Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Dua Wanita


__ADS_3

Arriel, Mauren, dan Rifa makan restoran. Mereka memesan makan dan menikmati makan bersama. Mereka menceritakan banyak hal. Mulai dari fashion, sampai anak-anak. Rifa menunggu waktu yang tepat saat berbicara. Apalagi pembahasan ini tidak ada sangkut pautnya dengan obrolan mereka.


“Apa kamu sudah tahu jika ada artikel tentang pernikahan Dathan dan Neta?” Akhirnya Rifa dapat kesempatan untuk membicarakan hal itu juga.


“Oh … ya?” Arriel tampak terkejut ketika mendengar akan hal itu. “Apa mereka sengaja mengumumkan ke media?” Arriel mencoba mengonfirmasi lebih dulu sebelum memberikan pendapatnya.


“Aku rasa Dathan dan Neta tidak memberitahu wartawan.”


“Tapi, Neta sendiri wartawan, jadi bisa jadi dia sengaja memberitahu.” Mauren menambahkan itu pada obrolan Arriel dan Rifa.


“Mereka sedang mencari tahu siapa yang menyebarkan, jadi aku rasa tidak mungkin Neta sendiri.” Rifa sudah mendengar cerita dari suaminya, jadi dia tahu sedikit tentang hal itu.


“Lalu siapa yang menyebarkan?” Arriel menatap Rifa. Dia ikut bingung dengan berita yang baru saja didengarnya.


“Entahlah.” Rifa menggeleng. Tanda tidak tahu. Dia memerhatikan reaksi Arriel. Jelas reaksi itu tampak menjelaskan jika Arriel tidak mengerti sama sekali dengan berita itu dan cenderung terkejut. Jika dilihat dari reaksi Arriel, Rifa merasa jika Arriel justru tidak tahu apa-apa. Jadi bisa jadi jika bukan Arriel yang menyebar pernikahan Dathan dan Neta.


“Jadi Dathan akan mencari tahu penyebarnya?” Mauren yang sedang ikut berbicara pun akhirnya ikut penasaran juga.


“Iya, dia pasti akan mencari. Mengingat bukan dia yang memberikan informasi tersebut.” Rifa membenarkan ucapan Mauren.


“Semoga cepat ditemukan. Bisa-bisanya orang-orang itu menyebarkan berita tanpa izin terlebih dahulu.” Arriel ikut kesal ketika mendengar akan hal ini.

__ADS_1


Rifa semakin yakin ketika melihat emosi Arriel. Dia yakin Arriel bukan tersangka yang menyebabkan berita ini.


Rifa merasa info ini bisa diberikan pada suaminya dan Dathan nanti. Jadi tugasnya sudah diselesaikan dengan baik.


...****************...


Sore ini, Martin memberitahukan Neta untuk kembali bertemu. Dia ingin memberitahukan informasi yang mereka dapatkan. Neta, Maria, dan Adriel langsung ke restoran yang diminta Martin, sedangkan Dathan berangkat dengan Reno bersama dengan anaknya juga.


Dathan sampai di restoran. Disusul oleh Neta dan teman-temannya. Karena obrolan ini sangat sensitif. Maria memilih mengajak Loveta untuk bermain. Agar tidak mendengar obrolan yang dilakukan oleh orang dewasa. Kebetulan Rifa datang bersama Richa, jadi Loveta ada Richa yang ikut menemani. Sambil menunggu Martin, mereka semua mengobrol bersama-sama.


“Kamu sudah tanya Arriel, Sayang?” Reno menatap sang istri. Memastikan permintaannya tadi pagi.


Dathan mengembuskan napas. Merasa jika dirinya lebih penasaran dengan yang katakan oleh Rifa. Kini dia hanya bisa menunggu Martin untuk tahu siapa yang melakukan semua ini. Neta yang melihat sang suami tampak menguatkan dirinya, langsung membelai lembut punggung sang suami. Berusaha untuk menguatkan.


Sesaat kemudian Martin datang. Namun, sayangnya dia datang seorang diri. Tidak ada tampak orang yang katanya menulis artikel tersebut.


“Martin. Kenapa kamu datang sendiri?” Adriel langsung melemparkan pertanyaan itu pada temannya.


“Biarkan dia duduk dulu, Kak.” Neta meminta Adriel untuk langsung bertanya. Padahal Martin baru sekali datang.


“Duduklah.” Dathan meminta Martin untuk duduk lebih dulu.

__ADS_1


Martin langsung duduk. Dia menatap satu per satu orang di meja tersebut. Terutama Dathan dan Neta yang merupakan orang yang menunggu informasi dari dirinya.


“Jadi aku sudah bertemu dengan temanku yang kenal dengan penulis artikel itu, tadi aku mau ajak dia bertemu, tetapi dia tidak bisa. Karena artikel yang keluar memang sudah disetujui perusahaan tempatnya bekerja. Mereka mengambil keuntungan dengan ingin membuat Syailendra Grup ikut tercemar.” Martin menjelaskan kenapa temannya itu tidak mau datang.


Neta mengembuskan napasnya. Masalah bukan sesederhana itu karena artikel tentang pernikahannya dimuat, tetapi ada persaingan bisnis yang tidak sehat yang diambil dari itu semua. Setelah ini, urusannya sepertinya akan panjang.


“Dia tidak mau ikut karena dia tidak mau sampai perusahaan memecatnya. Jadi aku harap kalian paham.” Martin mencoba menjelaskan.


Dathan tahu dalam bisnis pasti ada persaingan. Hal-hal yang menguntungkan bagi perusahan pasti diambil para pengusaha itu. Baik secara sehat atau tidak sehat.


“Dia memang tidak mau datang, tetapi dia memberitahu aku siapa yang memberikan informasi tentang pernikahan kalian.”


Dathan dan Neta saling pandang. Mata mereka berbinar. Akhirnya mereka tahu siapa yang memberikan informasi.


“Siapa?” Neta begitu antusias.


“Dia tidak menyebutkan nama, tetapi dia memberitahu jika ada dua orang wanita yang datang padanya. Salah satu wanita berada di dalam mobil, dan satu lagi turun untuk menemuinya. Beberikan kertas berisi data diri dan informasi tentang Dathan dan Neta. Dia sempat memotret salah satu wanita itu diam-diam. Jadi siapa itu, mungkin kalian bisa menebak sendiri.”


Martin mengeluarkan ponselnya. Mencari foto yang diberikan temannya. Kemudian memberikan ponsel pada Dathan.


Dathan segera melihat ponsel Martin bersama Neta. Dilihatnya seorang wanita dengan dress hitam dengan kacamata. Rambutnya berwarna brown dan foto itu diambil dari samping. Sekali pun dari samping Dathan tahu siapa wanita tersebut. Neta yang melihat foto tersebut pun langsung dapat mengenali siapa gerangan wanita dalam foto tersebut. Neta dan Dathan saling beradu pandang ketika melihat siapa gerangan wanita di dalam foto tersebut. Mereka tidak menyangka siapa orang dalam foto.

__ADS_1


__ADS_2