
“Nessia ....” Fotografer memanggil Nessia yang sibuk dengan mainannya. Tidak melihat ke arah kamera sama sekali.
Hari ini keluarga Dathan mengadakan foto keluarga. Mereka ingin mengabadikan foto keluarga ketika anak-anak masih kecil. Usia Nessia dan Danish yang kini menginjak tiga bulan memang begitu menggemaskan.
“Nessia lihat sana.” Loveta ikut memanggil Nessia sambil menunjuk fotografer.
Saat dipanggil kakaknya itu, Nessia akhirnya mengalihkan pandangan pada fotografer. Fotografer segera membidik foto. Tak melepaskan ketika Nessia tersenyum.
Foto keluarga Dathan begitu apik mereka mengambil dua tema. Tema formal dan outdoor. Untuk tema formal mereka menggunakan pakaian formal. Para perempuan memakai dress, sedangkan untuk laki-lakinya memakai jas. Termasuk dengan si kecil Danish. Dia serasi dengan sang papi menggunakan jas.
Untuk tema outdoor, mereka menggunakan taman belakang untuk membuat tenda. Dathan dan Neta sengaja menyulap taman belakang bak berkemah, agar mereka tidak perlu ke mana-mana untuk foto kali ini. Tinggal memanggil fotografer. Tentu saja itu memudahkan Dathan dan Neta.
Danish begitu hebat. Dia seolah sadar sedang jadi pusat perhatian. Jadi dia memasang wajah siap untuk difoto.
Beberapa foto juga diambil candid. Apalagi ketika anak-anak bermain. Dibuat benar-benar natural sekali.
Setengah hari pemotretan berlangsung. Terjeda ketika anak-anak tidur saja. Beruntung fotografernya adalah teman Neta, jadi dia bersabar menunggu.
__ADS_1
“Nanti aku akan kirim fotonya.” Teman Neta memberitahu. Rencananya Neta juga sekaligus memesan beserta bingkainya. Jadi tentu saja itu membuatnya harus bersabar.
“Baiklah, aku tunggu.” Neta tersenyum.
Teman Neta akhirnya berpamitan. Pekerjaan ini baginya melelahkan, tetapi mengasyikkan karena dapat bertemu dengan teman lama.
Neta yang baru saja mengantarkan temannya segera menghampiri anak-anaknya. Loveta sedang menemani mereka bermain bersama.
“Mereka begitu pintar tadi.” Neta menatap suaminya. Mengingat bagaimana tadi anak-anaknya hebat sekali. Karena anak-anak tidak rewel saat foto.
“Iya, mereka memang anak-anak hebat.” Dathan juga ikut senang karena anak-anaknya pintar. “Lebih pintar adalah maminya, karena begitu hebat menciptakan latar foto di rumah.” Dathan mencubit pipi Neta.
“Tapi, tanpa izinmu, semua tidak akan terlaksana.” Neta merasa tetap campur tangan suaminyalah faktor penting dari semuanya.
“Tentu saja aku akan mengizinkan kamu.” Dathan memang selalu tidak bisa menolak jika istrinya yang meminta. Jadi jelas, dia akan mengizinkan.
Neta tersenyum. Suaminya memang yang terbaik.
__ADS_1
...****************...
“Sayang, tolong geser sedikit.” Neta meminta sang suami yang memasang foto keluarga untuk membuat figura lurus.
“Segini.” Dathan menggeser figura.
“Lagi ... lagi ....” Neta meminta Dathan menggeser figuranya.
“Sudah.” Neta tersenyum. Akhirnya pas juga mereka memasang foto keluarga.
Setelah seminggu pemotretan, akhirnya foto jadi juga. Foto keluarga menggantikan foto keluarga sebelumnya. Di mana hanya Dathan, Neta, dan Loveta.
Mendengar jika posisi sudah pas, tentu saja membuatnya segera beralih untuk melihatnya. Dilihatnya posisi foto memang benar-benar pas. Tidak miring seperti tadi.
“Lihatlah, istriku begitu cantik, anakku tampan dan cantik.” Dathan mengagumi semua yang berada di dalam foto.
“Dan kamu juga tampan.” Neta melingkarkan tangannya di lengan Dathan. Tatapannya penuh damba pada pria yang begitu dicintainya.
__ADS_1
“Kamu selalu bisa membuat aku berbunga-bunga.” Dathan mendaratkan kecupan di pipi sang istri. Gemas sekali dengan pujian sang istri.