
Semalam Neta sudah bekerja keras untuk menciptakan anak laki-laki yang dikatakan oleh Dathan. Pagi itu wanita yang sekarang menyandang gelar istri itu, begitu lelah. Ketika matahari mulai menampakkan sinarnya, dia justru masih asyik di balik selimut.
Dathan yang melihat sang istri, tidak tega membangunkannya. Jadi dia membiarkan Neta untuk tetap tidur.
Dathan yang bangun segera menyiapkan sang anak. Rencananya, mantan istrinya akan menjemputnya hari ini. Karena Neta masih tidur, jadi dia yang akan menggantikan tugasnya.
“Papa nanti Lolo mau main masak-masak dengan mama.” Loveta sudah membuat rencananya hari ini. Tentu saja itu membuatnya bersemangat sekali.
“Iya, nanti Cinta bisa ajak mama.” Dathan yang sibuk mengikat rambut anaknya itu mendukung apa yang akan dilakukan oleh anaknya.
“Nanti apa ada nenek kemarin itu di rumah mama, Pa?” Loveta memutar kepalanya. Melihat sang papa yang duduk tepat di belakangnya.
Dathan memikirkan apakah mantan mertuanya itu akan ke datang juga ke apartemen Arriel. “Papa tidak tahu, tetapi jika nenek datang. Cinta bisa dekat dengan nenek.” Dathan memberikan pengertian pada sang anak.
Loveta mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tapi, nenek tidak jahat ‘kan?” Dia memastikan kembali.
“Setiap nenek pasti sayang dengan cucunya. Jadi jangan khawatir.” Dathan yang selesai mengikat rambut anaknya langsung tersenyum. Mencoba untuk menenangkan anaknya.
Loveta mengangguk. Dia yakin neneknya pasti akan menyayanginya.
Usai bersiap, Dathan mengajak anaknya sarapan. Kemudian menunggu Arriel yang akan segera datang. Tak berselang lama, Arriel memang langsung datang. Jadi Loveta tidak menunggu lama.
“Mama.” Loveta yang melihat sang mama langsung berlari menghampiri.
__ADS_1
Arriel selalu saja merindukan anaknya. Padahal baru kemarin dirinya bertemu. “Sayang.” Dia mendaratkan kecupan di dahi sang anak.
Arriel beralih pada Dathan. Dilihatnya hanya ada Dathan seorang. Tidak ada Neta. Tentu saja itu membuatnya penasaran. Karena tidak biasa-biasanta Neta tidak mengantarkan anaknya saat pergi.
“Neta ke mana, Than?” Rasa penasaran Arriel mengantarkannya untuk bertanya.
“Dia sedang istirahat.” Dathan menjawab datar.
Arriel mengerti saat dijelaskan. Dia berpikir mungkin Neta sedang sakit. Karena itu istirahat. Jika dia sehat, tidak mungkin jika tidak mengantar Loveta.
“Baiklah, kalau begitu. Aku pamit dulu.” Arriel langsung bergegas untuk membawa Loveta. Rencananya, dia ingin membawa Loveta ke rumah mamanya.
Loveta melambaikan tangannya. Sampai saat masuk ke mobil pun, dia terus melambaikan tangan.
Dathan pun melakukan hal yang sama. Senyum tipis di wajahnya mengantarkan sang anak yang pergi dengan sang mama.
“Bibi sudah siap?” Saat masuk Dathan berpapasan dengan asisten rumah tangga.
Tadi Dathan memberikan libur. Hal itu langsung disambut bahagia oleh asisten rumah tangga. Dia pun segera berencana ke rumah saudaranya.
“Sudah, Pak.”
Dathan merogoh kantung celananya. Mengambil dompet yang disimpannya di saku celana. Dari dalam dompet, Dathan mengambil beberapa lembar uang berwarna merah. Kemudian memberikannya untuk asisten rumah tangga.
__ADS_1
“Kenapa banyak sekali, Pak?” Asisten rumah tangga begitu terkejut sekali. Karena ternyata Dathan memberikan banyak sekali uang.
“Untuk membeli oleh-oleh untuk saudara.” Dathan tersenyum. Dia tahu pasti keluarga asisten rumah tangganya senang ketika dibawakan oleh-oleh.
“Terima kasih, Pak.”
Asisten rumah tangga segera pergi. Bersama penjaga rumah yang memang suaminya, mereka berdua pergi. Dathan segera mengunci pintu ketika semua orang pergi. Memastikan jika semua akan aman.
...****************...
Neta mengeratkan selimut yang tersingkap. Pendingin ruangan membuat tubuhnya yang hanya memakai baju tidur dengan tali spageti terbuka. Saat menarik selimut, Neta menyadari jika tidak ada suaminya di sebelah. Karena saat gerakan tangannya menarik selimut, harusnya tangannya menyenggol sang suami.
Neta membuka matanya. Sisi ranjang tampak kosong. Artinya sang suami sudah bangun. Neta yang melihat sang suami sudah tidak ada, segera mengalihkan pandangan ke arah jam dinding yang berada di dinding kamar.
“Jam sembilan.” Mata Neta yang tadinya terpejam, seketika terbuka lebar. Dia begitu terkejut ketika mendapati jika ini sudah siang. Padahal dia harus membantu Loveta untuk bersiap.
Dengan gerakan cepat, Neta menyingkap selimut yang membungkus tubuhnya. Tanpa menggunakan alas kaki, dia segera berlari keluar. Ingin ke kamar Loveta untuk membantu anaknya itu.
Suara kaki Neta yang berlari menuruni anak tangga, terdengar sampai ke dapur. Tentu saja itu membuat Dathan yang sedang asyik memasak, mengecek sang istri.
Neta terus berlari tanpa peduli apa pun. Yang dia pikirkan hanya satu. Ke kamar anaknya secepatnya.
Saat membuka pintu, tampak kamar Loveta kosong. Neta segera menuju ke kamar mandi untuk mengecek keberadaan anaknya.
__ADS_1
“Cinta ... Cinta ....” Neta memanggil anaknya terus menerus. Namun, tidak ada suara sama sekali di sana. Anaknya tidak menjawab sama sekali.
Neta yang tidak mendapati sang anak segera keluar. Mencari anaknya di ruangan lain.