Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Punya Makna


__ADS_3

Mereka melihat seorang pria keluar dari kamar Maria. Pria itu tidak asing bagi Neta. Siapa lagi jika bukan Martin-kekasih Maria. Neta tahu jika temannya belakangan ini juga menjalin hubungan. Jadi wajar pria itu ada di kamar Maria.


“Hai, Ta.” Pria itu menyapa Neta.


“Hai, Martin.” Neta menyapa Martin. “Kamu mau pulang?” tanyanya kembali.


“Iya, aku mau pulang.” Martin menjawab sambil melihat pria yang berada di depan Neta. “Siapa?” Dia menanyakan pada Neta siapa gerangan pria di depannya itu.


“Kenalkan ini Dathan-kekasihku.” Neta memperkenalkan Dathan.


“Hai, aku Martin.” Martin mengulurkan tangannya. Memperkenalkan diri.


Dathan mengulurkan tangan dan menjabat tangan Martin. Dia masih belum tahu, siapa gerangan pria di depannya itu. Namun, karena dia memperkenalkan diri, tentu saja dia ikut memperkenalkan diri. “Dathan.” Dia memperkenalkan diri.


“Ayo.” Tiba-tiba terdengar suara Maria sambil keluar dari kamarnya. Dia terkejut ketika melihat Dathan dan Neta berada di depan kamar. “Kamu sudah pulang?” tanyanya menatap Neta.


“Iya, aku sudah pulang.” Neta membenarkan ucapan Maria. “Kamu mau pergi?” Dia melihat Maria sudah rapi sekali.


“Iya, aku mau pergi sebentar.” Maria membenarkan ucapan dari Neta. “Kalau begitu aku pergi dulu.” Maria langsung berpamitan pada Neta dan Dathan.


Neta dan Dathan menganggukkan kepalanya. Mempersilakan temannya untuk pergi.


Segera Maria dan Martin pergi. Mereka rencananya ingin bertemu salah satu teman mereka. Jadi mereka harus buru-buru. Tidak sempat mengobrol dengan Dathan dan Neta.


Kini tinggal Dathan dan Neta saja berdua. Mereka saling pandang. Tersenyum satu dengan yang lain.


“Siapa dia?” Dathan begitu penasaran dengan pria yang keluar dari kamar Maria.

__ADS_1


“Kekasih Maria.” Neta menjelaskan siapa Martin.


Dathan mengangguk-anggukkan kepalanya. Mengerti yang dijelaskan oleh Neta. “Aku pulang dulu.” Dathan kembali berpamitan. Dia harus segera pulang. Mengingat Loveta ada di rumah Reno.


“Iya.” Neta mengangguk. Dia segera berlalu masuk ke kamarnya lebih dulu. Hari ini menjadi hari bahagianya. Dilamar orang yang dicintai, tentu saja itu yang diharapkan. Dia berharap rencana pernikahannya dengan Dathan berjalan dengan lancar.


Dathan yang melihat sang kekasih sudah masuk, segera berlalu. Dia harus menjemput anaknya dulu di rumah Reno. Barulah dia pulang ke rumahnya.


...****************...


“Itu apa?” Maria melihat Neta yang memakai cincin dengan batu permata yang begitu indah. Dia segera menarik tangan temannya itu untuk melihat lebih jelas.


“Dathan melamarku.” Neta menjelaskan pada temannya apa yang dipakaknya. Cincin itu adalah simbol Dathan yang serius dengannya.


Maria langsung membulatkan matanya. Dia tidak menyangka jika temannya itu akan segera menikah. Ini kabar yang begitu membahagiakan baginya.


“Iya, Dathan akan ke sana, tetapi minggu depan. Kamu tahu ‘kan, kalau minggu ini kita harus ke luar kota.” Neta menjelaskan pada temannya itu.


Maria mengingat jika minggu ini dia akan pergi ke luar kota. Jadi tentu saja Neta tidak bisa mengajak Dathan ke panti.


“Kapan pun kamu butuh bantuan. Katakan saja. Aku akan membantumu.” Maria juga ingin mengambil peran dari kebahagiaannya.


“Jadilah pendamping pengantin saja. Itu sudah cukup.” Neta menepuk lengan sang teman lembut. Dia mau temannya itu menemaninya.


“Tentu saja. Aku akan menjadi pendamping pengantin.” Maria tersenyum.


“Siapa yang mau jadi pendamping pengantin?”

__ADS_1


Tiba-tiba suara pria terdengar di tengah obrolan Neta dan Maria. Neta dan Maria segera mengalihkan pandangannya. Melihat siapa gerangan yang bicara. Tampak Adriel di sana sedang menghampiri mereka.


“Rahasia.” Maria menyeringai. Tidak mau mengatakan apa yang sedang dibahasnya dengan Neta.


Adriel menatap dua temannya itu. Dia tidak mau memaksa Neta dan Maria yang tidak mau menceritakan apa yang mereka bicarakan.


“Ta, ini majalah yang akan keluar besok.” Adriel memberikan majalah yang sudah direvisi. Jadi besok tinggal majalah keluar di pasaran saja.


“Baiklah, nanti aku akan berikan pada Pak Dathan.” Neta menerima majalah yang diberikan oleh Adriel.


Saat memberikan majalah, perhatian Adriel tertuju pada cincin Neta yang terpasang di jari manisnya. Cincin dengan mutiara yang cukup besar membuatnya yakin jika cincin itu pasti punya makna. Adriel mulai memikirkan. Sudah sejauh apa sebenarnya hubungan Neta dan kekasihnya?


“Pak Adriel.” Neta menyadarkan Adriel yang tampak terdiam saja. Majalah juga masih dipegangnya erat dan tidak dilepaskannya.


“Pak Adriel ....” Maria memanggil lebih keras lagi. Membantu Neta yang sedang memanggil.


“Iya.” Adriel tersadar ketika suara Maria terdengar. Tangannya segera melepaskan majalah yang diberikannya pada Neta.


Neta hanya merasa aneh. Kenapa bisa Adriel melamun padahal baru bicara dengannya.


“Berikan itu pada Pak Dathan.”


Neta mengangguk. Nanti dia akan bertemu Dathan. Jadi tentu saja dia akan memberikannya.


Adriel yang selesai dengan urusannya, segera kembali ke ruangannya. Namun, selama perjalanan ke ruangannya, dia masih memikirkan apa yang dilihatnya tadi.


Di ruangannya, Adriel langsung mendudukkan tubuhnya. Dia masih memikirkan cincin yang dipakai Neta.

__ADS_1


“Apa mereka sudah pada tahap serius?” Pertanyaan itu meluncur dari mulut Adriel. Begitu penasaran sekali dengan hubungan Neta dan kekasihnya.


__ADS_2