Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Melindungimu


__ADS_3

Neta masuk ke mobil Dathan. Kemudian memakai sabuk pengaman di dalam mobil. Bersama dengan dirinya yang sedang memasang sabuk pengaman, Dathan juga melakukan hal yang sama. Neta yang selesai lebih dulu langsung menatap sang suami.


“Apa ada yang harus kamu jelaskan padaku?” Neta masih bingung dengan keadaan yang ada.


Dathan hanya tersenyum saja. Tangannya bergerak memutar kunci mobil untuk menyalakan mesin mobilnya.


“Mau dijelaskan dari mana?” Dathan bertanya sambil perlahan menginjak pedal gas. Melajukan mobilnya untuk mengantarkan istrinya.


“Dari bagaimana bisa kamu kenal Pak Kafa. Padahal kemarin saja kamu bilang nama itu asing.” Neta pun menjelaskan dari mana sang suami harus menjelaskan padanya. Tentu saja itu adalah hal yang harus dilakukan sang suami.


“Baiklah.” Dathan tersenyum. Sambil terus melajukan mobilnya. “Jadi aku meminta tolong Reno mencari nomor telepon papa Kafa-Syailendra. Kemudian aku menghubungi dan akhirnya datang ke rumah. Secara langsung aku meminta Beliau mengenalkan aku pada anaknya. Tanpa disangka, ternyata Kafa meminta aku datang ke kantor. Saat aku pergi ke kantor Syailendra, aku tahu jika kamu juga ke sana. Karena itu aku buru-buru sebelum kamu datang. Paling tidak, kamu datang masalahnya selesai. Aku di sana menjelaskan semuanya pada Kafa, dan seperti yang kamu lihat dia menyelesaikan masalahnya dengan akan menampilkan kita di majalah gosip di bawah naungan perusahaannya.” Dathan menjelaskan panjang lebar pada sang istri.


Neta seketika menangis. Tidak menyangka jika ternyata Dathan melakukan hal itu. Tentu saja itu semua demi dirinya.


Dathan yang melihat istrinya menangis justru kebingungan. Bagaimana bisa sang istri justru menangis.


“Sayang, kenapa kamu menangis?” Dathan langsung berusaha untuk menepikan mobilnya. Dia segera mengambil tisu untuk diberikan pada sang istri.


“Kenapa kamu baik sekali?” Neta merasa terharu. Sang suami benar-benar melakukan hal itu untuknya.


Dathan melepaskan sabuk pengamannya. Dia segera memeluk sang istri. Menenangkan sang istri.

__ADS_1


“Aku akan selalu melindungimu. Tidak akan aku biarkan kamu berjuang sendiri.” Dathan memang merasa jika sebagai suami, dia harus selalu ada untuk sang istri.


Neta terharu. Padahal jika ditelisi, ini adalah urusan pekerjaanya, tetapi Dathan tetap turun tangan. Itu menandakan seberapa besar pedulinya pada sang istri.


“Terima kasih sudah begitu melindungi aku.” Di dalam pelukan sang suami, Neta meluapkan rasa bersyukurnya. Merasa senang karena suaminya begitu mencintainya.


“Ini tugasku sebagai suami. Jangan berterima kasih.” Dathan membelai lembut rambut Neta.


Neta tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Rasa cintanya semakin bertambah ketika sang suami melakukan hal-hal luar biasa ini.


...****************...


Adriel selaku manager redaksi memberikan peringatan keras untuk wartawan untuk tidak memanfaatkan narasumber. Jika itu terjadi, akan ada sangsi. Neta pun tetap mendapatkan sangsi. Dia tidak akan mewawancara siapa pun sampai akhir pekerjaanya. Lagi pula, Neta hanya punya dua minggu saja waktu bekerja. Jadi dia hanya tinggal menyelesaikan pekerjaan-pekerjaanya.


Hari ini, Adriel memberikan waktu untuk Neta wawancara. Wawancara akan berlangsung selama dua hari. Martin yang bertugas mewawancara Dathan dan Neta pun akhirnya datang ke rumah.


Wawancara dimulai dari bagaimana mereka jatuh cinta. Bagaimana akhirnya mereka memutuskan menjalin hubungan.


“Waktu itu aku ragu dengan perasaanku Karena aku sadar jika sebagai wartawan aku tidak bisa melakukan hal itu. Setelah wawancara selesai barulah aku berani dengan perasaanku.” Neta menjelaskan pada Martin.


Martin akan menulis jelas jika Neta masih memegang teguh tanggungjawabnya. Jadi ini akan jadi narasi untuk melawan narasi yang dibuat oleh majalah R3eal Gosip.

__ADS_1


Dathan dan Neta menceritakan kisah mereka. Dathan yang pernah menikah membuatnya akhirnya menikahi Neta lebih cepat. Karena tidak mau menunda hal baik.


Foto-foto eksklusif pun diberikan Dathan dan Neta. Itu akan dimuat di majalah. Tentu saja akan membuat orang-orang tahu secara langsung pernikahan mereka.


Dalam dua hari wawancara selesai. Karena memang Dathan dan Neta meluangkan waktu penuh untuk wawancara. Berbeda ketika Neta mewawancara Dathan. Karena saat itu Dathan sengaja mengulur waktu.


...****************...


Neta menyusul Dathan ke tempat tidur. Wawancara sudah beres. Teman-teman di kantornya juga sudah tidak memandanginya aneh. Tak ada yang perlu ditakutkan atau dikhawatirkan oleh Neta.


“Aku harap artikel yang keluar berdampak baik untuk kita dan perusahanmu.” Dathan menatap sang istri yang menghampirinya.


“Aku harap seperti itu. Karena dengan begitu sedikit mengurangi rasa bersalahku.” Neta sadar jika memang kemarin dirinya merasa bersalah sekali.


Dathan menarik tubuh sang istri. Membawanya dalam pelukannya. “Dengan artikel ini juga aku bisa menegaskan pada orang-orang jika kini aku bukan seorang duda lagi.” Dathan merasa lucu. Tidak pernah keluar di majalah mana pun, sekalinya keluar, wawancara eksklusif tentang bisnis, dan disusul tentang pernikahan. Seolah hidupnya sudah lengkap dan bahagia.


“Ya … agar wanita-wanita di luar sana juga tidak berusaha untuk mendapatkamu.” Neta tersenyum.


“Mau sebanyak apa wanita yang mendekati aku, aku tetap tidak akan tergoda.” Dathan mendaratkan kecupan di pipi sang istri.


Neta hanya menggoda. Dia yakin hal itu memang tidak akan dilakukan oleh Dathan. Jadi dia mengerti sekali. Neta pun memeluk Dathan dengan erat. Merasa jika tidak ada yang perlu diragukan lagi.

__ADS_1


__ADS_2