Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Hadirlah Serigala


__ADS_3

“Bu Rania sudah pulang karena ada serigala.” Neta menjawab sambil melirik malas pada Dathan.


Rifa merasa bingung ketika Neta mengatakan tentang serigala. Dia menatap suaminya. Sang suami hanya tersenyum saja. Mengerti apa maksud dari Neta.


“Memang di sini ada serigala, Aunty?” tanya Loveta yang mendengar ucapan.


Neta bingung ketika harus menjawab. Dia lupa jika ada anak-anak yang mendengar ucapannya. “Ada tadi, hanya saja sudah pergi, Cinta.” Dia membelai lembut.


“Lolo takut.” Loveta menarikkan bahunya. Dia merasa begitu takut ketika ada hewan buas di hotel.


“Tidak perlu takut, Cinta.” Dathan ikut membelai Loveta. Tanpa sengaja dia menyentuh tangan Neta yang juga sedang asyik membelai rambut Loveta. Neta pun dengan cepat menjauhkan tangannya. Hal itu membuat Dathan hanya tersenyum. “Apa kamu tahu, Cinta. Serigala adalah hewan monogami, dia akan setia pada satu pasangan sampai akhir hidupnya. Jadi serigala adalah hewan yang paling setia pada pasangannya.” Sengaja Dathan memberikan penjelasan itu pada Cinta, agar didengar oleh Neta.


Neta hanya melirik dari Dathan. Niatnya meledek justru disuguhi bagaimana sifat serigala.


“Tetap saja mereka buas.” Neta yang kesal pun mengomentari apa yang dikatakan Dathan.


“Mereka hanya akan buas saat ada mangsa dan musuh.” Dathan mencoba membela diri.


Neta melihat jelas Dathan yang tidak mau kalah. Akhirnya, dia pun memilih untuk diam saja. Tak menanggapi ucapan Dathan.


“Setelah buaya mati, hadirlah serigala.” Reno yang mendengar pembicaraan tadi pun bergumam sendiri. Merasa lucu dengan obrolan dari Neta dan Dathan.


Neta memilih beralih untuk mengobrol dengan Rifa, Loveta, dan Richa. Loveta dan Richa begitu antusias menceritakan bagaimana tadi mereka bermain di playground. Di sini, Neta juga mendapat cerita jika ternyata Reno adalah suami dari Rifa. Ternyata keduanya adalah teman Dathan selama sekolah dulu. Mereka asyik mengobrol. Tawa Loveta sesekali terdengar ketika Neta menggelitik gemas.


“Aunty Neta nanti menginap di sini saja.” Loveta yang sedang bercerita menatap Neta. “Nanti bobok sama Lolo.” Dengan polosnya dia mengungkapkan keinginannya.


Neta yang mendengar ucapan Loveta bingung. Dia tidak bisa menginap di hotel. Lagi pula sayang bukan jika menghamburkan uang untuk menginap di hotel.


“Wah ... Lolo sedang memberikan peluang pada papanya.” Reno menggoda Dathan dengan suara rendah. Berharap suaranya tidak terdengar oleh Neta.


Dathan tersenyum. Dia merasa sang anak begitu pintar sekali. Tanpa dia meminta, anaknya berusaha membuat Neta tetap berada di hotel.


“Aunty tidak bisa, Cinta. Aunty harus pulang.” Neta memberikan pengertian.

__ADS_1


Loveta tampak kecewa ketika Neta mengatakan hal itu. Dia ingin berlama-lama dengan Neta.


“Aunty Neta tidak bawa baju, jadi tidak bisa menginap. Lain kali Aunty Neta akan bawa baju dan ikut Cinta menginap.” Dathan membelai rambut anaknya dari belakang. Memberikan pengertian pada sang anak.


Neta mengalihkan pandangan pada Dathan. Bisa-bisanya pria itu memberikan janji pada anaknya, dan lagi tanpa seizinnya. Neta pantang berjanji pada anak-anak. Dia merasa sedih saat tidak bisa menepati.


“Bukan begitu Aunty Neta?” Dathan tersenyum manis pada Neta. Seolah tanpa dosa dia baru saja melakukan kesalahan.


“Iya.” Neta tidak tega jika harus menolak. Jadi tentu saja dia lebih memilih mengiyakan saja. Dari pada urusannya jadi panjang.


“Baiklah, Lolo tunggu Aunty Neta bobok di hotel.”


Reno hanya senyum saja melihat aksi temannya. Susah memang jika duda baru lepas dari kandang. Jika melihat mangsa, pastinya tidak akan dilepas.


