Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Sama-Sama Menikmati


__ADS_3

Dathan memegangi bahu Arriel. Kemudian mendorong perlahan tubuh Arriel menjauh dari tubuhnya.


“Jangan membuat dirinya tampak murahan, Riel.” Dathan memberikan peringatan pada mantan istrinya itu.


Seketika Arriel malu dengan yang dilakukannya. Apalagi kini dia mendapatkan penolakan dari Dathan.


“Aku sudah jelaskan berkali-kali jika aku tidak mencintaimu. Sekali pun kamu menciumku, aku tidak akan pernah membalasnya.” Sekeras apa Arriel berusaha membangkitkan gairah Dathan, tetap saja itu tidak mempan. Lima tahun dia sudah berusaha menahan dirinya. Untuk hal sekecil ini, tentu saja dia tidak akan tergoda. “Aku peringatkan ini untuk pertama dan terakhir kali, jika kamu melakukannya lagi, aku tidak akan segan-segan bertindak kasar padamu! Aku bahkan akan melarangmu datang ke sini.” Dathan menatap tajam pada Arriel. Dia benar-benar kesal dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Arriel.


Arriel diam seribu bahasa. Dia tidak berani menjawab ucapan Dathan. Apalagi, baru saja dia dengan lancangnya mencium Dathan.


“Dengar baik-baik. Jangan mencoba mengusik hidupku. Aku ingin hidup bahagia, membangun kehidupanku lagi. Aku sudah menemukan wanita yang pantas menjadi istriku dan juga menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Aku harap kamu pun bisa melakukan hal itu juga. Kisah kita sudah berakhir sejak lima tahun yang lalu. Jadi tidak ada yang perlu diulang atau diperbaiki.”


Arriel merasa memang benar adanya jika Dathan sudah tidak memiliki rasa padanya.


Dathan merasa apa yang diucapkannya sudah cukup. Dia memilih untuk berbalik melanjutkan langkahnya ke kamar. Di kamar Dathan segera menuju ke kamar mandi. Membasuh bibirnya untuk menghilangkan jejak bibir Arriel yang tertinggal.

__ADS_1


Dathan melihat dirinya dari pantulan cermin. Sebenarnya dia bisa saja mengusir Arriel, tetapi dia masih memikirkan anaknya. Dia harus mempertahankan hubungan baik dengan Arriel demi anaknya. Walaupun mereka bukan suami-istri lagi, tetapi demi anaknya dia harus menjaga hubungan.


Di saat seperti ini, rasanya Dathan butuh satu orang yang bisa menangkan dirinya. Siapa lagi jika bukan Neta. Dathan segera keluar dari kamar mandi. Tangannya bergerak meraih kunci mobil yang diletakkannya di atas nakas. Tanpa berlama-lama, Dathan segera keluar dari kamarnya. Segera pergi ke kos milik Neta-kekasihnya.


Arriel yang berada dalam kamar Loveta melihat Dathan yang keluar dari kamarnya. Dia melihat Dathan yang pergi dari rumah. Hal itu membuat dadanya sesak. Dia yakin jika pasti Dathan pergi untuk menemui Neta.


“Harusnya aku sadar diri, jika semua sudah berakhir sejak lama. Sejak aku memutuskan untuk fokus pada pekerjaanku. Harusnya aku bersyukur Dathan memberikan ruang untuknya kembali dekat dengan Loveta, tetapi dirinya justru meminta lebih dari itu.” Arriel hanya merasakan sesak di dalam hatinya. Kesalahan masa lalu adalah kesalahannya. Jika pun Dathan tidak mau kembali, itu karena dirinya sendiri. Arriel sudah melepaskan Dathan, tentu saja itu tidak akan mudah kembali.


...****************...


Neta membuka pintu kamarnya. Saat pintu terbuka, tampak Dathan berdiri di depan pintu. Tadi tidak ada kabar sama sekali dari Dathan jika pria itu akan datang ke kos, jadi Neta cukup terkejut.


Dathan yang melihat sang kekasih membuka pintu segera masuk tanpa permisi. Dia segera mendaratkan bibirnya di bibir Neta. Perlahan, Dathan mendorong mundur tubuh Neta. Sambil berjalan masuk, Dathan menutup pintu dengan kakinya.


Dathan menyesap bibir manis milik Neta. Dia menyesap lembut bibi yang sedari tadi dirindukannya itu.

__ADS_1


Neta benar-benar terkejut dengan apa yang dilakukan Dathan. Gerakan Dathan yang tiba-tiba membuatnya tidak dapat mengimbangi Dathan. Neta sampai kesulitan untuk bernapas karena Dathan yang tak memberikannya celah mengambil napas sama sekali. Hingga akhirnya Neta mendorong tubuh Dathan agar melepaskan ciumannya.


“Kamu mau membunuhku?” Neta benar-benar kesal dengan yang dilakukan Dathan secara tiba-tiba.


“Bagaimana bisa aku membunuhmu jika aku saja tidak bisa hidup tanpamu?” Dathan balik bertanya pada Neta.


“Lalu kenapa menciumku seperti itu?” Neta menekuk bibirnya. Masih kesal dengan yang dilakukan Dathan. Mencium, tetapi tak memberikan ruang untuk bernapas.


“Maaf.” Dathan menundukkan pandangannya. Merasa menyesal karena mencium Neta dengan brutal.


Neta jelas melihat raut wajah Dathan yang berbeda dari biasanya. Dia menebak pasti ada apa-apa di rumah dengan Arriel, hingga pria itu lari ke sini.


Tangan Neta segera meraih dagu Dathan. Menegakkan kepala pria itu agar mau melihatnya kembali. Untuk sesaat mereka saling beradu pandang. Perlahan Neta mengangsur tubuhnya. Sedikit berjinjit, dia mendaratkan bibirnya pada bibir Dathan. Berbeda dengan ciuman tadi, kali ini ciuman lebih lembut.


Dathan yang merasakan bibir manis milik Neta, menyesapnya dengan lembut. Berbeda dengan tadi yang begitu bernafsu, kali ini dia melakukan dengan perlahan. Memberikan ruang untuk Neta sama-sama menikmati. Tangannya pun merengkuh pinggang Neta agar membuat Neta semakin dekat dengannya.

__ADS_1


Keduanya larut dalam pertukaran saliva itu. Menikmati setiap sesepan yang tercipta. Tangan Neta yang melingkar di leher Dathan membuat ciuman semakin dalam.


__ADS_2