibirnya. Tangannya bergerilya ke tempat-tempat favorite-nya. Sentuhan itu pun membuat tubuh Neta menggeliat. Mengeluarkan suara indah di sela-sela ciumannya.
Malam ini keduanya melepaskan rindu dengan sentuhan. Mencari kenikmatan dalam setiap sentuhan yang diberikan. Suara indah yang saling bersahutan pun mengisi keheningan kamar. Menjadi saksi seberapa besar mereka menikmati pertemuan dua tubuh itu.
__ADS_1