Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Tidak Perlu Mengantarkan!


__ADS_3

“Apa kamu lupa jika manajermu tadi menyuruhmu pulang denganku?” Dathan justru balik bertanya. Dia seolah tanpa dosa sama sekali.


Neta hanya mengembuskan napasnya. Masih ada Loveta dan yang lainnya. Tentu saja dia tidak bisa meluapkan kekesalannya. Karena tidak mau terdengar oleh anak-anak. Tidak baik untuk mereka yang mendengarnya.


Dathan memberikan kode pada Reno dan Rifa. Meminta mereka mengajak anaknya untuk masuk ke kamar. Reno dan Rifa langsung mengerti ketika Dathan memberikan kode. Dengan segera dia pun langsung membawa anak-anak masuk ke dalam kamar. Kini tinggallah Dathan dan Neta berada di depan pintu.


“Pak Dathan tidak perlu mengantarkan saya.” Neta segera mengayunkan langkahnya ketika selesai berbicara. Dia menuju ke lift untuk menuju ke lantai bawah.


Dathan menarik sudut bibirnya ketika melihat aksi kesal Neta. Entah kenapa justru itu sangat menggemaskan sekali. Dengan tanpa berdosanya, Dathan mengayunkan langkah mengekor di belakang Neta. Dia tidak memedulikan sama sekali penolakan Neta.


Neta menoleh ke belakang. Dia kesal sekali karena melihat Dathan yang mengekor di belakangnya. “Saya sudah bilang, tidak perlu Pak Dathan mengantarkan!” Neta masih meluapkan kekesalannya.


Ting ….


Lift terbuka. Dathan mengabaikan Neta dan masuk ke lift. Neta yang melihat hal itu merasa kesal sekali. Dathan benar-benar tidak mendengarkannya. Hal itu tentu saja membuatnya naik darah.


“Apa kamu akan diam di situ dan tidak masuk?” Dathan lagi-lagi dengan tenang menatap Neta.


Neta mengembuskan napasnya kesal. Dengan langkah kesal dia masuk ke dalam lift. Di dalam lift hanya ada mereka berdua. Tentu saja hal itu membuat Neta semakin kesal. Neta yang kesal hanya membuang muka saja. Tidak sama sekali mau berbicara dengan Dathan. Beruntung di lantai berikutnya ada seseorang yang masuk ke lift. Jadi paling tidak, dia aman karena tidak harus berbicara dengan Dathan.


Lift akhirnya terbuka. Neta bersiap untuk keluar, tetapi menunggu orang di depannya keluar terlebih dahulu.


“Tunggu aku di lobi.” Dathan menatap Neta sebelum gadis itu keluar.


Neta hanya menatap malas. Dia segera keluar setelah orang di depannya itu keluar. Tak mau berurusan dengan Dathan dia segera menuju ke depan lobi. Namun, tiba-tiba langkahnya semakin pelan. Pikirannya tiba-tiba membayangkan apa yang bisa diambil keuntungan dari peristiwa ini.

__ADS_1


“Bukankah aku mau mewawancarainya?” Neta melempar pertanyaan itu pada dirinya sendiri. Dia merasa jika dia bisa memanfaatkan moment ini. “Tapi, aku kesal.” Neta masih terngiang panggilan ‘sayang’ yang ditujukan oleh Dathan padanya. Belum lagi Dathan yang membuat masalah karena tiba-tiba datang di acara makan malam dengan klien dan membuat sang manajer marah.


Neta memilih berhenti. Dia memikirkan bagaimana apa yang terjadi dan apa hikmah dari yang baru saja terjadi. Neta memang selalu begitu. Dia memang jarang menyalahkan keadaan. Alih-alih menyalahkan atau mencari-cari kesalahan, dia lebih memilih mencari keuntungan atua hikmah dari masalah yang terjadi padanya.


“Jika dia bilang ingin menyelamatkan aku dari singa artinya dia peduli padaku.” Neta mengambil kesimpulan itu. “Artinya aku bisa memanfaatkan itu untuk memintanya wawancara.” Akhirnya Neta bisa menemukan ide baik untuk apa yang baru saja dialaminya.


“Masalah BuMa. Aku bisa atur besok. Jika aku bilang yang datang adalah Dathan Fabrizio, pasti dia tidak akan marah. Lagi pula, dia sudah dapat perhiasan dari Pak David-dua. Artinya itu sudah sangat untung sekali.” Neta yang memikirkan manajernya yang pastinya akan marah, akhirnya menemukan cara untuk mengatasinya. Kini tinggal memanfaatkan keadaan untuk membuat Dathan mau diwawancara.


