
Dathan menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri. Tubuhnya masih terlalu lelah. Jadi tentu saja dia butuh mengembalikan kembali tenaganya. Dathan memiringkan tubuhnya menghadap sang istri. Sang istri masih memejamkan matanya, membuat Dathan tersenyum. Tangan Dathan membelai lembut wajah sang istri.
“Sayang, bangun. Kamu harus membersihkan tubuhmu.” Dathan berusaha untuk membangunkan tubuh sang istri.
Neta membuka matanya perlahan. Tubuhnya masih lemas. Jadi dia malas sekali untuk bangun.
“Aku lelah.” Neta sedikit mengeluh.
“Tapi, kamu harus membersihkan tubuhmu.” Dathan mencoba memberitahu sang istri. Meyakinkan sang istri untuk membersihkan diri.
Neta merasa pasti tidak nyaman. Apalagi merasa ada yang basah di bawah sana. Akan tetapi, tubuhnya terlalu malas untuk bangun. Entah berapa kalori yang sudah dikeluarkannya, hingga membuatnya merasa lelah sekali.
“Aku akan membawamu ke kamar mandi.”
Dathan mendaratkan kecupan. Tanpa mendengarkan jawaban sang istri Dathan segera bangkit dari tempat tidur.
Turun dari ranjang langkah Dathan diayunkan ke kamar mandi. Di kamar mandi, Dathan mengisi bathtub. Mengisinya dengan air hangat. Katanya, air hangat akan sedikit meredakan rasa perih yang dirasakan oleh sang istri. Sambil menunggu air penuh, Dathan kembali. Neta menutup matanya dengan tangan ketika melihat sang suami kembali. Sang suami yang dengan percaya dirinya berjalan tanpa memakai sehelai benang pun membuatnya malu ketika melihatnya.
“Kenapa harus ditutupi?” Dathan yang melihat Neta menutupi matanya dengan tangan langsung menyingkirkan tangan sang istri.
“Kamu tidak pakai baju.” Neta memprotes apa yang dilakukan sang suami.
“Memang kenapa? Hanya ada kamu di sini.” Dathan menyeringai. Senyumnya menghiasi wajah tampannya. Sungguh membuat Dathan semakin tampan saja.
“Iya, karena itu aku malu.” Neta mencebikkan bibirnya. Pipinya sudah merona bak tomat. Jantungnya semakin berdebar ketika melihat sang suami dengan percaya dirinya seperti itu.
“Kamu sudah merasakan tubuhku, kenapa harus malu?” Dathan terus saja menggoda sang istri. Melihat pipi sang istri yang merona memang memberikan kesenangan yang luar biasa untuk Dathan.
Neta semakin tersipu. Semakin malu ketika mendengar ucapan sang suami. Walaupun pada kenyataannya memang benar adanya.
“Sudah ayo.” Dathan segera menyingkirkan selimut. Ternyata sang istri tadi menutupi tubuhnya ketika ditinggal mengisi air di bathtub.
Neta yang melihat Dathan menyibak selimut membuatnya seketika menutupi tubuhnya. Kedua tangannya berusaha menutupi apa yang bisa ditutupi. Tangan kanannya menutupi dadanya, sedangkan tangan kirinya menutupi bagian intimnya.
__ADS_1
Dathan tersenyum ketika melihat Neta melakukan hal itu. Tentu saja itu membuatnya gemas. “Sebesar apa kamu berusaha menutupi, tetap saja aku dapat melihatnya. Aku sudah merekamnya dalam memoriku. Jadi aku tahu setiap sudut di sana.”
Neta semakin malu. Dathan benar-benar membuat salah tingkah terus.
Dathan segera menangkup tubuh sang istri. Membawanya dalam gendongannya. Tepat saat di mengangkat kaki sang istri, dia melihat noda merah yang menempel di tempat tidur. Tentu saja itu adalah tanda jika sang istri kini sudah tidak suci lagi.
Dathan segera membawa sang istri ke kamar mandi. Ketika berada dalam gendongan Dathan, Neta merasa jika malu. Dia memilih menyembunyikan wajahnya di dada sang suami.
Di kamar mandi, Dathan menurunkan sang istri dengan perlahan ke dalam bathtub. Air hangat yang disiapkan Dathan siapkan membuat tubuh Neta nyaman. Rasa perih yang tadi terasa, sedikit jauh lebih baik.
Dathan masuk ke bathtub. Dia menggosok tubuh sang istri dengan sabun. Membersihkan kotoran yang menempel di tubuh sang istri. Karena Neta duduk menghadap ke arahnya, tentu saja itu membuat Dathan menggosok tubuh sang istri bagian depan. Senyum Dathan terus menghiasi wajahnya, gemas melihat sang istri. Dia yang tak bisa menahan diri pun membenamkan bibirnya di bibir sang istri. Menyesapnya lembut. Tangannya masih bergerak menggosok tubuh sang istri. Sesekali mencuri kesempatan menyentuh tempat-tempat yang menjadi tempat favoritnya.
