Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Selimut


__ADS_3

Saat keluar dari kamar dia melihat Dathan yang duduk berbalut selimut di gazebo. Ketika langit masih gelap seperti ini tentu saja membuatnya heran kenapa pria itu di luar. Neta yang penasaran pun menghampiri Dathan.


Dathan yang merasakan kehadiran seseorang segera menoleh. Dia terkejut ketika melihat Neta keluar dari kamar.


“Kamu bangun?” tanya Dathan.


“Iya, aku tadi bangun dan melihatmu tidak ada, karena itu aku mencarimu. Saat aku lihat pintu terbuka aku yakin kamu keluar. Dan benar saja, jika kamu keluar.” Neta menjelaskan apa yang tadi dia pikirkan. “Kamu sedang apa di sini?” Neta begitu penasaran sekali.


“Aku tadi meminta selimut karena aku tidak kebagian selimut.” Dathan tersenyum sambil.


Neta malu. Semalam memang dingin. Dia menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Pasti itulah alasan Dathan tidak dapat selimut.


“Sini.” Dathan tersenyum. Dia membuka selimut. Meminta Neta masih ke pelukannya dan ke selimut agar tidak dingin.


Neta malu-malu mendekat. Masuk ke dalam selimut dan ke dalam pelukan Dathan. Dathan memeluk Neta erat. Memastikan kekasihnya itu tidak kedinginan. Nata pun bersandar di dada Dathan. Mencari posisi ternyamannya. Dathan memeluk Neta dari belakang. Memberikan kehangatan lebih untuk sang kekasih.


“Tadi aku mau menunggu matahari terbit, lalu memanggilmu, tetapi kamu sudah keluar.” Dathan memiringkan kepalanya ketika berbicara dengan Neta.


“Harusnya tadi kamu bangunkan aku. Jadi kamu tidak sendirian di sini menunggu matahari terbit.” Neta menengadah. Menatap Dathan. “Apa kamu tahu, kamu seperti hantu di sini dengan selimut putih.” Tadi memang Neta sempat terkejut ketika melihat putih-putih di gazebo. Namun, setelah diperhatikan dengan jelas, akhirnya dia menemukan jika itu adalah Dathan.


Dathan yang gemas menempelkan hidungnya ke hidung Neta. Lucu sekali ketika kekasihnya mengatasinya hantu. “Mana ada hantu yang tampan seperti aku?” Dathan dengan percaya diri menjawab.


“Jika hantunya setampan kamu, aku akan tetap terpesona. Lalu kita akan menjalan hubungan dua dunia.” Neta tertawa membayangkan hal itu.


“Kamu.” Dathan yang gemas mendaratkan kecupan di pipi Neta.


“Tapi, memang benar kamu tampan. Aku sampai tidak percaya jika kamu berusia empat puluh tahun.” Neta ingat betul jika pertama kali melihat Dathan, dia benar-benar terlihat lebih muda dari umurnya. “Apa kamu operasi plastik?” Neta menatap Dathan curiga.


“Astaga untuk apa aku operasi.” Dathan benar-benar dibuat tertawa terus dengan ulah kekasihnya itu.

__ADS_1


“Lalu kenapa bisa kamu terlihat begitu muda dari usiamu?” Neta begitu penasaran.


“Emm … mungkin karena aku bukan orang yang terlalu memikirkan masalah yang berlebihan. Atau mungkin karena rajin olah raga dan makan makanan sehat. Aku tidak merokok atau minum minuman keras. Emmm … hanya kopi saja.” Dathan menceritakan mungkin beberapa faktor itulah yang membuatnya awet muda.


“Bisa jadi salah satu itu yang membuatmu awet muda.” Neta tersenyum.


“Apa yang kamu pikirkan saat mendapatkan tugas wawancara Dathan Fabrizio. Apa yang kamu bayangkan?” Dathan tahu jika tidak ada foto dirinya di masalah mana pun.


“Aku pikir kamu pria botak dengan perut buncit. Lalu pria yang suka menggoda-goda wanita seperti manajer keuanganku.” Neta membayangkan seperti apa dulu membayangkan Dathan ketika tidak ditemukannya artikel tentang Dathan.


Dathan langsung tertawa. Sungguh bayangan Neta benar-benar menggelikan sekali. “Untung aku tidak botak, dan tidak berperut gendut, aku yakin kamu tidak akan mau denganku.”


