Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Kenapa Menyalahkan Aku?


__ADS_3

Neta memasang dasi kerah kemeja sang suami dengan terburu-buru. Sang suami membuatnya berlama-lama di kamar mandi. Hingga membuatnya justru kehilangan banyak waktu untuk bersiap. Di saat Neta sedang panik seperti ini, Dathan masih saja bercanda. Dia mendaratkan kecupan bertubi-tubi di pipi sang istri. Menggodanya karena sedari tadi sang istri tampak serius sekali memasang dasi.


“Sayang, tolong diamlah. Kita harus buru-buru.” Neta menghentikan aksi sang suami. Jika terus-terus seperti itu, tentu saja akan membuatnya terlambat.


“Jika kamu tidak mengajakku berlama-lama di kamar mandi, tentu saja itu akan membuat kita tidak akan buru-buru seperti ini.” Kalimat yang keluar dari mulut Neta jelas adalah tuduhan untuk sang suami.


“Kamu yang salah, kenapa menyalahkan aku?” Dengan polos Dathan mengelak tuduhan sang istri. Dia tidak mau disalahkan sendiri


Neta menyesali keputusannya yang menggoda sang suami. Karena alhasil dirinyalah yang rugi. Harus buru-buru seperti ini.


“Aku tidak akan melakukannya lagi.” Tahu jika akan sulit sendiri, Neta memilih untuk tidak akan melakukannya.


“Tapi, aku suka.” Dathan mendaratkan kecupan di pipi Neta. “Aku mau kamu menggodaku.” Satu kecupan mendarat di pipi lagi. “Aku mau kamu sedikit nakal.” Kali ini suara Dathan berbisik. Ditambah sebuah kecupan kembali.


Pipi Neta merona. Malu jika diminta seperti itu. Tapi, jika suaminya suka tentu saja dia akan melakukannya.


“Sudah.” Neta akhirnya selesai juga memakaikan dasi. Dia merasa senang ketika akhirnya selesai memakaikan dasi sang suami. Sejak tadi sang suami tak henti menciumnya hingga membuatnya kesulitan.


“Ayo kita sarapan kalau begitu.” Dathan menarik tangan sang istri untuk ke ruang makan. Menikmati sarapannya.


...****************...


Dathan mengantarkan Neta ke kantor. Neta masih harus bekerja tiga minggu lagi. Jadi tentu saja mereka harus bersabar.


“Nanti siang, aku akan menjemputmu untuk makan siang.” Sebelum sang istri keluar Dathan memberitahu rencananya.


“Baiklah.” Neta mengangguk. “Aku pergi dulu.” Neta meraih tangan Dathan. Mendaratkan kecupan di punggung pria yang kini jadi suaminya itu.


Dathan langsung mendaratkan kecupan di dahi sang istri ketika kepala Neta sedikit menunduk untuk mencium punggung tangannya.


Neta segera keluar dari mobil. Saat mobil Dathan mulai meninggalkan lobi kantor, dia segera masuk ke kantor. Senyum Neta begitu lebar sekali. Dia teramat senang sekali. Mengingat ini hari pertamanya kerja setelah seminggu penuh berlibur.


“Neta.”

__ADS_1


Suara seseorang terdengar, hal itu membuat Neta menoleh ke belakang. Ternyata Marialah yang ada di sana.


“Hai.” Neta menyambut Maria dengan senang. Langsung menautkan pipi pada Maria.


“Pengantin baru. Wajahnya ceria.” Maria menggoda temannya itu.


“Kamu.” Neta malu-malu.


“Bagaimana malam pertama?” Maria penasaran dengan yang terjadi pada temannya.


Pipi Neta semakin merona. Dia merasa malu ketika membahas hal intim itu. Tentu saja dia tidak akan menceritakan. Karena akan menyimpannya untuk dirinya sendiri.


“Ini oleh-oleh untukmu.” Alih-alih menjawab pertanyaan Maria, Neta justru memberikan paper bag berisi oleh-oleh. Itu agar sang teman berhenti membahas malam pertama.


“Wah ... aku dapat oleh-oleh.” Maria begitu antusias sekali. Karena itu dia senang sekali ketika mendapat oleh-oleh. Dia pun lupa menanyakan pertanyaannya tadi.


“Ayo.” Neta merangkul Maria. Mengajak temannya itu untuk masuk ke ruangannya.


