
Neta yang mendengar suara di seberang sana hanya bisa terperangah. Dia benar-benar tidak menyangka Dathan akan memanggilnya seperti itu lagi. Walaupun kali ini dia sudah tahu perasaan Dathan, tetap saja baginya aneh.
“Saya masih di kosan, Pak.” Neta menjelaskan akan hal itu. Memang kenyataannya dia memang masih di kosan. Apalagi ini masih jam delapan.
“Mau ke mana kamu hari ini?” Dathan di seberang sana bertanya.
“Saya mau ke panti asuhan.” Neta menjelaskan ke mana dia akan pergi hari ini.
“Baiklah, hati-hati di jalan.”
Setelah sekian lama dia tidak mendapatkan perhatian, rasanya aneh ketika mendapatkan perhatian dari seorang pria. Namun, dia merasa senang juga. Karena memang dia merasa itu adalah hal yang diperlukan.
Neta segera mematikan sambungan telepon. Senyumnya mengembang di wajahnya. Merasa senang mendapatkan perhatian dari Dathan.
Neta yang selesai menerima sambungan telepon, segera mematikan sambungan teleponnya. Dia segera bersiap untuk ke panti asuhan. Karena ada acara yang akan diadakan di sana.
Suara ketukan pintu terdengar. Neta segera membuka pintu kamarnya untuk melihat siapa gerangan. Saat membuka pintu, ternyata itu adalah Maria.
“Sudah siap?” tanya Maria.
“Sudah.” Neta tersenyum. Rencananya memang dia akan pergi dengan Maria. Mengingat pasti di panti akan butuh bantuan.
Neta dan Maria pergi dengan menggunakan motor Maria. Neta malas jika harus jalan masing-masing. Kapan lagi duduk manis, dan Maria yang mengendarai motor.
...****************...
“Siapa yang kamu hubungi?” Rifa yang melihat Dathan menyelesaikan panggilan teleponnya, langsung bertanya.
“Siapa lagi kalau bukan Ayang Neta.” Reno yang melihat temannya menghubungi seseorang, mencoba menebak.
“Pintar sekali.” Dathan membenarkan apa yang diucapkan Reno. Temannya itu cukup pintar menebak.
“Aku menyuruhmu menghubungi Ariel, kenapa kamu justru menghubungi Neta.” Rifa yang melihat aksi Neta pun hanya bisa menggeleng heran.
“Aku menghubungi masa depanku, untuk masa laluku, biarkan saja dia menunggu.” Dathan dengan enteng menjawab. “Lagi pula, dia paling hanya akan bilang jika tidak bisa segera pulang. Jadi tidak bisa menemui Cinta.” Dathan menebak apa yang berada di pikirannya.
Rifa melirik sang suami. Dia sudah hafal dengan Dathan suka memprediksi apa yang dilakukan mantan istrinya. Walaupun tinggal bersama beberapa bulan, tetap saja Dathan bisa hafal sifat mantan istrinya itu.
__ADS_1
Dathan meletakan ponselnya di atas meja. Sambil meletakan ponsel, dia mengambil kacamata hitam miliknya. Kemudian merebahkan tubuhnya di kursi santai yang berada di pinggir kolam. Dathan menikmati sinar matahari pagi yang mengenai kulitnya.
Reno dan Rifa yang melihat akan hal itu segera memilih untuk bergabung dengan anak-anak. Rifa yang sedari tadi berenang pun memilih untuk di pinggir saja. Bermain air, menggoda anaknya dan Loveta.
Tepat saat Dathan sedang menikmati hangatnya matahat tiba-tiba suara ponselnya berdering. Dathan meraba meja, mengambil ponselnya.
“Halo.” Dathan mengangkat sambungan telepon.
“Halo, Than.” Ariel di seberang sana menyapa Dathan.
“Iya.” Dathan dengan santai menjawab.
“Than, aku belum bisa pulang. Setelah ini aku harus ke Paris. Mungkin aku harus pergi selama dua minggu di sana. Jadi bisakah, kamu memberitahu Lolo jika aku masih sibuk.” Ariel mencoba menjelaskan keadaannya pada Dathan.
Dathan mengembuskan napasnya. Merasa kesal dengan ulah sang mantan istri yang selalu kesulitan membagi waktu. Padahal dia hanya bertemu di akhir pekan, itu pun tidak bisa.
“Than.” Ariel mencoba memanggil Dathan.
