
“Apa aku begitu mengagetkan kalian?” Adriel yang melihat Neta dan Maria yang kaget begitu terkejut sekali.
“Kamu sudah seperti hantu yang datang tiba-tiba, bagaimana kami tidak terkejut.” Maria melempar protesnya. Dia memang benar-benar terkejut ketika mendengar Adriel. Apalagi tadi dia sedang fokus pada laptopnya.
Neta hanya diam saja. Apa yang dikatakannya sudah diwakilkan oleh Maria.
“Maaf-maaf. Tadi aku melihat kalian jadi spontan aku langsung bertanya. Lagi pula kalian jam segini masih di kantor dan serius sekali.” Adriel tertawa. Merasa lucu ketika melihat Neta dan Maria yang begitu terkejut.
“Kami sedang mengerjakan pekerjaan kami.” Maria menjelaskan.
“Memang tidak bisa besok?” Adriel melayangkan pertanyaan pada Neta dan Maria.
“Besok kami akan pergi. Jadi kami akan selesaikan hari ini.” Maria tersenyum menyeringai. Dia terlampau senang besok akan pergi berkencan.
“Memangnya mau ke mana kalian?” Entah kenapa Adriel begitu penasaran sekali. Hingga dia bertanya pada Neta dan Maria.
“Rahasia.” Maria menjawab kembali.
Neta hanya tersenyum ketika temannya itu terus menjawab.
Adriel sebenarnya penasaran, tetapi dia tidak sama sekali mau bertanya. Apalagi Maria sudah mengatakan jika itu rahasia. Artinya tidak boleh diketahui orang. Termasuk dirinya.
“Kamu mau pulang?” Neta menatap Adriel.
“Iya, aku mau pulang.” Adriel menganggukkan kepalanya. “Kalau begitu aku pulang dulu.” Adriel pun segera berlalu pergi.
Setelah Adriel pergi, Neta dan Maria melanjutkan kembali pekerjaanya. Karena ini masih jam sembilan, dia memilih untuk ke kafe yang berada di depan kantor. Kebetulan posisi kafe tepat di depan kantor. Dia ingin memastikan jika Maria dan Neta pulang dari kejauhan.
Padahal ini adalah hari kamis, tetapi ternyata kafe cukup penuh. Hal itu membuat Adriel kesulitan untuk mendapatkan tempat. Apalagi tempat di mana kantornya bisa terlihat. Saat mengedarkan pandangan, akhirnya dia mendapatkan tempat yang dicarinya. Sayangnya, sudah ada pria yang duduk di sana. Sisa kursi yang membelakangi posisi kantornya saja. Dari pada tidak dapat tempat, Adriel memilih tempat itu.
“Permisi.” Adriel yang menghampiri meja tersebut, menyapa dengan sopan.
“Iya.” Dathan menatap Adriel yang menyapanya.
Adriel melihat pria di depannya itu terlihat seperti orang kantor. Karena terlihat memakai kemeja. Dari wajahnya dia memperkirakan jika usianya sekitar tiga puluh lima tahun. “Apa boleh aku duduk di sini?” tanya Adriel.
“Silakan.” Dathan mempersilakan Adriel.
“Baiklah, aku akan pesan kopi dulu dan kembali ke sini.” Adriel pun memberitahu Dathan.
__ADS_1
Dathan mengangguk saja.
Adriel memesan kopi dan segera kembali ke kursi tersebut. Bergabung dengan pria yang dilihatnya.
Dathan hanya tersenyum ketika melihat Adriel. Dia yang tadi menidurkan anaknya segera pergi untuk menjemput Neta. Karena merasa terlalu dini menjemput Neta, dia memutuskan untuk ke kafe depan kantor Neta.
“Sepertinya kafe penuh sekali.” Adriel berbasa-basi pada Dathan.
“Sepertinya orang-orang mengejar pekerjaanya di sini.” Dathan melihat beberapa orang datang ke kafe memang untuk kerja. Karena mereka semua menatap laptop.
“Biasanya orang-orang kantor mencari suasana. Malas di kantor.” Adriel tersenyum.
“Kamu kerja di daerah sini juga.” Dathan bertanya. Di kawasan kantor Neta memang ada beberapa gedung kantor. Jadi tentu saja pria di depannya adalah salah satunya.
“Iya.” Adriel membenarkan ucapan Dathan.
“Aku Adriel.” Dia mengulurkan tangan pada Dathan.