Mobil Dathan tampak berhenti di depan lobi. Neta yang memikirkan banyak hal tadi memang cukup lama berhenti. Saat melihat Dathan, dia merasa jika tidak boleh sampai niatnya diketahui Dathan.


Dengan percaya diri Neta mengayunkan langkah menuju ke depan lobi. Dia masih memasang wajahnya kesal pada Dathan. Tepat di samping mobil Dathan, Neta berdiri saja. Pura-pura menunggu taksi.


Dathan yang melihat Neta diam saja dan tampak kesal hanya bisa tertawa dari dalam mobil. Dia merasa lucu dengan aksi Neta itu. Dengan segera Dathan menurunkan kaca mobilnya. Menundukkan tubuhnya agar dapat menjangkau wajah Neta.


Sayangnya, Neta justru membuang muka. Dia tidak mau terlihat begitu cepat luluh. Walaupun wajahnya berusaha untuk pura-pura tidak peduli, tetapi di dalam hati, dia takut jika Dathan benar-benar tidak akan membujuknya dan justru mengabaikannya.


“Aku tahu kamu kesal, tapi ada banyak yang harus kita bicarakan. Jadi masuklah.” Dathan kembali membujuk Neta.


Kali ini Neta merasa sudah cukup aktingnya. Dia harus masuk dan segera mendapatkan keuntungan dari kedatangan Dathan yang merusak makan malam, membuatnya kehilangan perhiasan, dan tentunya orang mengira Dathan adalah kekasihnya.


Neta mengayunkan langkahnya mendekat pada mobil Dathan. Dia segera membuka pintu mobil dan masuk ke mobil.


Dathan yang melihat Neta luluh merasa lega. Karena paling tidak, Neta mau diantar pulang. Memang benar adanya. Banyak yang harus dibicarakan dengan Neta.


Neta segera memasang sabuk pengaman di tubuhnya. Dia masih memilih diam karena belum berani membuka pembicaraan.

__ADS_1


Dathan yang melihat Neta sudah siap, akhirnya melajukan mobilnya. Dia mengantarkan Neta untuk pulang ke tempat kos miliknya.


Di dalam mobil tidak ada yang bicara. Mereka berdua memilih diam. Neta memilih membuang muka ke arah luar. Melihat pemandangan di luar.


Dathan menoleh ke arah Neta. Membagi konsentrasinya pada jalanan di depannya. Dia melihat Neta yang tampak masih kesal.


“Apa kamu akan diam terus?” Akhirnya Dathan mulai pembicaraan. Memecah keheningan di dalam mobil.


Neta masih diam. Dia kini justru bingung harus menanggapi apa ucapan Dathan.


“Kamu kesal karena aku datang ke makan malammu dengan buaya darat itu?” Dathan menatap Neta. Dia tahu apa yang membuat Neta kesal.


Di saat Dathan mengangkat pembicaraan tentang makan malam, akhirnya itu membuatnya berani. “Kenapa Pak Dathan datang ke meja kami?” Dia langsung melempar pertanyaan pada Dathan.


Dathan tampak berpikir. “Aku hanya kasihan saja denganmu yang harus mendapatkan rayuan dari buaya darat itu saja.” Dia menjawab dengan enteng.


Neta sudah mengerti kenapa Dathan takut dirinya dekat David. Mengingat David terkenal dengan banyak skandal. “Lalu kenapa Pak Dathan memanggil ‘sayang’ pada saya?” Neta masih penasaran sekali dengan panggilan itu. Panggilan itu mengusik pikirannya sekali.


“Memang kenapa jika aku memanggil ‘sayang’?” Dengan polosnya Dathan balik bertanya. Karena jalanan di depannya kosong, dia fokus pada jalanan. Sehingga membuatnya tidak menoleh pada Neta.


“Kenapa Pak Dathan balik bertanya?” Neta kembali terpancing. Dia merasa jika Dathan harusnya menjawab pertanyaannya bukan justru balik bertanya.


Dathan menepikan mobilnya. Berbicara dengan menyetir benar-benar membuatnya tidak berkonsentrasi. Neta hanya pasrah ketika Dathan menepikan mobilnya. Dia tahu jika Dathan tidak fokus membagi konsentrasinya.


Dathan melepaskan sabuk pengamannya dan memutar tubuhnya menghadap ke arah Neta. “Kamu mau tahu alasannya?”

__ADS_1


__ADS_2