
Neta dan Dathan menikmati kue yang dibawa Dathan. Mereka berdua bercerita tentang kue yang dibeli Dathan. Neta merasa suka sekali kue tersebut. Dathan berjanji akan membawakannya lagi.
“Apa kamu selalu tidur dengan piyama panjang seperti ini?” Dathan sedari tadi memang tertarik dengan piyama milik Neta yang bergambar stroberi. Terlihat menggemaskan sekali.
“Iya, karena ini baju tidur yang paling aman.” Neta tersenyum.
“Aman dari siapa?” Dathan masih belum mengerti sampai Neta tersenyum terus, barulah dia mengerti. “Dari aku.” Dathan langsung menggelitik Neta.
Neta tertawa ketika Dathan menggelitik. Dia geli ketika Dathan menggelitiknya. Tubuhnya sampai terjatuh di atas sofa. Dathan yang terus menggelitik pun berada tepat di atas Neta.
Saat menyadari posisi mereka, seketika Neta menghentikan tawanya. Dia langsung menatap Dathan yang berada di atasnya.
Dathan pun menghentikan tawanya. Apalagi ketika menyadari jika Neta sudah berhenti tertawa. Tangan Dathan langsung menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Neta. Menatap wajah cantik yang berada di depannya itu.
“Aku suka kamu menjaga dirimu. Aku juga pasti akan tergoda jika kamu memakai baju tidur yang terbuka.” Dathan tersenyum. Dia adalah pria normal. Jadi wajar saja jika sampai tergoda. “Jadi pakailah pakaian yang terbuka nanti jika sudah menikah denganku.” Tangan Dathan membelai lembut wajah Neta.
Neta tersenyum dan mengangguk.
Dathan yang gemas mengangsur tubuhnya. Dia segera mendaratkan bibirnya. Namun, bukan ke bibir Neta, melainkan ke pipi Neta.
Neta masih selalu saja tersipu malu ketika Dathan mendaratkan ciumannya.
Dathan menegakkan tubuhnya. Tangannya meraih tangan Neta. Membantunya bangun dari posisi tidurnya.
“Sepertinya sudah malam.” Neta menatap jam yang berada di dinding kamarnya. Waktu menunjukkan jam sepuluh malam. Besok dia harus bekerja. Jadi wajar saja jika dia harus segera beristirahat.
“Kamu mengusirku?” tanya Dathan menggoda.
Neta menekuk bibirnya. Bukan mau mengusir, tetapi dirinya dan Dathan besok harus bekerja. Jadi wajar jika Dathan harus pulang.
“Bukan begitu.” Neta meraih tangan Dathan. Menggenggamnya erat. Meyakinkan jika bukan itu maksudnya. “Besok kita harus bekerja.” Neta mencoba menjelaskan.
__ADS_1
“Aku malas pulang.” Dathan menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa. Di rumah ada Arriel dan tiba-tiba dirinya malas sekali.
“Memang kenapa?” Neta merasa aneh sekali karena biasanya Dathan selalu menomor satukan anak. Harusnya dia segera pulang dan menemani anaknya.
“Arriel ada di rumah.” Dathan menjawab alasannya malas pulang.
Mendengar nama Arriel sejenak dia ingat jika itu adalah nama mantan istri Dathan. Beberapa kali waktu bercerita Dathan menyebut namanya. Waktu pertama kali bertemu Loveta juga gadis kecil itu menyebut nama kedua orang tuanya.
“Dia di rumahmu?” tanya Neta.
“Iya, dia baru saja pulang dari Paris. Dia datang ingin menemui Cinta. Mungkin dia lelah. Jadi meminta izin untuk menginap, agar bisa bertemu dengan Cinta besok pagi.” Dathan mencoba menceritakan pada Neta.
Neta tahu jika Dathan dan mantan istrinya masih bersinggungan. Akan selalu ada interaksi antara mereka berdua, mengingat ada Loveta. Neta tidak bisa egois dengan dirinya sendiri.
“Apa kamu cemburu jika dia menginap di rumahku? Kalau iya aku akan menginap di sini saja.” Dathan tersenyum.
Neta ikut tersenyum. Dathan selalu saja bisa mengambil kesempatan. Ucapan Dathan seperti itu tentu saja menggelitik.
