Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Pulang Bersama Arriel


__ADS_3

Semua saling pandang. Merasa terkejut ketika Arriel menawarin Neta. Sejak tadi saja tidak ada obrolan antara mereka.


Dathan adalah orang yang paling terkejut. Dia menerka-nerka niat apa yang membuat Arriel mengantarkan Neta.


Neta sendiri juga bingung Arriel menawarinya untuk pulang bersama. Dia menimbang-nimbang tawaran Arriel.


“Baiklah.” Akhirnya Neta menerima tawaran itu. Dia sendiri tidak enak jika harus menolak.


Dathan menatap sang kekasih. Saat Neta menerima, rasanya Dathan ragu. Namun, dia yakin jika keputusan yang diambil Neta adalah yang terbaik. Nanti setelah pulang, Dathan akan menghubungi. Memastikan jika Neta baik-baik saja.


“Kalau begitu ayo.” Arriel pun meraih tasnya. Dia kemudian beralih ke anaknya. “Mama pulang dulu. Besok mama akan ke sini.” Arriel membelai lembut pipi Loveta.


“Iya, Ma.” Loveta mengangguk.


Arriel menatap Dathan. “Apa dia besok Lolo sudah sekolah?” tanyanya.


“Belum sepertinya. Aku mau dia istirahat dulu.” Dathan tidak mau memaksakan sang anak.


“Kalau begitu, besok biar aku yang menjaganya.” Arriel akan pulang dan menyelesaikan pekerjaannya. Besok dia akan menunggu Loveta seharian.


“Baiklah.” Dathan tidak keberatan jika Arriel yang menunggu. Lagi pula anaknya di rumah. Pasti dia akan nyaman.


“Kalau begitu aku pamit dulu.” Arriel segera berpamitan. Dia menautkan pipi pada Rifa. Dan melambaikan tangan pada Reno dan Richa.


Neta pun melakukan hal yang sama. Berpamitan pada semuanya. Bersama dengan Arriel, dia berjalan ke depan.


Neta dan Arriel masuk ke mobil. Setelah Neta siap, Arriel segera melajukan mobilnya. Mereka meninggalkan rumah Dathan.

__ADS_1


“Kita sudah bertemu beberapa kali, tetapi belum berkenalan secara resmi.” Arriel tersenyum. Dia segera mengulurkan tangannya. “Arriel,” ucapnya menyebut nama.


Neta segera menerima uluran tangan Arriel.


“Neta.” Dia ikut menyebut namanya.


“Harusnya Dathan memperkenalkan aku waktu pertama ke apartemenmu, tapi dia ingin segera buru-buru bertemu Cinta. Jadi kita tidak sempat berkenalan.” Neta mengingat waktu itu datang ke apartemen Arriel.


“Dathan selalu mengutamakan Lolo.” Arriel tersenyum menggambarkan bagaimana mantan suaminya itu.


Neta membenarkan apa yang dikatakan oleh Arriel. Memang benar adanya jika Dathan begitu mengutamakan Loveta.


“Aku dengar kamu adalah wartawan.” Arriel tersenyum. Beberapa kali Loveta bercerita membuatnya akhirnya mendapatkan informasi jika kekasih Dathan adalah seorang wartawan.


“Iya.” Neta mengangguk.


“Dathan juga pernah bercerita.” Neta tampak begitu tenang. “Tapi, aku bukan wartawan gosip. Aku wartawan bisnis.” Neta mencoba menjelaskan.


“Oh ....” Arriel mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ini ke mana?” Arriel sambil menanyakan arah jalan menuju ke kosa milik Neta.


“Depan belok kanan.” Neta menunjuk ke arah jalanan yang dilaluinya.


Arriel segera membelokkan setir mobilnya. Mengarahkan kembali mobilnya ke tempat yang akan dituju.


“Apa kamu benar-benar mencintai Dathan?”Arriel kembali bertanya pada Neta. Dia menoleh sejenak pada Neta yang duduk di sampingnya.


Neta menatap Arriel. Senyumnya terbit di wajahnya. “Iya, aku mencintai Dathan.” Dengan pasti dia menjawab pertanyaan Arriel.

__ADS_1


“Apa hubunganmu dan Dathan ke arah yang lebih serius?” Arriel kembali mempertanyakan hal itu.


“Dathan sudah mengajak aku untuk serius, tapi sayangnya Cinta belum tahu hubungan kalian.” Neta menjelaskan apa adanya.


“Iya, kami belum menjelaskan.” Arriel membenarkan ucapan Neta. “Apa kamu akan menunggu?” Arriel menatap Neta.


“Tentu saja. Aku akan menunggu Loveta tahu. Setelah itu kami akan memikirkan hubungan.” Neta tidak bisa memaksa Loveta untuk tahu. Jadi dia harus sabar.


“Jika Lolo tidak bisa menerima bagaimana?” Arriel menatap dengan tatapan yang begitu serius sekali.


Pertanyaan itu membuat Neta membulatkan matanya. Entah kenapa dia begitu terkejut dengan yang diucapkan oleh Arriel. Kalimat itu seolah sedang membuat dirinya ragu.


“Anak-anak biasanya akan menolak dengan hal baru yang terjadi dalam hidupnya. Sebagai orang dewasa kita harus memahaminya. Mungkin, awal Lolo tidak akan menerima. Namun, berjalannya waktu, aku yakin dia akan bisa menerima.” Neta tetap tenang. Dia tidak terintimidasi sama sekali apa yang dikatakan oleh Arriel.


“Katanya anak-anak tidak bisa dipaksa. Apa dengan kata lain kalimatmu tadi akan memaksa?” Arriel memastikan kembali ucapan Neta.


Neta hanya tersenyum saja. “Memaksa dan membiasakan memang terlihat mirip. Hanya saja, memaksa lebih pada kehendak satu orang, sedangkan membiasakan adalah dua orang yang saling memahami. Aku akan berusaha membiasakan Cinta menerima aku, tetapi aku juga akan mendengarkan apa yang dipikirkannya nanti.” Neta mencoba menjelaskan pada Arriel.


Arriel terdiam. Dia merasa Neta begitu sempurna memahami anak-anak. Berbeda jauh dengan dirinya.


“Depan belok ke kiri. Setelah itu tiga rumah berhenti.” Neta memberikan instruksi pada Arriel.


Arriel pun memutar setir mobilnya ke arah yang di mana Neta minta. Tepat di depan kos Neta, mobil berhenti.


“Kelak aku akan bersamamu menjadi ibu Cinta. Jadi aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik.” Neta menutup pembicaraannya dengan Arriel. “Terima kasih sudah mengantar.” Neta segera keluar dari mobil Arriel.


Arriel tidak bisa menjawab ucapan Neta. Dia memilih diam. Dia tidak menyangka jika ternyata Neta tidak terintimidasi sama sekali dengan pertanyaannya. Padahal dia ingin membuat Neta ragu dengan hubungannya Dathan.

__ADS_1


“Ternyata dia tangguh juga.” Satu penilainya.


__ADS_2