
Di dalam kamar Neta merias wajahnya. Dia ingin tampil baik di acara lamaran ini. Walaupun hanya lamaran sederhana, tetapi tetap saja dia ingin memberikan yang istimewa.
Suara ketukan pintu terdengar ketika Neta sibuk merias wajahnya. Saat pintu terbuka, tampak Maria di balik pintu.
“Apa sudah datang?” tanya Neta memastikan.
“Iya, sudah datang.” Maria membenarkan apa yang diucapkan oleh Neta.
Jantung Neta begitu berdebar. Padahal dia sudah mendapatkan lamaran dari Dathan. Namun, tetap saja dia berdebar-debar. Mungkin karena kali ini lamaran akan dilakukan di hadapan banyak orang.
“Ayo.” Mari mengajak Neta untuk keluar dari kamarnya.
Neta segera berdiri. Dia keluar dari kamar bersama dengan Maria. Mereka berjalan ke ruang tamu.
Saat sampai di ruang tamu, Neta melihat jelas sudah ada orang-orang di sana. Di sana, Neta melihat jelas ada Dathan, Reno, Richa, Loveta, dan sepasang pria dan wanita yang Neta yakini itu adalah orang tua Reno. Kemarin Dathan sudah menjelaskan jika nanti akan meminta bantuan mereka menemani ke acara lamaran.
Dathan tersenyum melihat kekasihnya. Neta memang cantik sekali. Membuatnya tidak mau mengalihkan pandangannya.
Neta langsung menyalami semuanya. Termasuk Dathan. Saat melihat kekasihnya itu, senyum manis menghiasi wajahnya. Di saat seperti ini Dathan masih bisa menggodanya dengan mengedipkan matanya. Reno yang melihat aksi sang teman hanya menggeleng heran. Begitulah kelakuan sang duda. Selalu saja ada-ada saja.
__ADS_1
Loveta begitu girang sekali ketika melihat Neta. Neta pun mendaratkan kecupan di pipi gadis kecil itu. Usai menyalami dan menyapa semuanya, Neta duduk di samping ibu panti. Berhadapan dengan Dathan dan keluarga.
“Terima kasih karena sudah menerima kedatangan kami. Mungkin Ibu dan yang lain sudah tahu dari Neta apa yang membuat saya datang ke sini. Namun, di sini saya ingin menjelaskan kembali kedatangan kami.” Dathan menatap satu per satu orang di depannya. “Saya datang ingin melamar Neta, Bu. Meminta restu untuk menjadikan Neta istri saya.” Dathan menatap Bu Kania. Dia langsung memberitahu alasanya datang. Pandangannya teralih pada Neta sesaat setelah menjelaskan apa maksud kedatangannya. Dia tersenyum manis pada wanita yang dicintainya itu.
Senyum tipis tertarik di sudut bibir Neta. Dia merasa senang ketika Dathan menyampaikan niatnya untuk menikahinya. Rasanya, dilamar secara langsung pada orang tua adalah hal yang begitu menakjubkan.
Bu Kania menoleh ke arah Neta. Tangannya berangsur meraih tangan Neta. Menggenggamnya erat. Neta sejak kecil bersamanya. Dulu dia menemukan Neta saat Neta masih bayi merah. Jadi Bu Kania sudah merawat Neta sejak kecil sekali. Sehingga sudah menganggap Neta seperti anaknya sendiri.
Perasaannya diliputi rasa senang dan sedih. Senang karena akhirnya anaknya menemukan pria yang tepat, dan sedih karena harus melepaskan Neta. Namun, sebagai orang tua yang baik, dia ingin anak-anaknya menemukan kebahagiaannya.
“Tentu saja Ibu merestui kamu dan Neta untuk menikah.” Bu Kania mengeratkan genggaman tangannya. “Ibu berharap kamu bisa menjaga Neta dengan baik.” Bu Kania menatap Neta sejenak sebelum beralih ke Dathan,
Neta tak kuasa menahan air matanya. Merasa begitu terharu dengan yang dikatakan oleh ibunya.