“Bukan begitu juga. Asal kamu tidak suka menggoda gadis-gadis dan setia, tentu saja aku tidak masalah bagaimana tubuhmu.” Neta merasa tidak mau membedakan orang karena bentuk tubuhnya.


“Untuk apa aku menggoda para gadis jika aku sudah punya gadis cantik dan seksi sepertimu.” Dathan menyeringai.


Neta membulatkan matanya. Bisa-bisanya Dathan mengatakan jika dirinya seksi. “Kamu tadi melihatku pakai bikini?” tanya Neta curiga.


Neta hanya bisa mendengus kesal.


“Jangan perlihatkan itu pada siapa pun.” Dathan memasang mode posesifnya. Dia tidak akan rela jika harus berbagi keindahan itu pada orang lain.


“Jika kelak kamu menjadi suamiku, aku janji hanya akan menunjukkannya padamu.” Neta tersenyum.


“Aku pastikan jika aku akan jadi suamimu.” Dathan menatap lekat wajah Neta.


“Kita lihat saja.” Neta tersenyum.


Dathan yang gemas mengeratkan pelukannya. Dia akan buktikan jika akan membawa Neta ke pelaminan.

__ADS_1


Tepat saat mereka sedang asyik mengobrol matahari akhirnya perlahan menampakkan sinar. Langit yang gelap perlahan terlihat berubah warna. Perubahan warna itu membuat Dathan dan Neta tak melepaskan pandangannya. Dia terus memandangi langit yang tampak indah sekali.


“Aku suka melihat sebuah proses perubahan. Terlihat begitu menakjubkan.” Neta tersenyum.


“Apa kamu juga menerima sebuah perubahan pada sifat manusia?” tanya Dathan yang ingin tahu.


“Maksudnya?” tanya Neta tidak mengerti.


“Contoh mantan kekasihmu. Dia yang dulu tidak mencintaimu dan menganggapmu adik tiba-tiba sekarang berubah mencintami. Menyadari jika sebenarnya dia mencintaimu. Apa kamu akan menerimanya?” Dathan memberikan contoh sederhana.


“Seperti hari yang tidak bisa diulang kembali. Tidak semua perubahan diterima. Jika dia menyadari di saat aku sudah tidak ada hati, tetap saja aku tidak bisa menerima perubahan itu.” Neta memberikan jawaban menurut pikirannya.


Mendapat jawaban itu Dathan jauh lebih tenang. Jika suatu saat kekasih Neta hadir dan tiba-tiba mencintai Neta, dia tidak perlu khawatir lagi. Dia yakin Neta tidak akan mudah kembali pada pria itu.


Matahari sudah mulai terlihat jelas menampakkan sinarnya. Langit yang tadinya gelap perlahan menjadi terang. Udara yang tadinya begitu dingin perlahan menghangat ketika matahari mulai menyinari bumi.


Dathan mulai melepaskan selimutnya. Membiarkan matahari menghangatkan tubuh mereka.


“Ayo bersiap untuk pulang.” Neta berangsur bangun dari bersandar pada tubuh Dathan.


“Apa liburan benar-benar berakhir?” Dathan masih belum bisa melepaskan liburan ini. Rasanya dia ingin bersama Neta dalam waktu yang lama.


“Kita akan liburan lagi nanti lain waktu.” Neta tersenyum.


Dathan mengembuskan napasnya. Dia berharap bisa menikmati waktu bersama dengan Neta terus menerus. Dia merasa waktu begitu cepat ketika bersama dengan Neta.


Mereka berdua segera bangun dan masuk ke kamar. Saat masuk, dia melihat Loveta yang masih tertidur. Dathan langsung menyusul Loveta ke tempat tidur. Mendaratkan kecupan di pipi gadis kecilnya itu.


“Sayang, ayo kita pulang.” Dathan berusaha untuk membangunkan anaknya.

__ADS_1


Neta yang melihat itu pun tersenyum. Jika boleh jujur, dia ingin menikmati liburan ini dalam waktu yang lama. Dia merasa jika kesempatan bersama memang begitu berharga. Dia berharap kelak dia bisa berlibur lagi dengan Dathan dan Loveta. Menikmati waktu bersama-sama kembali.


__ADS_2