...****************...


Neta mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk. Saat ada suara Adriel yang terdengar, barulah Neta masuk.


“Kamu, Ta.” Adriel tersenyum melihat Neta yang masuk. Tadi dia sudah melihat Neta datang, tetapi belum sempat menyapa.


Neta masuk ke ruangan Adriel. “Aku hanya mau memberikan ini.” Neta menyerahkan paper bag berisi oleh-oleh untuk Adriel.


Adriel melihat paper bag yang diberikan Neta. Tidak disangka dirinya akan dapat oleh-oleh juga. “Terima kasih.” Mendapatkan oleh-oleh dari Neta, tentu saja itu membuatnya senang.


“Aku dengar Kak Adriel ke rumah Arriel saat kami tidak ada?” Neta memastikan info yang didapatnya dari Reno. Ingin dengar dari Adriel sendiri.


“Iya, karena waktu itu Lolo minta Liam untuk datang.”


Neta mengangguk-anggukan kepalanya. Mengerti yang dijelaskan Neta. “Terima kasih sudah mau menuruti Cinta.” Dia merasa senang ada orang-orang baik ketika dirinya dan Dathan pergi.

__ADS_1


“Sama-sama.” Adriel merasa tidak hanya Loveta dan Liam yang diuntungkan dengan pertemuan kemarin. Dirinya juga tak kalah diuntungkan juga. Bisa bertemu dengan Arriel yang begitu cantik.


“Baiklah, aku mau makan siang dulu.” Neta berpamitan.


“Pergilah.” Adriel mengangguk sambil mengizinkan Neta untuk pergi.


Neta segera ke lobi. Dia yakin jika sang suami sudah menunggunya di sana. Dia akan makan siang bersama sang suami di restoran dekat kantor. Itu agar Neta tidak terlambat masuk ke kantor lagi setelah istirahat.


...****************...


Siang tadi Neta dan Dathan sudah berencana untuk menjemput Loveta. Mereka menjemput Lovata di apartemen Arriel. Sebenarnya, Dathan bisa menjemput anaknya tadi siang, tetapi karena Neta ingin ikut menjemput, terpaksa mereka menjemput sore hari sepulang dari kantor.


Di depan apartemen Arriel, Dathan menekan bel. Menunggu sesaat pemilik apartemen keluar.


Saat pintu terbuka, seoarang anak kecil langsung berlari memeluk Dathan. Loveta yang melihat dari lubang pintu melihat jika yang datang adalah papanya. Jadi dia langsung memeluk.


“Papa.” Loveta begitu senang bertemu dengan sang papa. Seminggu tidak bertemu tentu saja membuatnya rindu.


“Anak Papa.” Dathan segera mengendong anaknya. Mendaratkan kecupan di pipi sang anak. Hingga membuat Loveta tertawa geli.


Loveta beralih melihat Neta di samping papanya. Dia memiringkan tubuhnya hingga membuat Dathan mendekatkan tubuh anaknya ke sang istri.


“Mami.” Loveta memeluk Neta erat.


“Cinta, Mami rindu.” Neta memeluk dan mendaratkan kecupan di pipi sang anak. Seminggu tidak bertemu memang berat untuknya.


“Lolo juga rindu.” Loveta tersenyum senang.


Mereka bertiga begitu bahagia saat bertemu. Hal itu tidak lepas dari penglihatan Arriel. Mereka bertiga tampak seperti keluarga bahagia. Tentu saja membuat Arriel sedikit iri.


“Ayo masuk.”


Suara Arriel terdengar memecah keseruan yang sedang terjadi. Neta pun segera melepaskan pelukan dari Loveta, sedangkan Dathan menegakkan tubuh anaknya. Mereka segera masuk seperti yang diminta oleh Arriel.

__ADS_1


Neta, Dathan, dan Loveta duduk di sofa ruang tamu. Loveta menceritakan keseruan selama tinggal di rumah sang mama. Dathan merasa senang, karena perlahan Loveta mulai nyaman dengan Arriel. Seperti yang diminta oleh Arriel kala itu.


Arriel yang di dapur mendengarkan cerita sang anak pun merasa senang. Ternyata anaknya benar-benar senang tinggal dengannya. Jadi bukan hanya sekadar ucapan saja.


__ADS_2