“Kalau begitu sekarang Lolo kembali ke kamar. Karena sudah malam. Besok pagi kita akan berenang bersama.” Rifa yang melihat Loveta sudah mengantuk pun memilih untuk mengajak Loveta ke kamarnya.


“Aunty mau antar ke kamar?” Loveta mengalihkan pandangan pada Neta setelah dia menatap Rifa yang mengajaknya bicara.


Loveta yang sedang berdiri. Saat berdiri rok yang dipakai Neta tersingkap. Karena gerakan tubuh Loveta. Dathan yang kebetulan melihat hanya bisa menelan salivanya. Paha mulus nan putih itu sekilas menjadi pemandangan indah baginya. Beruntung Neta langsung berdiri. Jadi pemandangan itu segera berakhir.


Loveta menggandeng Neta ke kamar hotel. Sepanjang jalan dia menceritakan banyak keseruan yang dilakukannya. Neta menanggapi dengan begitu antusias. Dia memang senang mendengarkan cerita dari anak-anak. Termasuk anak-anak di panti asuhan.


Di dalam lift pun, Loveta terus saja bercerita. Sesekali Richa menimpali cerita dari Loveta. Obrolan pun tampak begitu seru sekali


Dathan memerhatikan dengan jelas keceriaan anaknya. Apalagi bagaimana Neta menanggapi membuat hatinya menghangat.


“Sepertinya akan jadi calon ibu.” Reno yang berdiri di samping Dathan berbicara dengan setengah berbisik. Dia menggoda temannya itu. Dia tahu pasti jika memang Neta adalah kriteria yang cocok untuk Dathan.


“Aku merasa begitu.” Sejak awal dia melihat Neta, memang dia yakin Neta adalah orang yang begitu penyayang. Jadi dia yakin dia wanita yang cocok menjadi ibu untuk Loveta, sekaligus istrinya.


“Kamu bukan anak muda lagi. Cepatlah bertindak. Jangan sampai anakku sudah menikah, kamu belum menikah.” Reno tertawa. Dia merasa Dathan terlalu tua jika terus menunggu.


“Astaga, apa kamu akan menikahkan Richa di umur yang muda?” Dathan tidak habis pikir, temannya itu sudah berpikir menikahkan anaknya. Padahal anaknya baru lima belas tahun.

__ADS_1


“Kalau dia siap kenapa tidak.” Reno tertawa.


“Yang ada kamu jadi kakek dan aku masih punya anak.” Dathan mencibir temannya itu.


“Bagus itu. Bagaimana jika kita jodohkan saja? Jika drama menikahkan anak sudah biasa. Kita ganti saja. Cucukku menikah dengan anakmu.” Reno hanya tertawa geli membayangkan itu.


Dathan hanya menggeleng heran dengan ide absurd dari temannya itu.


Tawa Reno itu membuat Rifa menoleh.


“Kalian tertawa kenapa?” tanyanya ingin tahu.


Neta yang mendengar Rifa berbicara pada Dathan dan Reno, ikut menoleh. Dia juga ikut penasaran dengan yang dibicarakan.


“Tidak apa-apa.” Reno tersenyum.


Lift terbuka. Mereka semua keluar dari dalam lift. Menuju ke kamar yang mereka tinggali.


Tepat di depan pintu kamar, Neta membungkukkan tubuhnya. Membuat wajahnya berada tepat di depan wajah Loveta. “Sekarang Cinta bobok dulu dengan Aunty Rifa.” Neta membelai lembut rambut Loveta. “Jangan lupa berdoa.” Dia tersenyum manis.


“Baik, Aunty.” Loveta memberikan satu kecupan untuk Neta.


Kecupan itu membuat Neta tersenyum. Dia pun membelas kecupan Loveta. “Selamat tidur, Cinta,” ucapnya seraya menegakkan tubuhnya.


Melihat anaknya mendapatkan kecupan membuat Dathan iri. Belum apa-apa anaknya sudah dapat kecupan dari Neta lebih dulu. Ini namanya, dia yang berharap, anaknya yang dapat.


“Cinta, Papa antar Aunty Neta dulu. Cinta langsung tidur.” Dathan menatap sang anak dan membelai lembut rambut Loveta.


Loveta mengangguk. Tanda dia mendengarkan apa yang dikatakan sang papa.


Neta yang mendengar ucapan Dathan menatap dengan tajam. Rasanya dia malas sekali jika Dathan harus mengantarkannya.


“Tidak perlu repot-repot mengantarkan, Pak.” Neta langsung menolak keras apa yang akan dilakukan Dathan.

__ADS_1


__ADS_2