Jika seperti ini, sudah dipastikan acara membersihkan tidak akan cukup dalam waktu singkat. Karena ada yang harus dituntaskan ketika gairah mulai dirasakan.
...****************...
Neta tertidur pulas. Tubuhnya yang bersih dan lelah yang menerpa membuatnya begitu lelap sekali saat tidur. Dathan yang masuk untuk membangunkan sang istri. Dia naik ke atas ranjang untuk menghampiri sang istri.
“Sayang.” Tangan Dathan membelai lembut wajah Neta.
“Ayo bangun. Kamu harus makan.” Dathan berbisik tepat di telinga sang istri.
Suara Dathan itu justru terdengar merdu.
“Jika kamu tidak bangun, aku akan membuatmu berada di bawahku lagi.”
Mendengar kalimat itu seketika kedua bola mata indah milik Neta membulat sempurna.
“Aku lapar.” Neta dengan polosnya menatap Dathan.
Dathan hanya tersenyum. Dia yang gemas mendaratkan kecupan di pipi Neta. Dia segera mengulurkan tangan ketika sang istri ingin bangun. Dathan segera menutupi tubuh sang istri dengan kimono. Menutupi tubuh sang istri.
Saat keluar ke balkon Neta melihat lampu yang menghiasi tempat makan. Tampak indah sekali di tengah gelapnya lautan dan malam. Bintang di langit pun terhias sempurna. Menambah indah suasana makan malam.
__ADS_1
Dathan dan Neta menuju meja makan. Dengan segera Dathan menarik kursi dan mempersilakan sang istri untuk duduk. Makanan yang tersaji seketika membuat Neta lapar.
Dathan dan Neta menikmati makan mereka. Tenaga yang terkuras karena kegiatan mereka tadi memang membuat keduanya kelaparan.
“Apa masih sakit?” Dathan menanyakan di tengah-tengah makan.
“Masih sedikit.” Neta menjawab sambil mendekatkan jari telunjuk dan ibu jarinya. Tanda seberapa banyak sakitnya.
“Nanti jika dilakukan berkali-kali rasa sakitnya akan hilang.” Sepengalamannya memang seperti itu. Akan hilang jika nanti melakukan berkali-kali.
“Benarkah?” Neta menatap tidak percaya.
“Kita buktikan nanti.” Dathan mengedipkan matanya. Menggoda sang istri.
Pipi Neta seketika merona. Merasa malu sekali. Apa yang dikatakan Dathan seolah isyarat jika kegiatan tidak akan sampai di sini saja.
Mereka berdua menikmati makan sambil bercerita. Menceritakan banyak hal rencana ke depan mereka selama liburan.
Rencananya, mereka akan di sini sampai hari sabtu. Jadi mereka akan berbulan selama enam hari. Selama itu, tentu saja mereka akan memanfaatkan waktu dengan baik. Jika sudah di rumah, Dathan yakin akan berebut dengan Loveta. Yang ada dirinya belum puas menikmati waktu bersama.
“Jadi kita jemput Cinta hari apa?” Jika dihitung mereka pulang sabtu, tentu saja mereka akan sampai rumah di hari minggu.
“Aku akan menjemputnya senin.”
“Kamu sendiri?” Neta memastikan. Senin dia sudah masuk. Jadi tentu saja dia tidak akan bisa ikut.
“Kamu takut aku tergoda Arriel karena menjemput sendiri atau kamu takut tidak bisa menjemput Cinta?” Dathan tersenyum. Dia tidak bisa menebak apa yang dipikirkan Neta.
“Untuk apa aku takut kamu tergoda. Aku yakin kamu tidak akan berpaling dariku.” Dengan percaya dirinya Neta menjawab.
Dathan yang gemas mencubit pipi Neta. Yang dikatakan sang istri memang benar. Dia tidak akan berpaling dari sang istri. Entah sihir apa yang diberikan sang istri. Hingga membuatnya mabuk kepayang.
“Aku hanya merasa sedih tidak bisa menjemput Cinta.” Neta menjelaskan tentang kegundahan hatinya.
__ADS_1
“Bagaimana jika kita jemput sore hari. Jadi kita bisa menjemputnya bersama.” Dathan memberikan idenya.
Neta merasa itu ide yang bagus. Karena dia bisa menjemput gadis kecil yang kini jadi anaknya itu. “Baiklah.” Neta berbinar. Setuju dengan yang dibilang Dathan.