
Hari ini adalah hari pertama Neta tidak bekerja. Pagi-pagi dia sudah sibuk di dapur. Menyiapkan sarapan sendiri untuk anak dan suaminya. Neta ingin memanfaatkan waktu dengan baik sebagai ibu rumah tangga. Menikmati peran baru.
Neta yang selesai menyiapkan sarapan segera mandi. Bau asap makanan membuatnya harus segera membersihkan diri.
“Kamu sudah mandi?” Dathan yang membuka matanya melihat sang istri yang keluar dari kamar mandi. Sang istri begitu cantik dengan handuk di dada. Tentu saja itu memperlihatkan bahunya yang begitu mulus dan putih.
“Aku baru selesai memasak untuk sarapan jadi langsung mandi.” Neta berbelok ke lemari yang berada di samping kamar tidurnya.
Dathan yang melihat Neta hilang dari pandangan mata pun segera berangsur bangun. Menyusul sang istri yang sedang mengganti pakaian.
Dathan bersandar pada dinding yang berada di dekat lemari. Memantau sang istri yang sedang memakai pakaian.
Suami mana yang kuat melihat tubuh sang istri yang menggoda. Begitu juga Dathan. Dia begitu penasaran sekali dengan sang istri. Dengan segera Dathan menghampiri sang istri. Memeluknya dari belakang.
“Astaga, kenapa kamu mengagetkan aku?” Tadi Dathan berada di tempat tidur ketika Neta sedang ingin mengganti baju. Jadi kedatangan Dathan membuatnya melonjak kaget.
Dathan memeluk tubuh sang istri. Sang istri yang sudah berbalut pakaian dalam menampilkan tubuhnya yang seksi. Tangan Dathan yang berada di perut sang istri pun bermain-main di sana.
“Kenapa harus kaget? Dengan memakai handuk saja, kamu sedang mengundang aku untuk melahapmu.” Dathan mendaratkan kecupan di bahu sang istri. Aroma manis dari sabun yang dipakai sang istri membuatnya ingin menghirup lebih dalam tubuh sang istri.
Neta yang merasa bibir sang suami bergerilya di bahu sang istri, langsung merasakan gelenyar aneh.
“Hari ini adalah hari pertama aku jadi ibu rumah tangga. Aku sudah banyak rencana. Jangan sampai gagal karena kamu yang seperti ini.” Neta memberikan peringatan pada sang suami sambil tersenyum manis.
Dathan tersenyum. Dia sendiri jika dilanjutkan jelas tidak akan tahan juga. Yang ada hari ini dia tidak berangkat bekerja dan Loveta tidak berangkat sekolah.
“Baiklah.” Satu kecupan mendarat di pipi sang istri.
Neta hanya tersenyum. Kemudian berbalik. Tangannya melingkar di leher sang suami. Kemudian mendaratkan kecupan singkat di bibir sang suami.
“Cepatlah mandi. Aku akan bangunkan Cinta dulu.” Neta melepaskan pelukannya.
__ADS_1
“Baiklah.” Dathan mengangguk. Kemudian berlalu meninggalkan sang istri.
Neta segera memakai pakaiannya. Setelah ini yang harus dilakukan adalah membangunkan sang anak. Pasti akan sangat menyenangkan ketika bisa menjalani rutinitas sebagai ibu rumah tangga.
...****************...
Neta sibuk merapikan rambut sang anak. Loveta yang memiliki rambut yang panjang memang selalu saja minta diikat dengan bentuk yang berbeda. Neta pun terkadang harus berkreasi agar anaknya itu tidak bosan.
“Sayang.” Suara Dathan terdengar ketika Neta sedang asyik mengikat rambut anaknya.
“Mami-Mami. Papa itu manja sekali. Sebentar-sebentar panggil-panggil.” Loveta yang mendengar suara sang papa pun mengomentari.
