
Waktu bergulir dengan cepatnya. Pernikahan Dathan dan Neta tinggal dua hari lagi. Neta memang tidak memberitahu siapa-siapa tentang pernikahannya. Temannya adalah wartawan, jadi dia tidak mau membuat mereka tiba-tiba punya bahan gosip untuk disebarkan. Neta hanya mengundang orang-orang yang bisa menjaga kerahasiaanya. Dathan adalah orang yang tidak suka kehidupannya diekspos. Jadi Neta harus menghargainya.
“Minggu kamu menikah, tetapi masih saja bekerja hari ini.” Maria berbisik pada Neta. Ini hari jumat, harusnya Neta memilih untuk tidak usah masuk kerja saja, tetapi gadis itu tetap masuk.
“Aku masih masuk karena aku mau ambil cuti panjang setelah menikah. Mau menikmati bulan madu.” Neta kembali berbisik. Senang menggoda temannya itu.
Maria mencibirkan bibirnya. Merasa kesal karena temannya itu seolah meledeknya. Dia merasa iri dengan Neta yang akhirnya bahagia. Dia berharap nanti bersama dengan Martin dia akan merasakan bahagia juga.
Neta yang melihat Maria kesal pun hanya tersenyum saja. Dia memang sengaja mengambil cuti setelah menikah. Dia mengambil lima hari cuti. Jadi dia akan masuk minggu depan lagi.
“Kamu sudah ajukan pengunduran diri?” Maria memastikan kembali. Kemarin, temannya itu membuat surat pengunduran diri, jadi dia ingin memastikan kembali.
“Sudah, tetapi Kak Adriel belum memberikan jawaban.” Neta masih menunggu keputusan Adriel. Mungkin Adriel harus mengecek beberapa hal dulu sebelum menandatangani.
“Neta.” Seorang teman memanggil Neta di saat Neta sedang asyik berbisik-bisik dengan Maria.
Neta mengalihkan pandangannya. Melihat temannya yang memanggilnya itu. “Apa?” tanya Neta menatap sang teman.
“Pak Adriel memanggilmu.”
Neta memikirkan pasti Adriel memanggilnya untuk urusan surat pengunduran dirinya. Karena itu Neta segera berdiri. Mengayunkan langkahnya ke ruangan Adriel. Sebelum masuk, dia mengetuk pintu terlebih dulu. Barulah dia masuk ruangan atasannya itu. Saat masuk, dia melihat Adriel yang sedang membaca sesuatu.
__ADS_1
Adriel mengalihkan pandangan pada Neta. “Duduk, Ta.” Dia memberikannya perintah.
Neta segera mengayunkan langkahnya masuk ke ruangan Adriel. Duduk tepat di kursi yang berada di depan meja atasannya itu. Dia menunggu Adriel yang akan berbicara dengannya.
“Aku sudah baca surat pengunduran dirimu.” Adriel menatap Neta. “Aku juga sudah mengecek kontrak kerjamu. Kontrak kerjamu akan berakhir bulan depan. Jadi sepertinya aku tidak bisa menerima surat pengunduran dirimu sekarang.” Setelah menimbang, Adriel mau Neta menyelesaikan kontraknya.
“Jadi aku harus bekerja sebulan lagi?” Neta memastikan kembali.
“Iya, Ta. Kamu sudah bekerja di sini selama dua tahun. Jadi akan ada pesangon yang kamu akan dapat jika sesuai kontrak. Jadi aku mau kamu menyetujuinya untuk bekerja sebulan lagi. Lagi pula tidak bisa dibilang sebulan, karena kamu ambil cuti seminggu.” Adriel mencoba meyakinkan Neta kembali.
Neta sebenarnya sudah menduga jika ini akan terjadi. Mengingat jika memang kontraknya masih sebulan. Dia pikir Adriel akan menyetujuinya.
“Jangan seperti itu.” Neta merasa tidak enak. Kesannya uang pesangon tidak berarti untuknya.
Adriel tersenyum. “Aku memberikanmu kesempatan untuk bicara dengan calon suamimu.”
“Aku akan bicarakan dengan Dathan.” Neta mengangguk. Dia akan bicarakan ini dengan Dathan nanti. Karena keputusan mengundurkan diri adalah keputusan bersama. Jadi dia tetap harus menanyakan perihal ini.
Setelah urusannya di ruangan Adriel selesai, Neta memilih untuk segera keluar dari ruangan Adriel.
...****************...
__ADS_1
Sore ini Dathan menjemput Neta. Dathan bisa pergi dengan tenang karena Loveta ada di hotel bersama Reno dan Rifa. Mereka sudah berada di sana sejak pagi. Mengingat acara pernikahan akan diadakan lusa. Tadi pagi Dathan juga sudah membawa barang-barang yang diperlukan untuk pernikahan. Jadi besok mereka akan jauh lebih tenang.
“Harusnya aku kita tidak bertemu seperti ini menjelang pernikahan.” Di dalam perjalanan, Neta menggoda Dathan.
“Tidak bertemu kamu sehari saja aku sudah seperti orang gila, bagaimana tidak bertemu berhari-hari? Tidak bisa.” Dathan langsung dengan tegas menjawab.
Neta hanya tersenyum. Dia merasa lucu jika Dathan marah seperti itu. Saat mengobrol dengan Dathan, Neta teringat dengan apa yang tadi siang dikatakan oleh Adriel. Jadi dia akan menyampaikan langsung pada Dathan.
“Sayang, aku sudah mengajukan surat pengunduran diri, tapi Kak Adriel minta aku untuk menyelesaikan kontrak yang memang selesai satu bulan lagi.” Neta menatap Dathan yang sedang fokus pada jalanan didepannya.
Dathan menoleh sejenak pada Neta. Dia sadar jika sebuah pekerjaan memang harus diselesaikan sesuai waktu. Terkecuali memang bermasalah. Dia adalah CEO. Jadi mengerti sekali posisi Adriel.
“Hanya sebulan ‘kan?” Dathan memastikan kembali.
“Iya, hanya sebulan.”
“Baiklah, kamu boleh tetap kerja. Hanya sebulan saja. Setelah itu aku mau kamu di rumah. Aku mau dapat sensasi cepat-cepat pulang untuk bertemu dengan istriku.” Dathan tersenyum.
“Aku janji sebulan saja. Setelah itu aku akan di rumah.” Neta senang Dathan mengizinkan. Jika sudah seperti ini, dia akan jauh lebih tenang. Lagi pula, sebulan sudah terpotong cutinya seminggu. Jadi sisa tiga minggu. Tiga minggu pasti tidak akan lama.
Mobil sampai di kos Neta. Neta segera turun dan menuju ke kamar kosnya. Dia dan Dathan memasukkan barang-barang yang akan dibawanya ke hotel. Mereka sudah sepakat akan menginap di hotel. Itu di lakukan agar jauh lebih tenang, karena mereka masih punya waktu untuk hari pernikahan lusa.
__ADS_1