
Dathan menatap malas. Namun, dari pada sang istri tidak mendapatkan buah yang diinginkan. Lebih baik berkorban sedikit.
“Cepat.” Dathan meminta Reno naik punggungnya.
Dengan cepat Reno naik ke punggung Dathan. Di gendongan Dathan, Reno segera meraih pohon jambu. Karena jauh lebih tinggi Dathan, jadi tentu saja itu membuat Reno mudah untuk meraih buah jambu.
Pemandangan itu membuat Neta tersenyum. Merasa lucu dengan dua pria itu. Padahal usia mereka sudah tidak muda lagi, tetapi tetap saja melakukan hal konyol.
“Sudah berapa bulan hamil?” Bu Monica lebih tertarik dengan kehamilan Neta. Mengingat Neta yang menginginkan jambu.
“Baru tujuh minggu, Bu.” Neta tersenyum ketika ditanya.
Bu Monica tersenyum. “Masih muda sekali. Hati-hati. Jangan terlalu lelah.” Sebagai orang yang sudah pernah hamil, tentu saja dia memberikan nasihatnya.
“Tentu, Bu.” Neta tersenyum.
Bu Monica terus menatap Neta. Wajah Neta yang cantik membuatnya terus memandanginya.
“Ibu tinggal di sini dengan siapa?” Neta begitu penasaran sekali. Sejak tadi, dia tidak melihat ada orang. Jadi tentu saja itu membuatnya ingin tahu.
“Dengan suami, kebetulan suami sedang sakit stroke. Jadi dia ada di dalam rumah.”
Bu Monica menceritakan apa dengan siapa dirinya tinggal. “Kebetulan anak sedang bekerja di luar negeri.” Dia lanjut menceritakan.
Neta mengangguk mengerti. Ternyata di usia yang cukup tua Bu Monica harus mengurusi suaminya.
“Terus Uncle. Sebelah sana.” Loveta memberitahu di Reno yang sedang memetik buah.
__ADS_1
Reno menuruti apa yang dikatakan Loveta. Dia memetik tepat yang ditunjuk Loveta.
Akhirnya, Dathan dan Reno selesai juga. Mereka dapat satu kantung buah jambu air. Hal itu membuat Neta begitu senang sekali. Tak sabar untuk memakannya.
“Terima kasih, Bu, sudah mengizinkan kami memetik buah jambu.” Neta dengan sopan berterima kasih. Bu Monica cukup baik, karena mengizinkannya memetik buah.
“Sama-sama. Jika kurang datanglah ke sini lagi.” Bu Monica senang ketika Neta dan yang lain datang.
Neta mengangguk. “Saya permisi dulu.”
Neta berpamitan. Disusul oleh Dathan, Reno, dan Loveta. Bu Monica senang kedatangan tetangga mereka. Karena rumah seketika ramai.
Reno mengajak Neta dan Dathan ke rumah. Mengingat rumahnya hanya berada di sebelah rumah Bu Monica.
“Kalian dari mana?” tanya Rifa yang melihat suaminya bersama Dathan, Neta, dan Loveta.
“Wah ... ini enak jika dibuatkan sambal.” Rifa berbinar melihat jambu air.
“Kak Rifa bisa buat sambalnya?” tanya Neta.
“Bisa, ayo aku buatkan.” Rifa segera mengajak Neta ke dapur.
Neta begitu bersemangat sekali. Dia membawa plastik berisi buah ke dapur untuk segera dicuci.
Di saat sang istri sedang asyik membuat bumbu sambal untuk buahnya, Dathan dan Reno menikmati kopi yang dibuat asisten rumah tangga. Mengobrol banyak hal di ruang keluarga.
Loveta pun menggunakan waktu untuk bermain dengan Richa. Apalagi mereka sudah lama tidak bertemu.
__ADS_1
...****************...
Neta merebahkan tubuhnya. Siang tadi dia menikmati waktu bersama dengan keluarga Reno. Jarang-jarang mereka bisa berkumpul. Mengingat terkadang ada saja kegiatan mereka di hari minggu.
“Astaga, punggungku sakit semua.” Dathan mengeluhkan punggungnya yang tadi siang menggendong Reno. Temannya itu benar-benar mengerjainya. Dibanding Reno yang mengendongnya, lebih lama dirinya yang menggendong.
“Sini, aku pijat.” Neta tentu saja tidak tega melihat sang suami yang kesakitan.
“Benarkah?” Dathan benar-benar berbinar. Kapan lagi dipijat sang istri.
“Iya.” Neta segera mengambil lotion untuk memijat Dathan. Membawanya ke tempat tidur untuk menunggu sang suami.
Dathan segera membuka bajunya. Namun, tak hanya bajunya saja, tetapi celana yang dipakainya juga dibuka. Neta yang melihat aksi sang suami, hanya terperangah saja. Kenapa suaminya harus membuka semuanya.
“Kenapa dibuka semuanya? Yang mau dipijat hanya punggung, kenapa membuka celana juga?” Neta benar-benar heran.
“Siapa tahu kamu mau memijat yang lain.” Dathan mengedipkan matanya, kemudian merebahkan tubuhnya dengan posisi tengkurap.
Neta hanya menelan salivanya. Sepertinya suaminya punya cara lain menuntasnya hasratnya ketika tak bisa menjamahnya saat usia kehamilannya masih muda.
Neta memilih mengabaikan pikirannya itu. Kemudian berlalu memijat sang suami. Memulai dari bahu ke pinggang.
“Sepertinya kamu menyerap ilmu pijat-memijat dengan baik.” Dathan merasakan pijatan yang dilakukan Neta begitu nikmat. Tidak menyangka sang istri juga pandai melakukannya.
“Ketika gurunya pandai mengajari, tentu saja muridnya pintar.” Neta tersenyum.
Dathan menoleh ke arah belakang di mana istrinya berada. “Kalau begitu aku akan ajari satu lagi teknik memijat. Pasti kamu akan cepat menyerapnya.” Senyum menyeringai menghiasi wajah Dathan. Tentu saja dia akan mengambil keuntungan dari apa yang diajarkannya.
__ADS_1
Neta hanya menatap curiga. Suaminya selalu pandai mencuri kesempatan, dan kali ini, dia yakin sang suami akan melakukannya.