Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Bayar Dengan Cinta


__ADS_3

Pipi Neta merona ketika mendengar Dathan mengatakan suka padanya. Ini bukan pertama kali mendengar Dathan mengatakan hal itu, tetapi tetap saja membuat jantungnya berdebar-debar.


“Tidak perlu dijawab sekarang. Rasakan cintaku, nanti kamu akan menjawabnya sendiri.” Dathan tersenyum. Dia sebenarnya sudah merasakan jika Neta sedikit menaruh hati padanya. Jadi karena itu tinggal dirinya saja yang berusaha untuk membuat Neta semakin yakin dengannya.


Neta tersenyum. Jika boleh dibilang, dia mulai begitu nyaman dengan Dathan. Dathan pria yang baik. Terutama dia adalah orang yang begitu menyayangi keluarga. Neta butuh pria seperti itu. Karena dia suka pria yang bisa menjaganya dan melindunginya. Karena itu dia dulu suka dengan Adriel. Karena Adriel selalu menjaganya dan melindunginya. Sayangnya, perasaan itu tidak bisa dilanjutkan. Karena ternyata mereka tidak cocok menjadi sepasang kekasih. Mungkin lebih cocok jadi kakak dan adik saja.


“Aku akan menanti kamu menunjukkannya padaku.” Neta melebarkan senyumnya.


“Tentu saja aku akan tunjukan.” Dathan ikut tersenyum.


Neta kemudian beralih ke makanan yang dibuat Dathan. “Aromanya benar-benar menggugah selera.”


“Makan dan nikmati. Aku membuatnya dengan cinta. Jadi pasti rasanya enak.” Dathan kembali mengeluarkan jurus rayuannya.


Neta tak bisa jika tidak tersenyum ketika Dathan merayunya. Dia benar-benar membuat jantungnya tidak baik-baik saja.


Rasa penasaran Neta pada makanan yang dibuat Dathan, membuatnya segera meraih pisau dan garpu. Perlahan-lahan, dia memotong daging yang dibakar Dathan. Daging yang juicy begitu menggiurkan sekali. Ternyata Dathan membakarnya dengan tingkat kematangan medium well. Ini tingkat kematangan yang Neta suka. Saat mendapatkan potongan yang pas, Neta segera memasukkan makanan ke mulutnya. Merasakan masakan Dathan itu memanjakan lidahnya.


“Emmm ….” Neta merasakan makanan menari-nari di lidahnya. Rasa daging benar-benar nikmat sekali.


Dathan yang melihat Neta menikmati masakannya, merasa senang. Dia pun segera ikut menikmati dengan memotong daging, kemudian memakannya.


“Sejak kapan kamu bisa memasak?” Neta yang baru saja mengunyah makanannya langsung melempar pertanyaan itu pada Dathan.


“Aku sering melihat mama dan papa memasak. Jadi aku belajar dari kecil.” Dathan menjelaskan sambil tangannya terus berusaha memotong daging.


“Wah … aku saja yang membantu ibu panti tidak bisa memasak seenak ini.” Neta menertawakan dirinya sendiri.

__ADS_1


Dathan hanya tersenyum saja.


“Apa kamu mau mengajari aku?” tanya Neta. Dia begitu penasaran dengan masakan Dathan.


“Kamu sanggup membayarku?” Dathan menyeringai. Dia tidak akan melepas sebuah keuntungan. Ini yang dinamakan bisnis.


“Astaga, kamu perhitungan sekali.” Neta menekuk bibirnya. Merasa sedikit kesal dengan Dathan. Dia melanjutkan kembali memotong daging, dan memasukkan ke dalam mulutnya.


“Padahal bayaran yang aku minta mudah.” Dathan tampak tenang ketika Neta tampak kesal.


“Apa?” Neta begitu penasaran.


“Bayar dengan cinta saja sudah cukup.” Dathan mengedipkan matanya. Menggoda Neta menjadi candu baginya. Apalagi ketika melihat rona merah di wajah Neta.


Sungguh Neta merasa dibawa terbang tinggi ke atas awan. Berharap saja tidak dihempaskan begitu saja. “Apa kamu selalu melakukan hal ini pada semua wanita yang kamu temui?” Neta begitu penasaran.


“Kenapa?” Neta begitu penasaran.


“Karena justru mereka yang menggodaku.” Dathan tertawa. Selama ini banyak wanita yang berusaha mendekatinya. Hanya saja mereka semua sangat agresif. Maklum yang mendekatinya adalah wanita seumuran mantan istrinya. Antara tiga puluh tahun sampai tiga puluh lima tahun. Dan dari kebanyakan mereka pernah bercinta dengan pasangan sebelumnya.


