
“Papa ke toilet dulu, Cinta. Kamu di sini dengan Aunty Rifa dulu ya.” Dathan menatap anaknya. Dia berpamitan terlebih dahulu dengan anaknya sebelum pergi menemui Neta.
“Siap, Papa.” Loveta memberikan hormat pada papanya.
Rifa menatap sang suami. Dia merasa bingung ke mana gerangan Dathan akan pergi. Reno memberikan isyarat jarinya di bibir. Meminta Rifa untuk tetap tenang dan tidak banyak bertanya. Dathan sedang panas-panasnya. Tentu saja jika ditanya pasti pria itu akan meluapkan kekesalannya. Jika kalimat yang keluar tidak enak di dengar, pasti akan membuat tidak nyaman.
Mendapati isyarat tersebut, tentu saja Rifa langsung diam. Dia tahu persis apa yang harus dikerjakan.
Dathan beralih pada Reno. “Titip Loveta.” Dia menatap temannya itu.
“Iya.” Reno mengangguk.
Dathan mengayunkan langkahnya dengan percaya diri ke meja di mana Neta berada. Dia tidak peduli lagi dengan rasa gengsi yang dimiliknya. Yang ada di pikirannya, dia tidak mau sampai Neta terperangkap buaya seperti David. Jadi tentu saja dia harus segera bertindak. Mencegah hal itu terjadi.
Di meja makan, Neta akhirnya menyelesaikan makanannya. Makan malam di hotel mewah memang selalu memberikan sensasi berbeda. Selalu lezat dan sayang untuk dilewatkan. Neta pun menikmati makan malam kali ini.
“Apa kamu punya kekasih, Neta?” David menatap pada Neta. Usai makan, dia memilih untuk berbincang ringan terlebih dahulu dengan Neta.
Pertanyaan yang diajukan David terlalu pribadi. Jadi tentu saja membuat Neta bingung untuk menjawab. “Saya—”
“Sayang, kamu di sini.”
Suara seseorang terdengar seraya memegangi bahu saat Neta hendak menjawab pertanyaan dari David. Neta begitu terkejut ketika mendapati ada suara. Terlebih lagi ada tangan yang tiba-tiba menepuk bahunya. Artinya kalimat tadi ditujukan untuknya.
__ADS_1
Neta yang merasakan ada tangan yang berada di bahunya langsung mengalihkan pandangan pada tangan itu. Neta semakin terkejut ketika melihat itu adalah tangan seorang pria. Dengan gerakan cepat dia menatap pria pemilik tangan tersebut.
“Pak Dathan.” Neta hanya menggerakkan bibirnya tanpa ada suara. Dia terlampau terkejut melihat siapa gerangan pria yang menepuk bahunya serta memanggilnya ‘sayang’ itu.
Dathan tersenyum manis pada Neta. Seolah tanpa dosa sama sekali dia baru saja memanggil kata ‘sayang’ pada orang yang bukan siapa-siapanya itu.
David yang duduk di samping Neta menatap heran pada pria yang tiba-tiba datang ke mejanya. Apalagi pria itu memanggil ‘sayang’ pada Neta. Tanpa harus dijelaskan pun pria itu adalah pacar Neta. Mengetahui jika Neta sudah punya pacar rasanya David begitu kesal sekali.
Rania menatap Neta dengan tatapan tajam. Dia kesal dengan Neta karena kekasih Neta tiba-tiba datang mengganggu makan malam. Apalagi wajah David yang tampak berubah ketika pria yang memanggil Neta-‘sayang’ itu datang.
Neta yang melihat Rania menatapnya hanya bisa menelan salivanya. Dia tahu pasti jika manajernya pasti sedang kesal karena ada pria yang tiba-tiba datang di saat makan malam.
Dathan tanpa permisi menarik kursinya dan mendudukkan tubuhnya. “Sayang, jika aku tahu kamu ke sini, aku pasti akan mengajakmu pergi bersama.” Dathan meraih tangan Neta yang berada di bawah meja. Menggenggamnya erat tangan itu sambil menatap wajah cantik milik Neta.