Dathan langsung meraih tangan Neta. “Ya, dari pada aku pulang dan membuatmu berpikir yang tidak-tidak saat ada mantan istriku. Lebih aman aku di sini.” Dia dengan tenangnya menemukan solusi dari masalahnya sendiri.
Neta sadar, jika ditanya takut saat Dathan dan mantan istrinya berada dalam satu rumah, jawabannya iya. Namun, bukan berarti dia mengizinkan Dathan tinggal di kos miliknya. Walaupun sebenarnya di tempat kosnya, pria menginap sudah biasa. Namun, Neta tidak akan melakukan hal yang sama.
“Jika aku memberikan kepercayaan, apa kamu akan menjaganya?” Neta menatap Dathan.
“Tentu saja.” Dathan tentu saja tidak akan mengecewakan Neta.
“Tetap pulanglah. Langsung masuk kamar dan kunci pintunya. Jangan biarkan dia masuk ke kamarmu.” Neta sedikit mencebikkan bibirnya. Dia merasa takut, tetapi tetap harus berpikir posistif.
Dathan suka bagaimana Neta posesif padanya. Itu menunjukkan Neta tidak mau dirinya dimiliki yang lain.
“Aku akan kunci pintunya. Bila perlu aku akan mengunci yang lain juga.” Dathan menyeringai.
__ADS_1
Neta tahu ke mana arah pembicaraan duda satu di depannya itu. Pipinya pun langsung merona ketika pembahasan terlalu mengarah ke hal intim.
Dathan yang gemas mendaratkan kecupan di pipi Neta. Kemudian menarik tubuh Neta ke dalam pelukannya. “Aku sudah lima tahun menahan diri. Aku juga sering bertemu dengannya, tetapi tidak pernah tergoda. Percayalah padaku, aku tetap akan melakukannya. Dan kini alasanku lebih kuat karena ada kamu.” Dathan yakin dia harus bertahan sedikit lagi saja. Setelah bersama Neta, tidak perlu lagi dirinya menahan diri.
Dalam pelukan Dathan Neta mengangguk. Dia percaya pada Dathan. Dia yakin sekali jika Dathan akan menjaga dirinya agar tidak tergoda.
Dathan melepaskan pelukannya. “Kalau begitu aku pulang dulu.” Dathan tersenyum.
Neta mengangguk.
Dathan berdiri. Neta ikut berdiri. Neta ingin mengantarkan Dathan sampai ke pintu depan.
“Kamu langsung tidur.” Dathan menatap Neta sebelum pintu dibuka.
“Aku akan tidur setelah ada kabar dari kamu jika kamu sudah menutup pintu kamarmu.” Neta tidak akan tenang sebelum Dathan benar-benar melakukan hal itu.
Dathan tersenyum. Dia mencubit pipi Neta. Gemas sekali dengan Neta. “Aku akan langsung menghubungimu nanti jika sampai dan menutup pintu.”
“Baiklah.” Neta tersenyum.
Dathan langsung mendaratkan kecupan di dahi Neta. Dia segera keluar dari kamar Neta. Tak lupa melambaikan tangan pada Neta. Neta pun juga melambaikan tangannya.
Dathan segera melajukan mobilnya ke rumah. Jalanan sudah tampak sepi. Orang-orang mungkin sudah beristirahat mengingat besok adalah hari kerja.
Dathan yang sampai di rumah langsung disambut oleh petugas keamanan rumahnya. Pria paruh baya itu sudah bekerja dengan dirinya sudah sepuluh tahun. Dia adalah suami dari asisten rumah tangga di rumahnya. Sejak Loveta kecil, mereka juga yang membantu menjaga Loveta. Bagi Dathan mereka sudah seperti keluarga.
Dathan segera masuk ke rumah. Saat masuk dia melihat lampu ruang keluarga menyala. Itu artinya ada orang yang belum tidur. Dathan yakin sekali jika itu adalah Arriel. Dia pun segera masuk. Memastikan jika itu adalah Arriel.
Saat masuk benar saja, dia melihat Arriel di ruang keluarga. Wanita itu sedang tidur di sofa. Dathan merasa jika Arriel sengaja menunggu dirinya. Namun, saat mengingat pesan Neta, dia memilih untuk berlalu saja.
Arriel yang mendengar derap kaki, langsung membuka mata. Dia melihat Dathan yang hendak masuk ke kamarnya. Hal itu membuatnya langsung bangun.
__ADS_1
“Than,” panggilnya.