
“Aku juga merindukanmu.” Malu-malu Neta menjawab.
“Senang mendengarnya.” Dathan tertawa.
“Baiklah, aku harus lanjut bekerja.” Neta pun segera mengakhiri teleponnya. Jam istirahat telah berakhir, jadi dia harus segera memulai bekerja.
“Baiklah, sampai jumpa nanti.”
“Sampai jumpa.” Neta segera mematikan sambungan teleponnya.
“Ya Tuhan, beginilah orang jatuh cinta. Dunia serasa milik berdua.” Maria langsung menggoda Neta.
Neta memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Dia terus berjalan ke lift untuk menuju ke ruangannya.
“Seperti kamu tidak saja.” Neta meledek temannya itu. Dia tahu jika temannya juga baru saja menjalin hubungan. Jadi tentu saja dia sedang bahagia seperti dirinya.
“Tapi Martin biasa saja. Aku justru merasa kami seperti berteman saja. Tidak ada bedanya dengan Adriel.” Maria mengomentari kekasihnya.
“Berarti itu nasibmu.” Neta tertawa. Saat pintu lift terbuka, Neta langsung segera masuk. Meninggalkan temannya yang masih di depan lift.
“Sial!” Maria mendengus kesal sambil mengayunkan langkahnya. Dia merasa kesal ketika temannya itu mengatakan hal itu padanya.
...****************...
Dathan bermain dengan Loveta sebelum anaknya itu tidur. Dathan memang selalu menggunakan waktunya dengan baik. Apalagi dia selalu pulang awal. Jadi dia bisa mengajak anaknya bermain di rumah berdua.
“Lolo gambar, Lolo, mama, dan Aunty Neta.” Loveta menunjukkan gambar pada Dathan.
Dathan memerhatikan anaknya. Dia jelas melihat jika Neta sudah berada di sisi anaknya. Artinya anaknya sudah merasa nyaman dengan Neta. Namun, tidak dipungkiri oleh Dathan, jika tempat mantan istrinya tetaplah di samping anaknya. Artinya Loveta begitu menyayangi mamanya.
“Cinta suka Aunty Neta?” Dathan melempar pertanyaan itu pada anaknya.
“Lolo suka sekali.” Loveta tersenyum.
__ADS_1
“Jika Aunty tinggal di sini bersama Cinta, apa Cinta mau?” Dathan mencoba menarik pembicaraan dengan Loveta.
Loveta tampak berpikir. “Memang Aunty Neta tidak punya rumah?” Pertanyaan itu yang justru dilemparkan oleh Loveta. “Mama punya rumah.” Dia justru membahas sang mama yang punya rumah sendiri. Di mata Loveta, papa dan mamanya memang tinggal terpisah karena mereka punya dua rumah. Jadi mereka harus menjaga rumah masing-masing.
Dathan bingung ketika mendapati pertanyaan anaknya. “Aunty Neta punya rumah, hanya saja dia tinggal di sini bersama-sama kita, agar dia bisa menemani Cinta bermain dan belajar.” Dathan mencoba menjelaskan sesuatu yang sederhana.
Loveta tampak berpikir. “Mau.” Loveta tersenyum. Dia langsung setuju ketika mendapatkan pertanyaan dari sang papa.
Dathan sedikit bernapas lega. Akhirnya anaknya itu bisa menerima Neta pelan-pelan. Setelah ini, dia akan menjelaskan posisi dirinya dan mantan istrinya pada Loveta. Agar Loveta bisa menerima Neta sepenuhnya sebagai ibu. Dathan tidak bisa terburu-buru. Karena anak-anak tidak bisa dipaksa.
“Baiklah, sekarang waktunya tidur.” Dathan mulai merapikan alat pensil Loveta.
“Siap.” Loveta ikut merapikan buku gambarnya. Bersama dengan sang papa, dia merapikan buku ke raknya. Tak lupa dia mengambil buku cerita. Kemudian memberikan pada sang papa.
Dathan segera menerima buku cerita. Kemudian naik ke atas tempat tidur untuk tidur di sebelah anaknya. Dia membaca buku cerita yang dibawanya.
Loveta mendengarkan dengan saksama. Perlahan dia tidur. Tak butuh waktu lama, gadis kecil itu terlelap. Dathan segera menutup bukunya ketika anaknya tidur.
Dathan segera keluar dari kamar anaknya. Dia mencari asisten rumah tangga. Ingin menitipkan anaknya pada asisten rumah tangga. Namun, dia melihat asisten rumah tangga sedang membuka pintu. Dathan merasa heran siapa gerangan yang bertamu malam-malam.
