Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Hukuman


__ADS_3

Neta yang melihat Dathan mendekat, hanya diam di tempat. Tangan Dathan yang mulai merengkuh pinggangnya, membuat Neta tidak bisa ke mana-mana.


“Hukuman apa yang akan kamu berikan karena aku membohongimu?” tanya Dathan lagi dengan senyum manis di wajahnya.


“Kamu tidak boleh menciumku selama sebulan.” Neta menyeringai. Itu hukuman pas untuk Dathan.


“Astaga, Sayang. Kenapa kamu seperti itu?” Datha benar-benar merasa terkejut. Bagaimana bisa dia diminta libur mencium Neta.


“Bisa, karena kamu sudah berbohong.” Neta mencubit perut Dathan. Sayangnya, karena kulit Dathan tidak ada lemaknya, jari Neta hanya dapat menarik kulit Dathan sedikit.


“Aku hanya memberikan kejutan saja. Jika aku bilang namanya bukan kejutan.” Dathan masih membela diri. “Jangan menyiksaku dengan tidak menciummu. Lagi pula aku lebih banyak mencium pipi saja.”


Neta merasa lucu sekali melihat wajah Dathan yang begitu panik. Terlihat begitu mengemaskan sekali. “Baiklah, akan mengizinkanmu mencium.”


Dathan bernapas lega. Akhirnya dia bisa juga mencium kekasihnya kembali.


“Tapi, hanya tangan.” Neta menunjukkan punggung tangannya.


“Kamu pikir aku anak sekolah yang mencium tangan.” Dathan menekuk bibirnya. Merasa kesal.


Neta langsung tertawa. Dia merasa ketika Dathan merajuk, itu sangat lucu sekali.


“Baiklah, aku ganti. Em ... aku mau kamu memasak lagi untukku.” Neta tersenyum. Dia merasa masakan Dathan enak sekali. Jadi dia ingin merasakan lagi.


Dathan tersenyum. Itu hukuman ringan untuknya. Jadi tentu saja dia tidak akan keberatan. “Baiklah.” Dathan setuju untuk menerima hukuman.

__ADS_1


“Ayo kalau begitu kita pulang.” Neta segera mengajak Dathan untuk pulang.


Dathan melepaskan tangannya yang berada di pinggang Neta. Kemudian melanjutkan merapikan barang miliknya untuk dibawa pulang.


Waktu menunjukkan jam sepuluh malam ketika Neta dan Dathan keluar dari kamar. Mereka segera menuju ke tempat parkir untuk mengambil mobil.


Jalanan masih ramai ketika mereka pulang. Maklum, ini adalah malam minggu. Jadi wajar saja orang-orang masih berkeliaran menikmati malam.


Dathan terus melajukan mobilnya. Tepat pertama yang dituju adalah kos milik Neta. Dia harus mengantarkan sang kekasih untuk pulang terlebih dahulu.


“Besok kita pergi belanja. Setelah itu baru kita masak.” Dathan bersemangat sekali. Besok, dia akan menghabiskan waktu dengan Neta. Jadi wajar saja jika dia tidak sabar menunggu hari esok.


“Baiklah, aku akan menunggu kamu menjemputku.” Neta tersenyum. Dia merasa senang sekali bisa memanfaatkan waktu bersama Dathan.


Mobil sampai di kos milik Neta. Neta berpamitan dan keluar dari mobil. Saat keluar dia melambaikan tangannya. Langkahnya diayunkan masuk ke kos miliknya.


...****************...


Arriel menikmati secangkir teh hangat. Udara puncak terasa menusuk ke tulang. Hingga dia perlu sedikit menghangatkannya.


Seharian ini Arriel menikmati waktu bersama dengan anaknya. Dia merasa senang sekali karena akhirnya bisa bersama dengan anaknya. Hal yang tidak pernah dilakukannya.


“Lolo sudah tidur?” Mauren menghampiri Arriel yang sedang duduk di balkon.


Arriel sengaja menyewa satu vila untuk menikmati liburan dengan anaknya. Dia ingin sang anak nyaman bermain besok pagi.

__ADS_1


“Sudah.” Arriel menyesap teh yang berada di cangkir.


“Aku ikut senang kamu bisa menikmati waktu dengan Lolo.” Mauren tersenyum.


“Ternyata senikmat ini jadi ibu.” Tadi Arriel melihat tawa Loveta. Hal itu membuatnya benar-benar merasa begitu bahagia. Seolah tawa itu menular padanya. “Aku menyesal tidak melakukannya sejak dulu.” Arriel mengembuskan napasnya.


“Sudahlah, yang terpenting sekarang kamu sudah bisa melakukannya. Tidak ada kata terlambat.” Mauren tersenyum.


“Tapi, merasa ada yang kurang.”Arriel menundukkan pandangannya.


“Apa?”


“Lolo selalu bilang “nanti Lolo akan cerita papa”, dan itu membuatku merasa ada yang kurang. Andai mungkin ada Dathan di sini, Lolo bisa meluapkan rasa bahagianya itu bersama Dathan langsung.” Arriel mengembuskan napasnya merasa sesak di dadanya.


“Apa kamu sedang akan berniat kembali pada Dathan?” Mauren menelisik ke dalam bola mata Arriel.


“Bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin Dathan juga ada menemani Lolo di kebun binatang tadi.” Arriel mengelak apa yang dikatakan Mauren.


Mauren hanya tersenyum saja. Entah kenapa dia merasa temannya tiba-tiba memikirkan mantan suaminya.


“Dathan sudah banyak menghabiskan waktu dengan Lolo. Jadi aku rasa, itu hanya keinginanmu semata saja.” Mauren tak berhenti menggoda.


Arriel melirik temannya itu. Entah perasaan apa yang ada di hatinya. Namun, dia merasa ingin Dathan hadir ketika dia dan Loveta menikmati waktu bersama. Namun, saat mengingat bagaimana sikap dingin Dathan padanya, dia tahu jika itu jelas tidak akan mungkin terjadi.


“Dia sudah punya kekasih. Jadi dia tidak akan pernah pergi bersamaku dan Lolo.” Arriel merasakan sesak yang tiba-tiba menyelusup masuk ke dadanya ketika memikirkan hal yang tidak mungkin terjadi.

__ADS_1


Mauren melihat jelas wajah temannya yang sedang tampak menyesali banyak hal. Sebagai teman, dia hanya bisa berharap yang terbaik. Dia juga berharap hubungan Arriel dan Dathan baik. Apalagi ada Loveta di antara mereka.


__ADS_2