
Sebulan sudah Neta memeriksakan kandungannya. Hari ini, dia kembali ke rumah sakit untuk memeriksa kandungannya. Dathan sengaja libur kerja karena ingin mengantarkan istrinya ke rumah sakit. Mengecek keadaan anaknya. Hari ini juga mereka akan bisa melihat, apakah anak mereka benar-benar kembar atau tidak.
“Aku benar-benar berdebar-debar.” Neta memegangi dadanya. Dia begitu penasaran sekali, apakah anaknya benar-benar akan kembar.
“Tenanglah.” Dathan menarik tangan sang istri. Menggenggamnya erat. Menenangkan sang istrinya.
“Mami kenapa berdebar-debar. Apa Mami mau dihukum?” Loveta bertanya dengan polos.
“Tidak, Sayang. Mama bukan takut dihukum.” Neta yang tadinya takut seketika tersenyum. Sejenak dia lupa rasa takutnya itu. Karena anaknya yang polos mengartikan lain.
“Lalu kenapa?” tanya Loveta.
“Mami hanya takut hasil adik bayi. Adik bayi benar ada dua atau hanya satu.” Neta pun menjelaskan pada anaknya.
“Memang adik Lolo ada dua?” Loveta hanya menangkap ucapan Neta sekilas saja.
“Tidak tahu. Karena itu, kita akan lihat nanti.” Neta membelai lembut rambut Loveta.
__ADS_1
“Ibu Marsya Kineta.” Seorang perawat memanggil nama Neta.
Neta segera mengalihkan pandangan pada Dathan. Memberikan kode pada suaminya untuk segera berdiri dan masuk ke ruang pemeriksaan dokter kandungan.
Dathan, Neta, dan Loveta masuk ke ruangan dr. Lyra. Tampak dr. Lyra berada di dalam sana. Senyum manis dokter paruh baya itu menyambut kedatangan mereka bertiga. Dr. Lyra sempat menggoda Loveta. Senang karena Loveta turut hadir.
Di meja kerjanya, dr. Lyra menanyakan keluhan Neta terlebih dahulu. Neta menjelaskan jika dirinya masih mual sekali. Dr. Lyra pun mencatat keluhan yang terjadi. Karena memang masih kehamilan trimester awal, jadi wajar saja jika masih mual.
Setelah mencatat semua keluhan Neta, dr. Lyra meminta Neta untuk berpindah ke ranjang pemeriksaan. Dia akan melakukan USG untuk melihat janin yang dikandung oleh Neta.
Dathan dan Loveta begitu antusias sekali, Mereka berdua langsung ikut ke ranjang pemeriksaan. Dathan membantu Neta untuk naik ke atas tempat tidur, sedangkan Loveta sudah berdiri di samping dokter untuk melihat layar USG.
Dathan menggenggam erat tangan Neta. Dia tahu sang istri begitu berdebar-debar karena ingin tahu keadaan anak mereka.
Dr. Lyra mengerakkan alat USG. Pandangannya fokus pada layar USG. Begitu pun Dathan, Neta, dan Loveta. Mereka semua menatap layar USG dengan saksama. Saat melihat penampakan di layar USG senyum dr. Lyra merekah. Dia sudah mendapatkan apa yang dilihatnya.
“Terdapat dua kantung janin, Pak Dathan. Artinya istri Anda hamil bayi kembar.” Dr. Lyra tersenyum menatap Dathan dan bergantian menatap Neta.
__ADS_1
Dathan dan Neta saling pandang. Tangan mereka yang saling menggenggam, semakin erat. Ini adalah hal yang mereka benar-benar hal tak terduga. Karena tidak menyangka ternyata anak mereka benar-benar kembar. Walaupun sudah menyiapkan kemungkinan terburuk, ternyata mereka masih mendapatkan hal menakjubkan ini.
Dathan dan Neta pernah berencana untuk punya anak dua, dan seketika Tuhan memberikan anak dua sekaligus. Untuk jenis kelamin, kali ini mereka menyerahkan pada Tuhan. Apa pun jenis kelamin anak mereka. Yang terpenting adalah anak mereka lahir dengan selamat.
“Anak kita kembar.” Dathan mendaratkan kecupan di punggung tangan istrinya. Merasa begitu terharu dengan kabar bahagia ini.
Neta hanya mengangguk. Air matanya, menetes tak tertahan. Dia begitu bahagia mendengarkan kabar ini.
Loveta yang tidak mengerti kenapa mami dan papinya tampak sedih pun memilih bertanya pada dokter. “Kenapa mami-papi sedih, Dok?”
“Mereka tidak sedih, tetapi senang.” Dr. Lyra memberikan pengertian pada Loveta.
“Senang kenapa?” Loveta kembali bertanya.
“Karena kamu akan punya dua adik.” Senyum dr. Lyra menghiasi wajahnya yang semakin menua.
“Adik Lolo dua?” tanyanya memastikan, dan mendapat anggukan dari dr. Lrya. “Ye … adik Lolo dua.” Loveta begitu senang sekali. Dia meloncat kegirangan. Merasa begitu bahagia karena akan punya adik banyak.
__ADS_1
Neta dan Dathan tersenyum melihat sang anak yang begitu bahagia sekali. Bahagia anaknya itu, sama dengan yang dirasakan oleh mereka berdua. Neta dan Dathan hanya bisa saling pandang. Sorot mata bahagia memang tidak bisa berbohong, seberapa bahagianya mereka.