Dathan yang di dalam mendengar panggilan itu seketika tahu siapa yang datang. Siapa lagi jika bukan mantan istrinya.
“Apa Pak Dathan dan Lolo sudah tidur?” Arriel bertanya. Wanita yang memiliki nama Arriela Mahya itu langsung melemparkan pertanyaan pada asisten rumah tangga.
“Pak Dathan sedang menemani Non Lolo tidur, Nyonya.” Asisten rumah tangga menjawab pertanyaan Arriel.
Dathan menghampiri Arriel yang berada di depan pintu. Dia melihat mantan istrinya itu datang malam-malam. Sebenarnya bukan hal baru Arriel datang malam. Setiap jumat dia sering datang malam-malam. Hanya saja ini bukan hari jumat, jadi tentu saja dia merasa aneh.
“Hai, Than.” Arriel menyapa Dathan.
Asisten rumah tangga langsung berlalu pergi saat melihat Dathan datang. Membiarkan majikannya berbicara lebih leluasa.
Dathan masih memerhatikan mantan istrinya. Tampak mantan istrinya itu datang dengan masih memakai baju hangat ditambah membawa koper. Dathan yakin mantan istrinya itu baru saja sampai di Indonesia.
__ADS_1
“Kamu kenapa tumben malam-malam ke sini?” Walaupun Dathan sudah tahu istrinya dari mana, tetap saja dia bertanya.
“Aku baru saja sampai, aku mau bertemu dengan Lolo. Jadi aku ke sini.” Arriel begitu bersemangat sekali untuk bertemu dengan anaknya. Dia merindukan anaknya karena sudah hampir dua minggu dia tidak bertemu.
Dathan menelisik lebih dalam. Sejak setahun ini, mantan istrinya itu memang jauh lebih perhatian dengan anaknya, dibanding ketika anaknya masih kecil. Namun, tetap saja dia tidak paham kebiasaan anaknya. “Kamu tahu bukan jam seperti ini Cinta tidur.” Dathan hanya menggeleng heran.
“Aku tahu, Than. Hanya saja aku pikir dia baru akan tidur.” Arriel merasa kecewa dengan dirinya sendiri, karena tadi dia sudah berusaha untuk buru-buru ke rumah Dathan.
“Bertemulah besok pagi. Itu pun jika kamu bisa menemuinya.” Dathan menyindir Arriel. Dia merasa pasti mantan istrinya itu tidak akan bisa menemui anaknya di hari kerja.
“Aku akan temui besok, Than.” Arriel berniat untuk bertemu dengan anaknya. Sudah banyak sekali hadiah yang dibelinya. Jadi dia ingin memberikannya langsung.
“Iya sudah temui besok.” Dathan membiarkan mantan istrinya itu untuk menemui anaknya. Lagi pula jarang-jarang Arriel mau menemui di hari kerja.
“Apa aku boleh menginap di sini, Than?” Arriel merasa jika dia pulang akan buang-buang waktu. Jadi tentu saja dia memilih untuk menginap di rumah Dathan.
Dathan mengembuskan napasnya. “Menginaplah.” Dia tidak bisa melarang. Apalagi niat Arriel ingin bertemu Loveta.
“Terima kasih, Than.” Arriel menarik kopernya masuk. Kopernya cukup besar, jadi dia kesulitan untuk menbawanya.
Melihat Arriel kesulitan tak membuat Dathan iba. Dia membiarkan saja mantan istrinya itu kesulitan menarik kopernya yang besar. Dathan justru berbalik dan menuju ke kamarnya. Mengambil baju hangat karena akan menuju ke kos Neta.
Arriel menaruh kopernya di ruang tamu. Dia lelah sekali perjalanan dari Paris-Indonesia. Kepalanya sedikit berdenyut ketika tadi turun dari pesawat.
Sesaat kemudian, asisten rumah tangga menyuguhkan teh hangat untuknya. Saat merasa Arriel masuk, asisten rumah tangga memang memilih untuk segera membuatkan minuman.
“Bibi tahu saja.” Arriel tersenyum.
“Biar lebih enak, Nyonya.” Asisten rumah tangga meletakkan minuman di atas meja.
“Terima kasih.” Arriel meraih cangkir berisi teh. Kemudian menyesap tehnya. Rasanya nyaman sekali ketika menikmati teh hangat. Terasa menenangkan.
Tepat saat dia sedang menikmati tehnya, dia melihat Dathan yang sudah rapi dengan baju hangat. Hal itu membuatnya bingung mau ke mana mantan suaminya itu.
__ADS_1
“Mau ke mana, Than, malam-malam?”