“Iya, aku akan mengatakannya.” Dathan malas jika harus berdebat. Alih-alih berdebat, dia memilih fokus pada anaknya.
“Terima kasih, Than.”
...****************...
Neta sampai di panti asuhan. Saat melihat rumah tua di depannya, rasanya selalu saja membuat Neta tak kuasa meneteskan air mata.
Di rumah inilah dia dibesarkan. Bersama dengan anak-anak panti asuhan yang lain, Neta tumbuh. Tak memiliki orang tua, Neta tidak pernah mengeluh. Dia masih punya banyak keluarga di sini yang begitu menyayanginya. Jadi tak ada yang pernah disesalinya.
Dengan semangat Neta masuk ke rumah. Di dalam rumah mereka sudah disambut anak-anak.
“Kak Neta, Kak Maria.” Anak-anak segera berlarian mengejar Neta dan Maria. Mereka langsung memeluk Neta dan Maria.
“Apa kabar kalian semua?” tanya Neta seraya membelai lembut rambut mereka satu per satu.
“Baik, Kak.” Seorang anak perempuan menjawab.
Neta merasa bersyukur karena anak-anak sehat semua. Jadi paling tidak, ibu panti merasa tenang.
__ADS_1
“Kalian sudah datang?” tanya Ibu Damita ketika melihat Neta dan Maria.
Neta dan Maria segera menghampiri ibu panti. Memeluk wanita yang menjadi ibunya itu. Sejak kecil, memang dialah yang menjaga dan merawat Neta dan Maria.
“Sudah, Bu. Kami pasti datang.” Neta tersenyum.
“Bagus kalau begitu. Sekali pun kalian tidak tinggal di sini, tetapi kalian ingat ke sini.” Bu Damita menggoda.
“Tentu saja kami ingat. Hanya saja kadang sibuk, Bu.” Maria tersenyum.
Bu Damita tersenyum. “Kalau begitu tolong bantu anak-anak mendekor panti. Nanti akan ada pesta di sini.” Bu Damita pun memberikan perintah pada Neta dan Maria.
“Ibu mau lanjutkan memasak dulu.” Bu Damita berlalu ke dapur.
“Aku akan mendekor, kamu bantu ibu saja.” Maria mendorong Neta.
Neta terpaksa mengekor di belakang Bu Damita. Di dapur dia segera membantu. Di sana ada beberapa anak perempuan yang juga membantu Bu Damia.
“Bagaimana pekerjaanmu.” Bu Damia sambil menyiapkan bumbu pun bertanya.
“Baik, Bu.” Neta ikut memetik sayuran yang akan dimasak.
“Bagus, Ibu ikut senang jika kamu baik-baik saja bekerja.” Sebagai ibu, tentu saja dia merasa senang. Karena akhirnya Neta bisa bekerja dan mendapatkan kehidupan yang lebih layak.
Neta tersenyum. Dia tahu Ibu panti pasti bangga dengannya.
“Beberapa hari lalu Adriel juga ke sini.”
Saat mendengar nama itu disebut, seketika tubuh Neta membeku. Sudah lama Neta tidak mendengar nama itu. Bertemu dengan pria itu saja sudah cukup lama.
Adriel adalah anak panti seperti dirinya. Dia seumuran dengan Maria. Dia juga bekerja di bawah naungan Syailendra Grup. Awalnya, dia berada di kantor yang sama dengannya. Namun, karena dia naik jabatan, akhirnya dia dipindahkan ke kantor pusat.
Neta dan Adriel pernah menjalin hubungan saat awal Neta bekerja. Namun, hubungan itu kandas ketika Adriel memilih untuk fokus bekerja. Apalagi jabatan barunya membutuhkan waktu jauh lebih banyak. Dia takut tidak punya waktu untuk Neta. Keputusan itu pun diambil bersama-sama. Namun, tetap saja. Sekali pun keputusan bersama, mereka memilih menjauh satu dengan yang lain.
“Nanti acara apa, Bu?” Neta memilih mengalihkan pembicaraan. Tak mau membahas mantan kekasihnya itu.
“Acara pesta. Nanti akan ada yang mengadakan pesta ke sini.” Bu Damita pun menjawab sambil tersenyum.
__ADS_1
Neta mengangguk. Pantas anak-anak tadi di depan mendekor. Ternyata akan ada pesta ulang tahun di panti asuhan.