
Hari ini Neta dan kedua anaknya memutuskan pulang. Dathan menjemput mereka bertiga. Ada Bu Kania yang turut hadir. Menggendong anak Dathan dan Neta. Danish digendong oleh Bu Kania, sedangkan Nessia digendong oleh Neta. Mereka duduk di kursi belakang bersama-sama. Dathan yang menyetir pun fokus pada jalanan di depannya.
“Besok, Githa akan datang. Jadi kamu pasti akan lebih terbantu.” Bu Kania memberitahu Neta saat perjalanan ke rumah.
“Iya, Bu. Semoga adanya Bu Githa bisa membantu merawat anak-anak.” Neta tersenyum.
Mengingat Neta memiliki dua anak. Pastinya akan membuatnya kesulitan. Kebetulan teman Bu Kania yang merupakan babysitter berhenti di tempat majikannya yang lama. Kebetulan majikan yang lama ke luar negeri. Karena tidak mau ikut, akhirnya dia memilih berhenti. Beruntung Neta sedang butuh babysitter. Jadi Bu Githa bisa ikut dengan Neta.
Akhirnya mobil sampai di rumah. Dathan segera turun dan membukakan pintu. Di rumah sudah ada Reno, Rifa, Adriel, Arriel, dan Loveta. Mereka semua menyambut kedatangan si kembar.
“Adik.” Loveta begitu sedang ketika adiknya pulang. Loveta sendiri baru pulang. Karena selama mami dan papinya di rumah sakit, dia tinggal di rumah mamanya.
“Sabar, Sayang.” Arriel menenangkan sang anak. Takut jika menarik adiknya bisa jatuh.
“Kita taruh di kamar dulu. Adiknya bobo.” Neta tersenyum memberitahu anaknya.
Neta dan Bu Kania membawa si kembar di kamar. Kamar dengan nuansa biru muda, pink, dan putih itu tampak begitu pas bersebelahan. Keranjang bayi berwarna putih tampak kokoh ketika Neta dan Bu Kania meletakkan dua bayi bersebelahan. Dua bayi itu tampak tertidur pulas walaupun suara berisik kakaknya sedari tadi terdengar.
“Yah ... adik bayi bobo.” Loveta sedikit kecewa.
“Nanti adik akan bangun. Jadi kamu tunggu saja.” Bu Kania memberitahu Loveta.
__ADS_1
“Iya, Lolo akan menunggu.” Loveta tersenyum. Dia setia menunggu adiknya di samping bok bayi.
Di saat Loveta asyik menunggu di samping bok bayi, Neta, Arriel, Rifa, dan Bu Kania duduk di sofa yang ada di sana. Mereka saling mengobrol.
“Jadi nanti kelahirannya akan caesar?” Bu Kania memastikan ketik Arriel bercerita.
“Iya, Bu. Dokter sudah mengonfirmasi untuk dilakukan caesar.” Arriel memang sudah konsultasi. Mengingat waktu itu Loveta lahir caesar. Kali ini kehamilan keduanya juga caesar.
“Tidak apa-apa. Yang penting nanti lahir dengan selamat. Itu yang penting.” Neta tersenyum.
“Iya.” Arriel tersenyum.
...****************...
Malam mulai menyapa. Dathan sudah heboh membawa kasur tambahan ke kamarnya. Loveta baru saja menangis karena ingin tidur dengan adiknya. Karena si kembar masih menyusu setiap malam, Neta memutuskan membawa anaknya tidur di kamar. Alhasil Loveta menangis ingin ikut.
“Nanti Cinta tidur dengan Papi di bawah. Mami dengan adik bayi.” Dathan memberitahu anak sulungnya itu.
“Tapi, Lolo mau peluk dulu.” Loveta memang sangat gemas dengan adiknya itu. Jadi tak mau jauh-jauh.
“Iya, boleh peluk dulu. Setelah itu tidur.”
__ADS_1
“Lolo mau bacakan dongeng dulu untuk adik bayi.” Loveta masih mencari alasan untuk bersama adiknya.
Neta memberikan kode pada Dathan. Membiarkan suaminya untuk mengizinkan. Dathan pun akhirnya mengiyakan. Dia memberikan buka bacaan pada Loveta.
Loveta dengan semangat membuka buku cerita. Loveta sudah mulai bisa membaca walaupun belum lancar. Jadi dia bercerita dengan terbata-bata. Neta dan Dathan justru yang antusias mendengarkan cerita Loveta. Karena Loveta tampak ekspresif ketika bercerita.
“Kok adik bayi tidak mau bobo?” Loveta melihat dua bayi dengan mata yang terbuka. Hal itu membuat dia merasa aneh. Karena biasanya, dia langsung tidur kalau dibacakan dongeng.
“Adik bayi tadi sudah tidur. Jadi dia bangun. Sudah biarkan saja adik bayi. Sekarang Kakak Cinta bobo saja.” Dathan membujuk anaknya untuk tidur.
Loveta sudah mengantuk. Jadi dia pun memilih ikut papinya tidur di kasur yang berada di bawah.
Dathan menemani Loveta tidur. Membelai lembut anak sulungnya itu. Dathan mau anak-anaknya tetap dapat kasih sayang. Walaupun mereka berbeda ibu.
Neta yang menunggu anaknya pun membelai lembut kedua anaknya yang tampak tak mau tidur. Saat mengalihkan pandangan pada suami dan anaknya yang tidur di kasur bawah, dia melihat Loveta sudah tidur.
Saat memandangi Loveta tanpa sengaja Neta beradu pandang dengan suaminya. Dathan dengan senyum di bibirnya pun mengerlingkan matanya. Menggoda sang istri. Hal itu tentu saja membuat Neta tertawa.
“Lihatlah, Papi menggoda Mami.” Neta pun mengadukan pada dua anaknya.
Dathan yang diadukan membulatkan matanya. Dia memastikan Loveta tidur dan berangsur bangun. Berniat menghampiri istrinya yang menggemaskan.
__ADS_1