
Neta dan Dathan segera menuju ke panti asuhan. Nanti, mereka akan bertemu dengan Loveta di sana.
Neta dan Dathan sampai bersamaan dengan Arriel dan Adriel. Bersama Arriel dan Adriel, ada Loveta. Loveta langsung berlari ketika melihat Neta dan Dathan. Dathan langsung menggendong anaknya dan mendaratkan kecupan di pipi. Dia mengarahkan tubuh sang anak untuk memiringkan tubuh anaknya agar sang istri dapat menjangkau. Ikut mendaratkan kecupan juga.
“Hai, Ta.” Arriel menyapa. Ibu hamil yang kini usia kandungannya sudah dua bulan itu tampak cantik dengan gaun bunga-bunga.
“Hai, Riel.” Neta yang menyapa menautkan pipinya.
“Perut kamu sudah besar sekali.” Arriel memegangi perut Neta.
“Iya, sudah tujuh bulan.” Neta menjelaskan pada Arriel.
“Wah ... aku tak sabar menunggu sebesar ini.” Arriel tak sabar perutnya akan membesar seperti Neta. Tentu saja itu membuatnya benar-benar penasaran.
“Nanti, kamu akan merasakannya.” Neta tersenyum.
__ADS_1
Arriel menyapa Dathan. Kemudian mereka semua bersama-sama menuju ke dalam panti. Di dalam sudah ada Bu Kania dan Liam di ruang tamu. Mereka sedang menunggu mama Liam.
“Kak Liam.” Loveta begitu senang ketika bertemu dengan Liam.
“Hai, Lolo.” Liam begitu senang melihat Loveta.
Selang beberapa saat Julia datang. Semua menyapa Julia bergantian. Saat Liam ikut menyapa dengan hendak mencium punggung tangan, Julia langsung memeluk Liam. Air matanya pecah ketika melihat anaknya yang sudah besar dan tumbuh begitu tampan sekali. Julia tidak menyangka jika anak yang ditinggalkannya kini sudah besar sekali.
“Maafkan Mama.” Hanya kalimat itu yang diucapkan oleh Julia. “Mama sudah berusaha mencarimu. Namun, tidak dapat menemukanmu.” Sesuai dengan kesepakatan dengan Bu Kania, Julia mengatakan memang murni jika mereka terpisah sewaktu di taman hiburan. Itu karena agar Liam tidak merasa sakit hati karena ditinggalkan.
Julia melepaskan pelukannya. Mendaratkan kecupan di pipi Liam. Wajah Liam adalah perpaduan dirinya dan suaminya. Tentu saja itu membuatnya semakin tampan.
“Maafkan Mama.” Hanya kata itu yang dapat diucapkan.
“Iya, Ma. Liam memaafkan. Liam sudah dengar cerita dari Bu Kania jika Mama sudah mencari. Terima kasih sudah mencari Liam selama ini. Terima kasih sudah khawatir pada Liam.” Liam memang tumbuh dewasa di usianya. Mungkin karena dipaksa keadaan. Namun, itu justru membuatnya kuat bertahan dalam banyak hal.
__ADS_1
Air mata Julia semakin menetes. Anaknya benar-benar tumbuh dengan baik. Rasanya dirinya malu karena dengan kejamnya sudah meninggalkannya. Namun, kala itu dia tidak ada pilihan lain.
“Mama mencari Liam dan akhirnya sekarang Mama sudah menemukan Liam. Maukah Liam tinggal bersama Mama.” Julia membelai lembut wajah Liam. Menatap sang anak penuh harap.
“Liam mau.” Liam tentu tidak akan menolak jika mamanya ingin mengurusnya kembali. Apalagi mamanya datang jauh-jauh untuknya.
“Terima kasih, Sayang.” Julia kembali memeluk anaknya. Dia sungguh sangat bersyukur karena akhirnya bisa membawa anaknya.
Semua orang yang melihat hal itu merasa terharu. Akhirnya Liam bisa bertemu dengan mamanya. Mereka berharap kelak Liam mendapatkan kebahagiaan lebih dari di panti asuhan.
“Papi, kenapa Kak Liam menangis?” Di tengah-tengah drama pertemuan dua anak, Loveta berbisik pada papinya.
“Kak Liam bertemu dengan mama yang melahirkannya. Setelah ini, Kak Liam akan ikut mamanya.” Dengan polosnya Dathan menjelaskan.
“Kak Liam mau ikut mamanya? Tidak boleh. Kak Liam tidak boleh ke mana-mana.” Seketika Loveta menangis. Dia yang berduri di samping Dathan langsung berlari ke arah Liam. Memeluk erat Liam agar tidak pergi.
__ADS_1
Dathan merutuki kesalahannya. Dia lupa mengatakan pada anaknya dengan benar. Tadi dia terlalu fokus terharu pada Liam dan mamanya. Alhasil, saat ditanya dia jawab dengan polos.