Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
S2 : Surat


__ADS_3

Hari ini Neta pergi ke panti asuhan. Dia ingin bertemu dengan Bu Kania dan anak-anak panti. Tak hanya sendiri, dia pergi dengan Dathan dan Loveta juga.


“Mami, nanti Lolo mau kasih semua hadiahnya.” Dengan semangatnya Loveta mengatakan pada sang mami. Kemarin dia memang pergi dengan sang mami mencari buku dan perlengkapan untuk sekolah anak-anak panti.


“Iya, nanti Lolo bisa berikan pada mereka.” Neta begitu senang mendengar hal itu. Dia menatap sang suami yang sedang sibuk menyetir. Anaknya memang selalu suka jika ke panti asuhan. Apalagi Loveta suka sekali bertemu dengan Liam.


Mobil akhirnya sampai juga di panti asuhan. Neta, Dathan, dan Loveta segera turun. Dathan mengambil barang-barang dibantu oleh Loveta. Beberapa anak panti juga ikut membantu Dathan dan Loveta, termasuk Liam.


“Kak Liam.” Loveta begitu semangat sekali. Merasa begitu senang bertemu dengan teman laki-lakinya itu.


“Hai, Lolo.” Liam tersenyum pada Lolo.


Di saat suami dan anaknya sedang sibuk mengangkat barang-barang, Neta masuk ke panti tanpa membawa apa pun. Bu Kania pun segera menyambut Neta.


“Kenapa tidak minta Ibu ke sana saja?” Bu Kania merasa perut Neta cukup besar untuk pergi-pergi. Jadi tentu saja dia tidak tega Neta bolak-balik ke panti asuhan.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, Bu. Lagi pula Neta bosan di rumah.” Neta tersenyum. Merasa senang datang ke panti. Memang dia merasa tidak keberatan untuk datang.


“Baiklah, ayo masuk kalau begitu.” Bu Kania membantu Neta untuk masuk.


Menggandengnya ke dalam rumah.


Neta duduk dengan perlahan di kursi yang berada di ruang tamu. Napasnya sedikit terengah karena memang kehamilannya sudah cukup besar.


Dathan dan Loveta yang mengambil hadiah untuk anak-anak panti pun segera membagikannya. Dibantu dengan pengurus panti lainnya.


“Aku membawa barang-barang kebutuhan, Bu. Itu akan membuat mereka semangat belajar.” Neta merasa jika memang itu cara membuat anak-anak semangat belajar, selain memberikan perhatian dengan datang ke panti asuhan.


“Baiklah.” Bu Kania hanya bisa pasrah. Neta termasuk sedikit keras kepala. Jadi wajar jika tetap dengan keinginannya.


Mereka mengobrol seru sekali. Menceritakan tentang kehamilan. Mereka juga menceritakan kehamilan Arriel juga.

__ADS_1


Lolo dan Dathan masih asyik memberikan hadiah. Tak hanya alat tulis, mereka juga membagikan makanan. Sebelum tadi datang, mereka membeli kue untuk anak-anak juga. Jadi kini anak-anak sedang asyik makan kue yang dibawa.


Tak hanya anak-anak panti yang asyik menikmati kue. Loveta pun juga ikut serta.


“Kak Liam, Lolo berikan hadiahnya sama dengan yang lain. Kak Liam tidak apa-apa?” Loveta menatap Liam ketika memakan kue. Kemarin Loveta ingin membelikan alat tulis khusus untuk Liam, tapi sang mami melarang. Karena itu akan menimbulkan rasa iri pada anak-anak panti lainnya.


“Iya, tidak apa-apa. Ini saja sudah membuat aku senang.” Liam selalu mensyukuri apa yang diterimanya. Jadi tidak pernah marah jika diberikan sesuatu.


“Baiklah.” Loveta sedikit tenang karena Liam tidak marah dengannya ketika diberikan benda yang sama.


Dathan yang selesai memastikan anak-anak segera bergabung dengan istrinya dan Bu Kania. Mengobrol bersama.


“Ta, ada yang ingin Ibu tunjukan padamu.” Saat sedang asyik mengobrol, tiba-tiba Bu Kania teringat akan sesuatu.


“Apa, Bu?” tanya Neta penasaran.

__ADS_1


“Sebuah surat. Sebentar.” Bu Kania langsung berdiri. Dia segera ke kamarnya untuk mengambil surat yang dimaksud.


__ADS_2