Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Sudah Berkilau


__ADS_3

“Pak David tidak perlu repot-repot.” Dathan mendorong perhiasan itu pada David kembali. Dia menolakkan untuk Neta. Dia tidak rela jika Neta memakai perhiasan dari pria di depannya itu.


Neta terkesiap. Dia hanya menatap Dathan dengan bingung, ketika melihat pria itu menolakkan perhiasan yang diberikan oleh David. Neta sendiri sebenarnya ingin menolaknya, karena tidak bisa menerima pemberian dari David itu. Akan tetapi, ternyata justru Dathan yang melakukannya lebih dulu.


David merasa tersinggung ketika Dathan menolak perhiasan yang diberikan pada Neta. Dia menatap Neta berharap Neta menerima. Tidak seperti yang dikatakan kekasihnya.


Neta menyadari jika David menatapnya. Dia tahu David menunggu jawabannya. “Saya ucapkan terima kasih sebelumnya atas hadiah ini, tetapi mohon maaf jika saya tidak bisa menerima hadiah ini.” Neta akhirnya mengungkapkan apa yang harus dilakukannya.


“Kenapa kamu tidak mau menerima?” David menatap Neta.


“Karena Neta lebih berkilau dibanding perhiasan ini. Jadi dia tidak perlu memakai perhiasan.” Dathan menjawab sambil menatap Neta penuh damba.


Tatapan Dathan itu membuat Neta terperangah. Bisa-bisanya pria di sampingnya itu mengatakan hal aneh itu. Walaupun tidak dipungkiri hatinya menghangat, tetapi tetap saja gombalan itu tidak pas di waktu sekarang.


David benar-benar merasa bingung sekali dengan ucapan Dathan. Dia memilih untuk menatap Neta kembali. “Ini adalah ucapan terima kasihku karena berita yang dirilis kemarin membuat harga sahamku naik. Aku tidak hanya memberikannya padamu.” David mengambil hadiah yang disiapkan untuk Rania juga. Dia memang menyiapkan dua hadiah. Karena jika diberikan pada salah satu saja, pastinya akan membuat iri yang lainnya. “Ini untuk Bu Rania.” Dia menyodorkan kotak perhiasan pada Rania.


Rania berbinar. Tidak menyangka jika dirinya juga diberikan hadiah. “Pak David juga memberikan pada saya?” Dia memastikan kembali.


“Tentu saja. Berkat kalian saya kembali mendapatkan banyak keuntungan.” David tersenyum. Dampak berita yang dibuat oleh Neta memang banyak. Selain harga saham naik, berita itu membuat citra David membaik.


Rania menatap Neta. Memintanya untuk ikut menerima perhiasan tersebut. Dia juga menatap tajam pada Dathan yang sedang berusaha untuk melarang Neta menerima perhiasan itu.


Neta yang melihat Rania menatapnya, tahu maksud dari Rania. Tatapannya itu adalah perintah untuk menerima perhiasan dari David. Tentu saja mendapatkan perintah itu, dia tidak bisa menolak.


“Kami juga berterima kasih karena Pak David sudah memberikan perhiasan ini untuk kami.” Rania tersenyum. “Bukan begitu, Ta?” tanya Rania memastikan.


“I-iya, Bu.” Neta terpaksa menarik kembali perhiasan yang sudah didorong oleh Dathan.

__ADS_1


Dathan hanya bisa menahan gemuruhnya ketika melihat Neta menerimanya. Dia bisa memberikan Neta puluhan perhiasan, atau bahkan meminta desain khusus untuknya. Namun, Dathan tidak bisa melakukan apa-apa, karena Neta sudah menerimanya.


“Terima kasih Bu Rania dan Neta sudah mau datang untuk makan malam. Maaf karena saya masih ada urusan lagi, jadi tidak bisa berlama-lama.” David berdiri, kemudian mengulurkan tangannya pada Rania.


Kedatangan Dathan memang membuatnya malas berlama-lama. Padahal tadi niatnya dia akan berlama-lama bersama Neta, tetapi karena ada Dathan, dia mengurungkan niatnya itu.


Dathan yang melihat hal itu merasa lega, karena akhirnya David pergi. Jadi paling tidak, Neta sudah bebas dari pria itu.


Mendapatkan uluran tangan Rania segera berdiri. Dia menjabat tangan David. “Sama-sama, Pak. Terima kasih sudah mengundang kami.” Rania tersenyum.


