Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Tidur Di Kamarmu


__ADS_3

“Tidur di kamarmu, Sayang.” Dengan senyum manis di wajahnya Dathan menjawab.


Neta terkesiap. Dia memang pernah berada di dalam kamar berdua dengan Dathan, tetapi kali ini di hotel. Pasti suasananya berbeda dengan dulu.


“Kenapa tidak pesan kamar lagi? Atau aku akan tidur dengan Maria?” Neta memberanikan diri untuk mengatakan pada Dathan.


“Sayang, jauh-jauh aku datang ke sini, lalu aku kamu suruh tidur sendiri?” Dathan tidak marah. Dia justru balik bertanya. “Tega sekali kamu.” Dia menyindir Neta.


Neta sebenarnya yakin Dathan tidak akan melakukan apa-apa, tetapi entah kenapa dia merasa jika takut terbawa suasana.


“Baiklah.” Neta percaya saja. Lagi pula ini bukan kali pertama mereka sekamar. Jadi dia yakin tidak akan terjadi apa-apa.


Mereka berdua menikmati makan bersama. Di sela-sela makan, Dathan menunjukan foto dekorasi pernikahan mereka. Mereka berdua saling memberikan pendapatan, karena pestanya indoor, jadi tentu saja mereka akan menyesuaikan. Pesta kali ini akan sangat tertutup. Hanya keluarga dan teman-temannya yang akan datang.


“Aku ragu ingin mengundang teman-temanku.” Neta sendiri bingung. Semua temannya wartawan, tentu saja ini akan jadi berita heboh.


“Anggap yang bisa menjaga rahasia saja.” Dathan menjelaskan pada Neta. Dia tahu posisi Neta serba sulit. Jadi wajar saja.


“Aku akan pilih-pilih lagi jika begitu.” Neta merasa harus lebih selektif dalam hal ini. Tidak bisa sembarangan langsung mengundang.


Dathan percaya saja apa yang dilakukan Neta. Dia yakin kekasihnya tahu yang terbaik.


Akhirnya, mereka memilih salah satu dekorasi. Warna putih menjadi warna pilihan. Hiasan kristal yang cantik juga menjadi tampilan sempurna dekorasi yang mereka pilih.

__ADS_1


Seusai makan malam, mereka kembali ke kamar. Sesuai yang dikatakan Dathan, dia akan tidur di kamar Neta.


Untuk sejenak Neta terdiam ketika masuk ke kamarnya. Dia merasa bingung ketika melihat sofa yang begitu kecil. Itu terlalu kecil untuk tubuh Dathan yang tinggi.


“Kenapa, Sayang?” tanya Dathan yang melihat Neta berdiam diri.


“Sofa kecil sekali. Aku yakin kamu akan pegal saat tidur.” Neta merasa tidak tega membayangkan akan hal itu.


“Siapa yang mau tidur di sofa?” Dengan percaya dirinya, Dathan menjawab.


Neta langsung mengalihkan pandangan pada Dathan. Dia masih mencerna ucapan Dathan. “Lalu kamu mau tidur di mana?” Dia ingin tahu apa yang dipikirkan Dathan.


“Di sana.” Dathan menunjukan tempat tidur dengan matanya. Memberitahu Neta di mana dia akan tidur.


“Iya, aku akan tidur di sini.” Dathan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia tersenyum manis pada Neta. “Sini.” Dia menepuk sisi tempat tidur yang kosong. Meminta sang kekasih untuk tidur dengannya.


Neta masih terdiam. Dia justru celingak-celinguk melihat ke sekitar. Apa yang dilakukan Neta itu membuat Dathan menautkan alisnya. Merasa bingung dengan yang dilakukan oleh Neta.


“Kamu cari apa?” Dathan mencoba memastikan.


“Katanya kalau wanita dan laki-laki dalam satu kamar, yang ketiga setan.” Neta menjelaskan apa yang pernah didengarnya.


“Itu dia di belakangmu.” Dathan dengan tenang menunjukan ke arah Neta dengan matanya.

__ADS_1


“Sayang.” Neta langsung loncat ke tempat tidur. Dia langsung memeluk Dathan. Neta justru ketakutan ketika Dathan membenarkan ucapannya.


Dathan yang melihat hal itu pun langsung tertawa. Neta sendiri yang mengatakannya, tetapi kekasihnya itu sendiri yang berteriak ketakutan. Neta yang melihat Dathan tertawa langsung tertawa.


“Kamu sendiri yang bahas itu, tetapi kamu sendiri yang takut.” Dathan hanya bisa tertawa saja.


Neta menyesali apa yang dikatakan Dathan. Karena sekarang justru dirinya ketakutan.


“Aku tidak akan melakukan apa-apa, jadi tenang saja. Aku mau spesial nanti.” Dathan yang memeluk Neta, membelai lembut rambut Neta. Dia tahu jika Neta pasti sangat takut berada dalam satu tempat bersamanya.


Neta menjauhkan tubuhnya. Menatap Dathan yang bicara padanya.


“Tapi, jika aku tidak khilaf.” Dathan masih menggoda Neta. Tawanya mengisi keheningan kamar.


Neta langsung mencubit Dathan. Kesal sekali melihat apa yang dikatakan Dathan.


“Aku sudah bilang ‘kan. Aku akan menjagamu sampai kita menikah. Aku tidak mau suatu saat akan menjadi karma untuk anak-anakku. Apalagi ada Cinta-anak perempuan. Jika papanya saja berani melakukan itu pada wanita, bagaimana jika nanti kekasih Cinta juga melakukan hal yang sama. Apa aku tidak akan terluka anakku mendapatkan perlakuan seperti itu?”


Dathan selalu berpegang teguh dengan hal itu. Apa yang ditanam, itu yang dituai. Mungkin di jaman seperti sekarang sulit untuk percaya ada orang-orang yang masih menjaga hal-hal baik, tetapi jika bukan kita yang mulai, siapa lagi? Jaman boleh berubah, tetapi ada norma yang harus dipegang teguh. Dathan juga ingin memberikan contoh baik untuk anak-anaknya kelak. Walaupun, tetaplah dia manusia biasa yang punya hawa nafsu dan main cium Neta seenaknya, tetapi dia berharap ada sedikit saja kebaikan yang bisa diceritakan Dathan suatu saat nanti pada anaknya.


“Ayo cepat tidur. Jika kamu berpikir yang tidak-tidak terus. Yang ada nanti setan benar-benar datang.” Dathan menarik tubuh Neta ke dalam pelukannya.


Neta tersenyum. Dathan sudah sehebat itu menahan diri. Jadi dia harus menghargai.

__ADS_1


__ADS_2