Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Panggilan Dari Syailendra Grup


__ADS_3

Pagi-pagi Dathan menjemput Loveta ke rumah Reno. Beruntung Loveta sudah mandi. Jadi saat pulang tinggal mengganti baju saja.


Seperti biasa, Dathan mengantarkan Loveta dulu ke sekolah. Baru dia mengantarkan Neta ke kantornya.


“Kabari aku jika ada apa-apa.” Sebelum Neta turun, dia memberitahu sang istri.


“Iya, aku akan kabari.” Neta sadar jika memang pasti ada konsekuensi atas semua yang terjadi.


Neta segera turun dari mobil. Saat mobil Dathan meninggalkan lobi kantor, segera Neta masuk ke kantor. Saat masuk dia masih melihat orang-orang yang melihatnya dengan tatapan aneh. Namun, Neta memilih mengabaikannya. Percuma jika memikirkan hal itu. Karena bisa jadi nanti dirinya pusing.


Neta masuk ke lift untuk mencapai ruangannya. Di belakangnya ada beberapa saling berbisik. Membicarakan Neta. Menganggap Neta yang tidak profesional. Karena memanfaatkan narasumber dan menjerat dengan cinta. Untuk saat ini Neta tidak bisa berkata apa-apa. Karena memang orang akan memandangnya seperti itu.


Neta keluar dari lift dan segera duduk di kursinya. Melakukan pekerjaanya seperti biasa. Di samping meja kerjanya sudah ada Maria di sana. Kemarin, dia sudah mendapati informasi dari kekasihnya. Jadi dia ingin mendengar dari Neta langsung.


“Ta, bagaimana?” Maria berbisik pada Neta.


“Memang benar Mauren yang melakukannya.” Neta menceritakan itu pada temannya.


“Lalu apa dengan Arriel juga?” Maria begitu penasaran sekali. Karena kemarin Martin bilang ada dua orang.


“Bukan.” Neta menggeleng.


“Lalu dengan siapa?” Maria bingung. Jika bukan dengan Arriel, dengan siapa Mauren melakukan hal itu.


“Dia melakukannya dengan mama Arriel.”


Maria membulatkan matanya. Ternyata orang yang melakukan hal gila ini adalah mantan mertua Dathan sendiri. “Apa dia merasa sakit hati Dathan menikah lagi?” Dia menebak.

__ADS_1


“Iya, dan dia ingin Dathan kembali pada Arriel.” Neta menjelaskan apa yang dikatakan Mauren.


Maria hanya bisa menggeleng heran. Bagaimana bisa semua itu dilakukan oleh mama Arriel. Padahal jelas-jelas Dathan sudah menikah.


“Pagi.” Adriel yang datang ke kantor langsung menyapa mereka.


Suara Adriel itu menghentikan Neta dan Maria yang sedang berbicara. Mereka mengalihkan pandangan pada Adriel.


“Pagi.” Neta dan Maria menjawab sapaan Adriel. Bersamaan juga dengan yang lain.


“Ta, bisa ke ruanganku.” Adriel yang melihat Neta pun meminta untuk ke ruangannya. Ada hal yang ingin dibicarakannya.


“Baik.” Neta mengangguk. Dia segera berdiri. Embusan napasnya dilakukan untuk sedikit menenangkan hatinya.


Neta berjalan di belakang Adriel. Ikut masuk ke ruangan Adriel. Di dalam ruangan, Adriel mempersilakan Neta untuk duduk. Karena ada yang akan dibicarakan.


Neta menelan salivanya. Dia benar-benar takut jika harus bertemu dengan CEO perusahaan tempatnya bekerja. Bukan lagi lewat manager, tetapi langsung ke CEO-nya langsung.


“Apa mereka akan memecatku?” Neta memastikan kembali.


“Aku benar-benar tidak tahu, Ta. Karena Beliau hanya meminta aku membawamu saja ke sana.” Adriel belum bisa menyimpulkan apa-apa.


Neta tahu, jelas Adriel tidak akan tahu akan hal ini. Kini Neta benar-benar berdebar-debar. Apa yang akan dilakukan CEO perusahaannya. Apa dia akan memecat Neta? Apakah dia akan menuntut Neta karena mencemarkan nama wartawan? Pikiran Neta pusing dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan itu.


“Kita akan pergi ke sana jam sepuluh. Jadi kamu bisa bekerja dulu.” Adriel kembali bersuara.


Neta mengangguk. Dia sadar jika apa yang terjadi akan berdampak pada pekerjaanya. Jadi mau tidak mau, dia harus bertanggung jawab atas semua itu. Terlepas siapa yang benar dan siapa yang salah.

__ADS_1


Adriel yang sudah selesai bicara pun mempersilakan Neta untuk keluar. Melanjutkan kembali pekerjaanya. Neta segera keluar. Melanjutkan pekerjaanya sebelum akhirnya bertemu dengan CEO perusahaan tempatnya bekerja.


...****************...


“Ren, apa kamu tahu pemilik Syailendra Grup?” Di kantor Dathan melempar pertanyaan itu pada temannya.


“Pak Syailendra?” Reno memastikan pada Dathan.


“Mungkin.” Dathan sendiri tidak tahu.


“Than, apa kamu lupa ingatan. Kita pernah datang ke pernikahan anaknya.” Reno memastikan kembali pada Dathan.


“Oh … ya. Kapan?” Dathan benar-benar lupa.


“Waktu itu kita datang, hanya saja banyak wartawan dan kamu meminta pulang.” Reno mencoba membangkitkan kembali memori Dathan.


Dathan mencoba mencari kepingan memorinya. “Yang katanya anaknya supermodel itu?” Dia memastikan lagi.


“Iya, anaknya menikah setelah skandal foto tanpa busana tersebar. Waktu itu undangannya mendadak. Kita memang hanya sebentar.”


Akhirnya setelah Reno membicarakan itu, barulah dirinya ingat. Waktu itu dia tidak lama bertemu dengan Syailendra. Karena memilih untuk segera pergi, mengingat banyak wartawan. Dulu Dathan anti dengan wartawan. Sekalinya datang ke acara dia hanya sekadar datang untuk menemui pemilik acara. Mengobrol sebentar dan kemudian berpamitan. Untuk beberapa orang mungkin Dathan lupa. Apalagi jika tidak bekerja sama dengan dirinya.


“Apa kita bisa menemuinya?” Dathan masih mencari celah untuk membantu istrinya.


“Aku akan coba hubungi Pak Syailendra. Kamu bisa bicara sendiri.” Reno tentu saja akan membantu sebisa mungkin.


“Terima kasih, Ren.” Dathan berharap jika dengan begini nama baik sang istri bisa diselamatkan. Dia juga tidak mau profesi wartawan tercoreng karena istrinya.

__ADS_1


__ADS_2