Neta tersenyum. Ternyata begitu ceritanya. Dia sejak awal memang tidak menggoda Dathan. Dia memang mendekati Dathan, hanya untuk mendapatkan wawancara. Jadi mana sempat dia menggoda.


Sejenak saat mengingat wawancara, Neta mengingat jika dia hanya punya waktu seminggu untuk menyelesaikan laporannya.


“Pak Dathan, apa kita bisa selesaikan wawancara ini dalam dua hari?” Neta memberanikan diri untuk mengatakan itu pada Dathan.


Dathan yang sedang memotong daging, seketika menghentikan gerakan tangannya. Dia merasa terkejut ketika Neta meminta waktu dua hari saja menyelesaikan wawancaranya. Artinya, dia hanya punya waktu dua hari bersama Neta.

__ADS_1


“Kenapa mau dua hari?” Dathan memilih untuk menanyakan hal itu.


“Aku hanya diberikan waktu seminggu untuk mewawancaraimu. Jadi aku harus selesaikan dalam dua hari ke depan lagi agar sisa waktu yang ada, aku bisa merapikan laporanku. Jika tidak ….” Neta menghentikan ucapannya.


Dathan semakin penasaran dengan ucapan Neta yang terhenti. “Jika tidak apa?” tanyanya.


“Aku akan dipecat.” Neta lirih melanjutkan ucapannya.


Dathan tidak menyangka jika itu yang terjadi pada Neta. Dia menimbang apa yang harus dilakukannya. Padahal perjanjiannya satu pertanyaan Neta, berbalas satu pertanyaan Dathan. Jika Neta meminta dalam dua hari, Dathan yakin tidak akan cukup. Dathan pun memikirkan cara yang pas untuk itu semua.


“Bagaimana jika kamu menanyakan saja jumlah pertanyaanmu itu. Setelah itu kita hitung berapa pertanyaan yang sudah kamu ajukan. Setelah wawancaranya selesai, kita selesaikan pertanyaan-pertanyaan itu.” Dathan akhirnya mendapatkan ide itu. Dengan begitu dia masih bisa menggunakan waktu untuk mendekati Neta.


Neta menimbang-nimbang apa yang dikatakan oleh Dathan. Neta merasa tidak masalah. Lagi pula yang terpenting wawancaranya selesai dulu. Baru setelah itu dia urus masalah sisanya. Ketika ada hati, tentu saja Neta tidak keberatan. Dia juga ingin tahu banyak tentang Dathan. Jadi wajar jika dia tidak merasa keberatan.


“Baiklah.” Neta setuju.


Dathan tersenyum. Dia ikut senang ketika ternyata Neta setuju dengan idenya.


Mereka melanjutkan kembali menikmati makanannya. Seusai menikmati makanan, Neta menggunakan waktu mewawancara Dathan. Menanyakan pertanyaan-pertanyaan ringan pada pria beranak satu itu.


“Kenapa tidak ada yang tahu identitas Anda selama ini? Apa Anda sengaja menyembunyikannya?” Neta melemparkan pertanyaan itu pada Dathan.


“Aku lebih suka orang kenal bisnisku dibanding aku. Menurutku kenapa aku tidak menampakkan diri karena merasa itu adalah masalah privasi. Aku ingin pergi ke mana sesukaku tanpa orang menyadari siapa aku.” Dathan memang menginginkan sebuah kebebasan. Tak mau sampai orang mengusik hidupnya.


“Jika tidak ada yang tahu tentang Anda, lalu bagaimana orang bisa bekerja sama dengan Anda?” Neta masih begitu penasaran.


“Sekali pun aku tidak tampil, tetapi aku masih datang ke acara-acara pengusaha. Jadi aku masih bertemu dengan para pengusaha terutama beberapa rekan kerja yang sudah bekerja dengan IZIO.”

__ADS_1


Neta tersenyum. Menganggukkan kepala mengerti yang dijelaskan Dathan. “Anda adalah orang yang sulit untuk diwawancara, dari beberapa rekan saya yang berusaha mewawancara Anda, tetapi tidak ada yang berhasil. Lalu kenapa Anda mau diwawancara?” Neta masih penasaran kenapa Dathan mau diwawancara. Padahal dia tahu teman-temannya sudah mengeluhkan bagaimana sulitnya Dathan diwawancara.


__ADS_2