Neta tersenyum. Loveta sudah mulai bisa mengomentari sekitar.
“Sayang, pakaikan aku dasi.” Loveta menirukan apa kalimat yang biasa diucapkan oleh sang papa.
“Sayang, pakaikan aku dasi.” Suara Dathan terdengar dari luar dan masuk ke kamar Loveta yang kebetulan memang dibuka.
Seketika Neta tertawa. Loveta benar sekali ketika menirukan sang papa.
“Kamu ini bisa saja.” Neta mendaratkan kecupan di pipi Loveta. Anaknya benar-benar mengemaskan sekali. “Mami urus papa dulu.” Neta berpamitan. Loveta mengangguk. Membiarkan sang mami pergi.
Neta segera ke kamar. Menghampiri suaminya yang sejak tadi memanggil. Di kamar, Neta sudah disambut sang suami yang menyerahkan dasinya. Dia hanya bisa menggeleng heran. Sang suami begitu manja sekali.
Neta mengayunkan langkahnya mendekat pada sang suaminya. Kemudian meraih dasi yang diberikan. Dengan gerakan cepat Neta melingkarkan dasi di kerah bahu milik sang suami.
“Kamu selalu saja tidak mau pakai dasi sendiri.” Neta menggerutu kelakuan sang suami.
Dathan hanya tersenyum saja. Tangannya segera meraih tubuh sang istri. “Apa kamu tahu jika saat kamu memakaikan dasi, aku bisa melihat wajahmu dari dekat.” Pandangan penuh damba tertuju pada wajah manis milik sang istri.
Neta tersenyum. Suaminya selalu saja bisa memberikan alasan. “Nanti kamu bosan jika terus melihat wajahku.”
__ADS_1
“Mana bisa. Yang ada aku semakin jatuh cinta.” Dathan mengangsur tubuhnya. Berusaha mendaratkan bibirnya pada pipi sang istri.
Neta hanya tertawa ketika merasakan bulu halus yang berada di rahang Dathan menempel di kulitnya. Karena terasa begitu geli sekali.
“Mami.” Suara Loveta terdengar.
Neta secara spontan mendorong sang suami. Takut sang anak melihat kemesraan yang terjadi. Dathan hanya bisa pasrah ketika sang istri mendorongnya. Membuatnya kehilangan kenikmatan menciumi sang istri.
Pintu kamar terbuka. Tampak Loveta di balik pintu.
“Apa, Sayang?” tanya Neta.
“Mami, aku mau bawa dua bekal.” Loveta menyampaikan keinginannya.
“Kenapa dua?” Dathan begitu penasaran. Jadi dengan cepat dia menyambar ucapan anaknya.
“Buat Lolo satu. Buat Leo satu.” Dengan polos dia menjelaskan keinginannya.
“Memang Leo tidak bawa makan?” Dathan menatap sang anak dengan penuh rasa penasaran.
“Mamanya sedang sakit.” Gadis kecil itu kembali menjelaskan.
“Sa—”
“Iya, nanti Mami bawakan.” Sebelum Dathan bertanya lagi, Neta langsung memotong ucapannya. Dia memukul lembut sang suami agar tidak melanjutkan pertanyaannya.
“Baik, Mama.” Loveta segera keluar dari kamar.
“Drama cinta anak-anak sepertinya seru sekali. Membawakan bekal. Lalu suka.” Dathan mengomentari apa yang dilakukan anaknya.
“Itu bentuk peduli. Bukan bentuk cinta.” Neta menggeleng heran.
__ADS_1
“Tapi, saat seseorang perhatian, pasti ada rasa suka atau cinta.” Dathan memang takut anaknya tubuh dewasa lebih cepat. Apalagi kenal dengan para pria kecil.
“Cinta masih kecil. Sudah jangan pikirkan itu.” Neta mengakhiri pembahasan tentang Loveta. Anaknya terlalu kecil untuk urusan cinta-cintaan.