Neta yang melihat orang-orang berdiri pun ikut berdiri. Bersamaan dengan dia yang berdiri, David beralih padanya. Mengulurkan tangan pada Neta.


“Senang bertemu denganmu, Neta. Saya harap kita bisa bertemu lagi.” David tersenyum.


“Tentu saja, Pak. Saya harap kita bisa bertemu lagi.” Neta tersenyum. Dia berusaha menghargai kliennya itu.


Dathan melambaikan tangannya. Dia masih duduk manis di kursinya. Tak sama sekali bergeming ketika David hendak berpamitan.


Kini tinggal, Dathan, Neta, dan Rania saja. Rania yang melihat Neta langsung menatap tajam. Dia benar-benar kesal sekali dengan kehadiran pria di depannya itu.


“Apa kamu tidak bisa memisahkan pekerjaan dengan urusan pribadi, Ta?” Rania langsung meluapkan kekesalannya.


Neta tahu apa yang menjadi alasan manajernya itu marah. Apalagi jika bukan karena Dathan yang datang. “Saya bisa jelaskan, Bu.” Neta berusaha untuk menjelaskan pada manajernya.


“Jelaskan saja besok di kantor. Aku malas mendengarkan penjelasan.” Rania terlalu kesal dengan melihat Dathan.


Neta benar-benar dalam dilema. Gara-gara Dathan, manajernya jadi marah. Dia menoleh ke arah Dathan yang duduk manis. Dia tampak begitu santai sekali. Tak merasa bersalah karena sudah membuat acara makan malam menjadi canggung.

__ADS_1


Rania yang kesal langsung meraih kotak perhiasan miliknya dan memasukkannya ke dalam tasnya. Dia segera berlalu meninggalkan meja makan. Ingin segera pulang untuk menenangkan kepalanya yang panas.


Neta yang melihat sang manajer pulang merasa bingung. “Bu Rania mau ke mana?” tanyanya dengan bodoh.


“Pulang, memangnya ke mana lagi?” Rania yang berhenti menjawab pertanyaan dari Neta dengan ketus.


“Lalu saya?” Neta menunjuk ke arahnya. Rania yang pulang tanpa mengajaknya membuatnya kebingungan. Padahal tadi dia berangkat dengan Rania.


Rania menatap Dathan yang tampak santai duduk manis. “Pulang saja dengan kekasihmu itu!” ucapnya kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya. “Lagi pula sudah ada kekasihnya, tetapi kenapa masih bertanya “aku bagaimana?” padaku?” Rania bergumam, meluapkan kekesalannya.


“Bu Rania…,” Dathan memanggil Rania.


Rania yang dipanggil menghentikan langkahnya. Dia berbalik dengan kesal dan menatap tajam pada Dathan.


Dathan berdiri. Kemudian meraih kotak perhiasan milik Neta yang masih ada di atas meja. Dathan mengayunkan langkah ke arah Rania. Menghampiri wanita yang berdiri tak jauh darinya itu.


“Ini untuk Bu Rania.” Dia memberikan perhiasan yang diberikan David pada Rania.


“Untukku?” Rania benar-benar terkejut. “Kenapa diberikan padaku?” Dia masih merasa bingung.


“Seperti yang tadi saya bilang, karena Neta sudah berkilau, jadi tidak perlu perhiasan ini.” Dathan tersenyum.


Rania merasa aneh dengan Dathan. Karena tak pusing memikirkan alasannya, akhirnya dia pun menerima perhiasan itu. Dia memiringkan kepalanya mengintip Neta yang tertutupi oleh tubuh Dathan. “Terima kasih, Neta.” Dia menunjukan kotak perhiasan sambil tersenyum. Kamudian dia kembali mengayunkan langkahnya.


Dathan yang melihat manajer Neta pergi pun melambaikan tangannya. Dia puas sekali akhirnya satu per satu orang-orang itu pulang.


Neta hanya bisa menganga melihat apa yang baru saja dilakukan Dathan. Pria itu tiba-tiba datang dengan mengaku kekasihnya, kemudian menolak perhiasan, dan terakhir dia memberikan perhiasan itu pada manajernya. Semua itu dilakukan Dathan tanpa seizinnya sama sekali. Hal itu tentu saja membuat Neta tidak mengerti kenapa Dathan melakukan hal itu.

__ADS_1


Dengan langkah kesal, Neta menghampiri Dathan. Dia langsung memutar tubuh Dathan yang sedang asyik melambaikan tangan pada manajernya.


“Apa maksud Pak Dathan melakukan semua ini?”


__ADS_2