Dathan tetap tenang di saat semua merasa aneh dengan kedatangannya. Terlebih lagi Neta yang begitu terkejut sekali.
Dathan mengalihkan pandangan pada David dan Rania, dia tersenyum manis pada mereka berdua. “Maaf tidak menyapa kalian dari tadi. Karena tadi saya terlalu terkejut ketika melihat Neta. Apa saya boleh bergabung?” Dia menatap David dan Rania secara bergantian. Dathan yang duduk tepat di depan David memudahkannya menatap pria itu.
Rania sudah menahan gemuruh dalam hatinya ketika kekasih Neta semakin berani bergabung dengan makan malam ini. “Maaf, tapi Neta sedang bekerja, bukan sedang makan malam biasa.” Rania menatap Dathan. Berharap jika Dathan mengerti dan mau segera pergi.
“Apa aku mengganggumu, Sayang.” Dathan mengeratkan genggaman tangannya sambil menatap Neta penuh damba.
Kesadaran Neta masih belumlah kembali. Dia masih terdiam bingung dengan situasi yang ada.
__ADS_1
Dathan pun beralih pada David. “Apa saya mengganggu, Pak David Mahendra?” tanyanya.
David cukup terkejut. Dia tidak menyangka pria di depannya mengenalinya. “Kamu mengenali aku?” Rasa penasarannya membuatnya bertanya.
“Tentu saja. Bukankah di Anda begitu terkenal. Saya sering melihat berita Anda di beberapa majalah dan televisi.” Dathan sebenarnya tidak, tahu akan hal itu, dia hanya menebak saja.
“Itu hanya gosip saja. Biasa, beberapa media ingin menaikkan ratingnya, dengan berita seperti itu.” David tertawa. Dia memang sering wara-wiri di televisi untuk menanggapi beritanya.
“Memang benar. Beberapa media seperti itu. Mengungkap hal-hal pribadi untuk menaikkan rating mereka.” Dathan ikut tertawa.
“Tidak semua media seperti itu. Syailen Bisnis hanya memberikan informasi tentang bisnis. Hal-hal yang bersifat pribadi tidak akan ditampilkan jika memang tidak berkaitan dengan tubuh kembang sebuah bisnis. Lagi pula bagaimana bisa kami jurnalis menulis berita tanpa izin dari narasumber itu sendiri.” Neta yang tadi mendengar ucapan Dathan langsung membantah ucapan pria itu. Dia ingin sekaligus menegaskan jika dia bukan bagian dari media yang hanya mencari sensasi saja.
Dathan baru tahu jika Neta berasal dari majalah bisnis. Artinya gadis di depannya itu hanya ingin mewawancarainya membahas tentang bisnis yang dirintisnya. Dia pun hanya tersenyum saja, mendengar penjelasan dari Neta tersebut.
“Benar berkat Syailen Bisnis orang akhirnya mengetahui jika aku tidak hanya menjadi bahan gosip saja. Ada sebuah kesuksesan yang tak banyak orang tahu.” David ikut menimpali ucapan Neta. “Aku ucapkan terima kasih padamu, Neta, karena sudah mau mewawancara aku dan memberikan berita yang baik tentang bisnisku.” David menatap Neta dengan senyum di wajahnya.
Neta tersenyum pada David. Dia memang hanya butuh info tentang bisnis, bukan tentang hal pribadi dari David. Jadi tentu saja dia tidak akan membuat berita yang tidak-tidak. “Sama-sama, Pak David. Saya senang bekerja sama dengan Anda.”
Melihat senyum Neta pada David membuat Dathan terbakar cemburu. Sungguh hal itu membuatnya kesal sekali. Namun, dia tetap terlihat cool di depan mereka semua. Tak memperlihatkan kekesalannya.
“Ini ada hadiah kecil dariku.” David mengambil sebuah kotak dan membukanya. Memperlihatkan satu set perhiasan pada Neta. Dia merasa wanita pasti akan terpesona ketika mendapatkan hadiah perhiasan.
Neta terperangah melihat perhiasan mewah nan berkilau di depannya. Dia tidak menyangka mendapatkan hadiah dari David.
__ADS_1