
Suara bel terdengar mengisi keheningan apartemen. Arriel yang sedang sibuk membuat puding bersama Loveta mengalihkan pandangan pada suara tersebut.
“Pasti Kak Liam.” Loveta berseru. Senyum manis gadis kecil itu menghiasi wajahnya. Begitu bersemangat sekali ketika mendengar suara tersebut.
Arriel tersenyum sambil segera bergegas untuk membuka pintu. Loveta yang berjalan di sampingnya terus meloncat-loncat senang ketika menduga jika Liam dan Adriel yang akan datang.
Arriel yang membuka pintu melihat dua pria di depan pintu. Satu pria dewasa dan satu pria kecil. Siapa lagi jika bukan Adriel dan Liam. Dua pria itu benar-benar datang ke apartemen.
“Halo, Lolo.” Adriel menyapa Loveta.
“Halo, Uncle Adriel.” Loveta menyapa dengan sopan. Dia kemudian beralih pada Liam yang berdiri di sebelah Adriel. “Halo, Kak Liam.” Dia melambaikan tangan pada Liam.
“Halo, Lolo.” Liam tersenyum. Menyapa Loveta. “Halo, Aunty.” Dia beralih menyapa.
“Halo, Liam.” Arriel menyapa pria kecil yang berusia sepuluh tahun itu. Dia kemudian beralih ke Adriel. “Terima kasih sudah mengantarkan Liam ke sini.” Sebenarnya, Arriel merasa tidak enak. Gara-gara keinginan anaknya, Adriel harus mengantarkan Liam ke rumahnya.
“Tidak masalah. Siapa tahu dengan adanya Liam, Lolo tidak bosan, mengingat Pak Dathan dan Neta masih pergi bulan madu.” Adriel tersenyum. Dirinya sendiri juga tidak tahu kenapa. Saat Loveta meminta untuk membawa Liam, dia dengan mudahnya langsung mengiyakan. Mungkin karena rasa sayangnya pada anak-anak membuatnya tidak tega untuk menolak.
“Ayo masuk.” Arriel melebarkan pintu untuk membuat Adriel dan Liam masuk lebih dalam.
Adriel dan Liam masuk ke apartemen.
Saat melihat dua orang tersebut masuk, Arriel segera mengarahkan dua orang tersbeuu menuju ke ruang tamu. Terdapat sofa empuk berwarna cream yang tampak cantik. Senada dengan gorden yang terpajang.
“Ayo silakan duduk.” Arriel dengan sopan memberitahu dua tamunya.
“Terima kasih.” Adriel tersenyum.
__ADS_1
Adriel dan Liam mendudukkan tubuhnya ke sofa empuk yang dimiliki oleh Arriel. Loveta yang berada di sana juga langsung ikut untuk duduk tepat di depan Liam. Melihat pria tampan itu.
Arriel segera berlalu ke dapur. Membuatkan minuman untuk dua tamunya. Kebetulan memang dia sudah menyiapkan semua. Jadi wajar saja jika dia cepat sekali membuatnya. Kemudian menyajikan pada tamunya.
“Ayo silakan diminum.” Arriel meletakan minuman dingin di atas meja.
“Terima kasih.” Untuk menghargai pemilik rumah, Adriel mengambil minuman yang disajikan. Dia juga meminta Liam untuk juga ikut meminum minumannya.
“Mama-mama. Ayo ambil puding buatan kita.” Loveta begitu bersemangat. Dia berdiri dan segera menarik tangan sang mama. Mengajak sang mama untuk mengambil makanan yang tadi dibuatnya.
Arriel menuruti saja apa yang diminta sang anak. Bersama sang anak, dia mengambil puding yang dibuat bersama untuk disuguhkan pada Adriel dan Liam. Tidak hanya puding. Beberapa makanan ringan yang dibeli Lovate dan Arriel juga disuguhkan untuk mereka.
“Ini buatan aku.” Dengan bangganya Loveta menceritakan akan hal itu.
“Wah … repot-repot sekali sampai dibuatkan puding.” Adriel justru merasa tidak enak. Dia datang sudah disuguhi banyak makanan.
Adriel tersenyum. “Memang kegiatan bersama anak-anak selalu saja seru.” Dia membenarkan yang dikatakan Arriel. Mereka punya waktu bersama.
“Iya, memang seru.” Arriel membenarkan apa yang dikatakan oleh Arriel.
Adriel dan Liam memakan puding yang dibuat oleh Arriel dan Loveta. Puding coklat dengan fla yang begitu manis. Begitu enak sekali. Pas manisnya.
Mereka berempat menikmati makanan bersama. Liam dan Loveta begitu senang sekali Mereka menikmati mengobrol bersama. Liam bercerita tentang tadi bagaimana dirinya bisa bersama. Puas menikmati makanan Lovate mengajak Liam untuk menggambar bersama. Loveta ingin menunjukan bagaimana dirinya menggambar.
“Kak Liam, lihat gambar Lolo.” Loveta menunjukan gambarnya.
“Wah … Lolo pandai sekali menggambar.” Liam jelas melihat Loveta pandai menggambar. Untuk usia yang jauh lebih muda dari dirinya, tetapi lebih jago dibanding dirinya. Tentu saja itu membuat Liam kagum.
__ADS_1
“Iya, Lolo pandai menggambar.” Arriel memang menurunkan kepandaian itu pada Loveta. Jadi wajar saja jika anaknya pandai menggambar.
“Lolo pandai menggambar.” Adriel menatap Arriel. Memuji Loveta.
“Iya, Lolo sepertinya menuruni hobiku.” Arriel menjelaskan apa yang dilakukannya.
“Kamu designer?” Adriel merasa ingin tahu.
“Iya, aku designer perhiasan.” Arriel menjelaskan pekerjaanya.
“Oh ….” Seketika Adriel merasa minder. Ternyata wanita di depannya adalah seorang pengusaha perhiasan. Jika dibanding dirinya, tentu saja tidak ada apa-apa. Untuk sekadar berteman saja, rasanya Adriel tidak berani. Tentu kali ini, dia memilih untuk sebatas mengantarkan Liam saja.
“Kamu sendiri?” Arriel menatap penuh rasa penasaran. Dia ingin tahu pekerjaan pria di depannya.
“Aku hanya seorang manager redaksi saja.” Malu-malu Adriel menjawab.
“Jadi kamu dan Neta satu kantor?” Arriel justru tidak tertarik dengan apa jabatan Adriel. Lebih tertarik menanyakan yang lain.
“Iya, aku satu kantor dengan Neta.” Adriel tersenyum.
“Aku dulu anti sekali dengan wartawan.” Arriel mencoba menceritakan sedikit tentang dirinya.
“Kenapa?” Adriel penasaran sekali.
“Karena selalu saja ada gosip yang tidak benar.” Arriel berkali-kali mendapatkan gosip-gosip. Apalagi ketika ada artis-artis yang pesan perhiasan dengannya. Dulu sewaktu menikah dengan Dathan pun juga sempat heboh perceraiannya.
“Sayangnya, aku bukan wartawan gosip.” Adriel hanya tersenyum.
__ADS_1
Keduanya mengobrol. Adriel menceritakan bagaimana pekerjaan. Hanya mencari berita-berita tentang bisnis. Mencontohkan Dathan yang diwawancara oleh Neta. Arriel yang mendengar cerita Adriel pun mulai paham. Mengerti kenapa Dathan yang sama seperti dirinya anti wartawan, akhirnya bisa luluh juga. Itu karena tugas mereka yang berbeda-beda. Jadi Neta dan Adriel adalah satu dari orang yang mencari berita tentang bisnis.