
Neta dan Dathan kembali ke mobil. Ternyata yang membuat sang suami dan anaknya diam adalah karena takut dirinya menabrak. Hal itu membuat Neta sedikit kesal. Padahal jelas-jelas dia lancar mengemudikan mobil.
“Sayang, kamu sendiri yang tadi bilang jika kami seperti naik roller coaster. Jadi Cinta mengatakan seperti kamu.” Dathan mencoba membujuk sang istri. Sang istri yang tampak kesal membuatnya takut.
Neta mengembuskan napasnya. Memang dirinya tadi yang mengatakan hal itu. Jadi wajar saja jika anaknya mengatakan hal itu.
“Sudah jangan marah.” Dathan mencoba membujuk kembali. “Nanti jika sudah terbiasa, pasti kami tidak akan tegang.” Dia masih berusaha meyakinkan istrinya.
“Iya.” Neta akhirnya luluh juga.
Dathan bernapas lega. Marahnya sang istri lebih seram dari marahnya anaknya. Jadi tentu saja dia merasa sedikit takut sekali.
“Ayo, cepat antar aku ke kantor.” Dathan memasang senyumnya. Tak mau sang istri marah.
Neta kembali tersenyum ketika melihat senyum sang suami. Dengan segera dia menyalakan mobilnya kembali. Kemudian melajukan mobilnya menuju ke kantor Dathan.
Selama perjalan Dathan masih berdebar-debar. Ketika sang istri berhenti di lampu merah, ketika sang istri berbelok, semua itu membuat jantungnya berdebar-debar. Namun, dia terus memasang senyum di wajahnya.
“Hari ini aku mau masak ikan.” Sambil menyetir Neta bercerita rencananya. “Nanti aku akan beli ikan di supermarket sekalian.” Dia begitu bersemangat sekali menikmati waktu sebagai ibu rumah tangga.
Saat sang istri mengajak mengobrol rasanya jantung Dathan semakin berpacu dengan cepat. Dia berharap sang istri tidak banyak bicara dan fokus menyetir saja. Namun, mau bagaimana lagi, sang istri mengajaknya bicara. Jadi tentu saja dia tidak bisa jika diam saja. Yang ada nanti istrinya marah.
__ADS_1
“Iya, nanti malam kita akan makan malam bersama dengan masakanmu.” Dathan memamerkan senyum terbaiknya.
“Tentu saja.” Neta semakin senang mendengar sang suami yang antusias.
“Awas-awas.” Di depan ada motor yang berhenti mendadak. Dathan seketika panik.
Neta yang melihat hal itu tampak tenang. Dia mengerem perlahan agar suaminya tidak terbentur.
Dathan yang melihat sang istri begitu halus ketika mengerem merasa kagum. Biasanya orang-orang akan panik. Namun, ternyata sang istri tampak tenang. Dia kini yakin jika sang istri memang bisa mengemudi dengan baik. Sayangnya, itu belum membuat Dathan lega. Masih ada ketakutan yang menghantuinya.
Akhirnya Dathan sampai juga di kantor. Berada dalam satu mobil dengan sang istri memang membuatnya berdebar-debar. Namun, dia harus tenang agar tidak menyakiti sang istri.
“Nanti aku akan pulang dengan Reno.” Sebelum turun Dathan memberitahu sang istri. “Kamu hati-hati. Kabari aku jika ada apa-apa.” Satu kecupan mendarat di dahi Neta.
Dathan segera keluar dari mobil. Saat mobil sang istri pergi, barulah Dathan masuk ke kantor. Berjalan menuju ke ruangannya. Untuk mencapai ruanganya tersebut. Dia harus menaiki lift terlebih dahulu.
Di ruangannya, Dathan melonggarkan sedikit dasinya. Kemudian mengambil air putih yang berada di ruanganya. Jantungnya yang berdebar-debar membuatnya kehausan.
Suara ketukan pintu yang terdengar membuat Dathan yang sedang minum mengalihkan pandangannya. Melihat ke arah pintu untuk tahu siapa yang ke ruangannya. Dari balik pintu, ternyata Renolah yang datang. Hal itu membuat Dathan mengabaikan dan melanjutkannya minum.
“Apa kamu ke kantor jalan kaki?” Reno merasa aneh ketika melihat Dathan yang tampak begitu kehausan itu.
__ADS_1
“Lari dalam ketakutan.” Dathan menjawab setelah menyelesaikan minumnya. Meletakan gelas di meja kerjanya.
“Kenapa ketakutan?” Reno yang penasaran segera menghampiri Dathan yang sedang duduk di kursi kerjanya.
“Neta menyetir, dan itu membuat jantungnya berpacu dengan cepat.” Dathan menceritakan bagaimana takutnya dirinya. “Kata Cinta, seperti naik roller coaster.”
Seketika Reno tertawa. “Pasti wajah kalian pucat.” Dia membayangkan bagaimana wajah Dathan dan anaknya.
“Bukan pucat lagi, tiba-tiba aku jadi mayat hidup.” Dathan mengingat kembali bagaimana tadi dirinya di mobil.
Reno semakin terbahak. “Dia pertama kali bawa mobil?” tanyanya memastikan.
“Tidak, hanya saja ini pertama kali aku dan Cinta naik.” Dathan masih merinding membayangkan.
“Tapi, kamu selamat sampai di sini. Artinya dia bisa menyetir.” Reno merasa temannya berlebihan.
“Iya, hanya aja belum terbiasa.”
“Tapi, istrimu luar biasa juga. Istri pemilik IZIO, tetapi dia mengendarai mobilnya. Padahal tinggal suruh supir.” Reno merasa melihat Neta yang memang begitu mandiri.
“Aku terbiasa apa-apa sendiri, dan tiba-tiba Tuhan kirim Neta yang juga bisa apa-apa sendiri tanpa merepotkan orang lain.” Dathan tersenyum. Merasa memang Tuhan adil ketika mengirim pasangan untuk hambanya. Namun, sekali pun Neta manja, dia pun tidak keberatan. Karena dia pasti dengan senang hati memanjakan istrinya.
__ADS_1
Reno mengangguk. Membenarkan ucapan Dathan. Dia dan sang istri juga begitu. Istrinya juga tidak manja, dan tidak bikin sakit kepala.