“Aku Dathan.” Dathan menerima uluran tangan dari Adriel
Adriel tidak pernah menyadari jika Dathan yang berkenalan dengannya adalah Dathan Fabrizio. Orang yang sedang diwawancarai Neta, dan tentu saja sedang dekat dengan Neta.
“Tidak, aku hanya menjemput seseorang.” Dathan tersenyum. Memang benar dia tidak bekerja di sini.
“Apa dia kekasihmu?” Adriel tersenyum menggoda pria yang baru saja dikenalnya itu.
Dathan tersenyum. “Calon kekasih.” Dia membetulkan ucapan Dathan.
“Oh … jadi masih masa penjajakan.” Adriel mencoba mengartikan apa yang dimaksud oleh Dathan.
“Betul.” Dathan mengangguk.
Adriel tersenyum. “Terkadang masa-masa pendekatan adalah hal manis. Selalu punya cerita.” Dia mengingat sewaktu dekat dengan Neta. Selalu membuat berdebar-debar.
Dathan mengangguk-anggukkan kepalanya. Merasa jika yang dikatakan oleh Adriel. “Selalu membuat hati berdebar.” Dia tersenyum.
“Tapi, terkadang setelah jadian, sensasi itu berubah.” Adriel merasa saat pacaran dengan Neta, justru perasaannya menjadi tidak nyaman. Dia yang awalnya berteman begitu perhatian, berubah tidak perhatian lagi. Entah dia jadi malu ketika berada dekat Neta.
“Oh … ya?” Dathan begitu penasaran.
__ADS_1
“Iya, mungkin setiap orang berbeda. Aku harap kamu tidak.” Adriel merasa tidak bisa memukul rata semuanya akan sama dengannya.
“Aku harap setelah jadian, aku akan jauh lebih baik. Karena memang aku sedang tidak main-main.” Dathan tersenyum. Entah kenapa dia hari ini bisa bercerita pada pria asing di depannya. Mungkin karena obrolan mereka yang sejalan. Jadi Dathan merasa seru ketika bercerita.
“Apa kamu berharap hubunganmu ke jenjang pernikahan?” Adriel begitu tertarik sekali.
“Iya, aku ingin menjalin hubungan lebih serius ke pernikahan.” Dathan membenarkan ucapan Adriel.
“Wah … aku salut dengan pria-pria sepertimu. Aku rasa pasti wanita akan sangat suka ketika diberikan kepastian.” Adriel cukup kagum. Karena dirinya sejauh ini belum pada tahap itu. Apalagi sekarang dia sedang menapaki kariernya yang bagus. Tentu saja hal itu membuatnya pernikahan adalah hal yang jauh dari pikirannya.
“Prioritas setiap orang selalu berbeda.” Dathan tersenyum.
Adriel menganggukkan kepalanya. Kalau kali ini dia setuju dengan ucapan Dathan. Karena prioritasnya kali ini adalah pekerjaan.
Saat sedang asyik mengobrol, suara telepon milik Dathan berbunyi. Dia segera mengambil ponsel tersebut, dan mengangkat sambungan telepon tersebut.
“Halo.” Dathan menyapa Neta di seberang sana.
“Kamu di mana?” Neta yang sudah selesai, akhirnya menghubungi Dathan. Ternyata pekerjaannya lebih cepat.
“Aku di kafe. Kamu di mana?” Dathan bertanya.
“Aku baru saja keluar. Aku harus temani Maria ke tempat parkir, jadi kita bertemu di halte saja.” Neta menjelaskan pada Dathan.
“Baiklah, aku akan ke sana.” Dathan tidak keberatan jika harus bertemu di halte.
“Baiklah.”
Dathan segera mematikan sambungan telepon. Dia memasukkan ponselnya sambil menatap Adriel. “Sepertinya aku harus pergi dulu.” Dathan tersenyum pada Adriel.
“Silakan.” Adriel mengangguk.
Dathan segera berdiri. Dia menganggukkan kepalanya sedikit untuk menyapa Adriel. Setelah itu, dia segera pergi meninggalkan kafe menuju ke halte bus.
Adriel yang melihat Dathan pergi pun segera berpindah. Dia ingin melihat ke arah kantornya. Memastikan Neta dan Maria yang akan pulang.
Adriel menatap kantornya dengan saksama sambil menikmati secangkir kopi yang dipesannya tadi. Sekitar sepuluh menit kemudian dia melihat dari kejauhan Neta dan Maria yang keluar dari kantor berboncengan.
“Kenapa dia tidak memakai helm?” Adriel menggeleng heran dengan yang dilakukan Neta. Dia pun segera merogoh ponselnya. Berniat menghubungi Neta.
__ADS_1