
Dathan dan Neta sampai di rumah. Reno segera pulang mengingat ini sudah malam. Dathan dan Neta masuk ke rumah. Koper mereka dibawa oleh asisten rumah tangga ke rumah. Dathan meminta asisten rumah tangga menaruhnya di ruang keluarga saja. Besok saja merapikan di kamarnya. Malam ini, dia mau segera istirahat.
Ini kali pertama Neta masuk ke rumah Dathan sebagai istri Dathan. Ada perasaan senang ketika melihat bahwa dirinya masuk sebagai nyonya rumah.
Neta dan Dathan menuju ke kamar. Walaupun sudah berkali-kali ke rumah Dathan, tetapi Neta belum pernah ke kamar Dathan.
Neta segera masuk ke kamar. Saat masuk aroma maskulin tercium begitu menyengat. Padahal pemiliknya sudah meninggalkan kamar berhari-hari.
Neta masuk lebih dalam. Kamar yang dominan monokrom itu menjelaskan sekali jika pemiliknya seorang pria. Karena tidak ada celah warna-warna cerah, tentu saja jelas jika tidak ada wanita di kamar ini.
Neta melihat ranjang besar yang berada di tengah-tengah kamar. Tempat tidur itu bersepreikan warna hitam di sana. Membuat Neta mengernyitkan dahinya. Kenapa suaminya memakai seprei hitam.
“Kenapa seperti kamar penyihir?” Neta mengomentari kamar sang suami. “Lihat sepreinya warna hitam. Menyeramkan sekali.” Dia kembali mengomentari ranjang sang suami.
Dathan tertawa ketika sang istri mengomentari kamarnya. Benar-benar mengemaskan sekali. Tentu saja hal itu membuatnya segera menghampiri sang istri. Memeluk sang istri dan mendaratkan kecupan di pipi sang istri.
“Nanti kamu bisa mengganti kamar ini sesuai keinginanmu. Nanti kamu bisa dekorasi sesuai dengan keinginanmu.” Dathan merasa jika istrinya harus betah di kamar. Apalagi kamar tempat mereka bercinta. Tentu saja harus membuat mood istrinya baik.
Neta langsung tersenyum. Tentu saja itu akan dilakukannya. Dia mau mengubah kamar sesuai dengan keinginannya. Matanya sedikit sakit melihat warna hitam putih. Seperti jalanan penyeberangan.
__ADS_1
Dathan memutar tubuh sang istri. Membuatnya menghadap ke arahnya. “Sekarang kamu nyonya rumah di sini. Tentu saja kamu boleh mengatur semuanya.” Dathan tersenyum.
Senyuman yang meneduhkan itu selalu saja membuat Neta selalu terpesona. Sungguh hal itu membuat semakin jatuh cinta.
“Terima kasih.” Neta memeluk sang suami. Dia senang ketika sang suami, kini sudah memberikan rumah padanya untuk diurus.
Dathan membelai lembut rambut sang istri. Merasa senang bjsa memberikan kepercayaan pada sang istri. Namun, tiba-tiba dia teringat akan sesuatu. Dengan segera Dathan melepaskan pelukannya. Tangannya meraih tas selempang yang melekat di tubuhnya. Mengambil dompet yang berada di dalamnya. Sebuah kartu pipih berwarna hitam segera diberikan pada Neta.
“Apa ini?” tanya Neta tidak mengerti.
“Aku sudah memberikan nafkah batin. Jadi ini nafkah lahir untukmu.” Dathan menyodorkan benda pipih warna hitam itu. Kartu yang dimilik mereka nasabah prioritas. Tentu saja isinya tidak sedikit.
Neta menelan salivanya. Walaupun dia pernah melihat kartu itu digunakan kliennya ketika membayar sesuatu, tetapi tidak menyangka jika ternyata di akan memilikinya. Sesuatu h yang tidak mungkin.
Tanpa menunggu lama, Neta segera mengambilnya. Kemudian memasukkan ke dompetnya yang diambilnya dari dalam tas.
Dathan merasa lega. Sebagai suami, dia tentu sudah memberikan semuanya pada sang istri. Nafkah lahir dan tentu nafkah batin.
...****************...
__ADS_1
Neta tidur begitu nyenyak sekali. Tempat tidur milik Dathan lebih enak dibanding tempat tidur hotel. Tentu saja, Neta menikmati semua itu. Saking nyenyaknya dia tidak sadar ketika sang suami tidak ada di sisinya. Saat hendak memeluk sang suami, sisi ranjang terasa kosong. Hal itu membuatnya seketika membuka mata. Mencari keberadaan sang suami.
Tepat saat Neta yang mencari keberadaan sang suami, dia melihat sang suami yang keluar dari kamar mandi. Sang suami hanya menggunakan handuk di pinggangnya. Menampilkan perut six pack sang suami. Tetesan air yang mengalir di tubuh sang suami, membuat Dathan semakin seksi.
Jika dulu Neta malu-malu, kini dia mulai berani menatap Dathan. Tak melepas melihat pemandangan indah di depannya.
“Seksi.” Neta mengedipkan matanya.
“Apa kamu sedang menggodaku?” Dathan menatap sang istri sambil mengayunkan langkah ke sisi tempat tidur.
“Aku tidak sedang menggoda. Hanya memuji.” Dathan yang berada di sisi tempat tidur, membuatnya dapat menjangkau sang suami. Tangannya bermain-main di perut bak roti sobek milik Dathan.
Gerakan tangan sang istri tentu saja membuat aliran darah ke bawah semakin cepat. Membuat sesuatu bangun di bawa sana akan bangun.
“Jangan bangunkan macam tidur.” Dathan segera memberikan peringatan pada sang istri.
Neta dengan polos langsung tersenyum. Tangannya membuka handuk yang dipakai sang suami. Namun, dengan segera Neta bangkit dan berlari ke kamar mandi.
Dathan yang melihat handuknya terlepas merasa tidak terima. Dia segera berlari. Mengejar sang istri. Kecepatan Dathan tentu saja lebih cepat dari Neta. Jadi alhasil Dathan dapat mencegah Neta yang hendak menutup pintu.
__ADS_1
“Aku tidak akan melepaskanmu.”
Dathan mendorong pintu dan segera masuk ke kamar mandi. Tak akan melepas sang istri yang menggodanya. Tak masalah jika harus mandi berkali-kali. Yang penting, semua bisa dituntaskan.