Akhirnya Bu Kania pun memberikan restunya pada Neta dan Dathan. Kini tinggal mereka melanjutkan kembali membahas rencana pernikahan mereka Neta dan Dathan.
“Jadi kapan rencana pernikahannya?” Bu Kania langsung melempar pertanyaan itu. Melanjutkan obrolan tentang pernikahan Neta.
“Pernikahan akan diadakan dua minggu, Bu. Jadi ibu dan semua anak panti bisa bersiap.”
__ADS_1
Adriel menautkan alisnya ketika Dathan membawa nama anak panti. Karena rasa penasarannya itu, dia pun segera melemparkan pertanyaannya. “Maksudnya, Pak Dathan akan membawa semua anak panti?” Dia mencoba memastikan kembali.
“Anak-anak panti di sini adalah adik-adik Neta juga, dan saat pernikahan kakaknya, tentu saja mereka harus hadir. Saya sudah siapkan kamar hotel untuk semua anak-anak nanti. Nanti anak-anak bisa datang sehari sebelum pernikahan agar bisa menikmati suasana di hotel.” Dathan sudah menyiapkan semuanya. Dia ingin kebahagiaannya juga dirasakan oleh adik-adik Neta. Dari pada dia mengundang orang-orang kaya, bukankah lebih baik dia mengundang mereka semua. Ini akan jauh lebih bermanfaat.
Neta terperangah mendengar apa yang diucapkan Dathan. Pria itu tidak membahas sama sekali dengannya selama ini. Tentu saja itu membuatnya terkejut. Namun, satu hal yang membuat Neta terharu, Dathan ingin membuat anak-anak panti bahagia. Membagi kebahagiaannya pada mereka.
Bu Kania juga terharu sekali. Ini pasti akan jadi hal indah yang akan dirasakan oleh anak-anak panti. Akan jadi kenangan untuk mereka kelak ketika mereka sudah dewasa.
“Terima kasih sudah mau memikirkan anak-anak juga. Pasti mereka akan sangat senang sekali jika tahu jika mereka akan datang ke pernikahan Neta.” Bu Kania tersenyum.
“Untuk nanti baju yang dipakai, semua akan diurus oleh Rifa. Semua anak-anak di sini akan dibuatkan jas dan gaun khusus untuk mereka.” Dathan menambahkan kembali sambil menunjuk Rifa. Memberitahu mana orang yang akan membantu mereka semua.
Bu Kania mengangguk senang. Air matanya lolos dari mata yang sudah mulai menua itu.
“Aku akan jamin anak-anak akan bersikap baik dalam pesta.” Adriel tidak akan membiarkan pesta berantakan karena anak-anak. Dia akan menunjukan jika anak-anak memang semua baik-baik. Hingag Dathan tidak akan pernah menyesali mengundang mereka semua.
“Aku percayakan mereka padamu.” Dathan tersenyum.
Neta tidak bisa berkata-kata. Air matanya pun tanpa sadar menetes karena apa yang dilakukan Dathan. Dia benar-benar akan membuat perhitungan nanti saat acara selesai. Karena tidak mengatakan apa-apa padanya sebelumnya. Walaupun ini hal yang membahagiakan, tetapi dia terlalu terkejut.
__ADS_1
Saat Dathan berbicara, beberapa anak panti mendengar. Mereka bersorak senang karena akan diajak menginap di hotel. Suara sorakan pelan mereka membuat Loveta mengalihkan pandangan. Ternyata Liam dan teman-temannya yang bersorak. Loveta pun langsung melambaikan tangannya pada Liam. Merasa senang melihat anak laki-laki yang memberikannga topi itu.
Pria kecil yang tampan itu tersenyum dan ikut melambaikan tangannya. Sejak tadi dia sudah melihat Loveta ada di sana. Walaupun dia tidak tahu kenapa ada Loveta, tetapi dia senang melihat gadis kecil itu.