
Saat menoleh dia mendapati Maria di sana. Dia tersenyum ketika melihat Maria. Tumben sekali temannya itu baru kembali.
“Kamu ada kerjaan?” tanya Neta.
“Tidak.” Maria menggeleng.
“Lalu kamu dari mana?” Neta begitu penasaran dari mana temannya itu.
“Aku tadi bertemu Adriel.” Maria menceritakan dari mana gerangan dirinya.
“Untuk apa bertemu Adriel?” Neta begitu ingin tahu.
“Tadi dia ke kantor. Bertemu dengan teman-teman. Lalu dia mengajakku minum kopi.” Maria menceritakan apa yang dilakukan tadi.
Neta mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ayo, masuk.” Dia segera menarik tangan
Maria. Membawanya untuk ke dalam kosan.
Maria mengikuti ke mana Neta membawanya. Neta begitu senang hari ini, hal ini tentu saja membuat Maria menyadarinya.
“Adriel tadi bertanya padaku tentang kamu yang sedang menjalin hubungan seseorang.” Saat berjalan ke kamar kos, Maria menceritakan hal itu pada Neta. Tadi di kafe, Adriel memastikan hubungan Neta dengan Dathan padanya. Hal itu tentu saja membuatnya bingung.
“Kamu menceritakan jika aku sedang dekat dengan Dathan?” Neta menoleh pada Maria. Memastikan pada temannya itu.
Maria menggeleng. “Aku hanya bilang padanya untuk bertanya pada kamu sendiri. Karena aku tidak berhak untuk memberitahu apa-apa.” Dia menjelaskan apa yang tadi dikatakan pada Adriel.
Neta bersyukur saat temannya itu tidak mengatakan apa-apa. Dia yakin Maria selalu menjaga rahasianya dengan baik.
“Ta, tapi aku melihat dia masih menyukaimu.” Maria yang sedari tadi mengobrol dengan Adriel menyadari akan hal itu.
“Mana mungkin. Dia yang bilang sendiri jika nyaman menganggap aku adik seperti dulu. Jadi tidak mungkin dia masih menyukai aku.” Neta memaksakan senyumnya. Menertawakan ucapan Maria.
__ADS_1
“Terkadang saat seseorang kehilangan, dia baru akan merasakan jika sebenarnya dia mencintai, Ta.” Maria memberikan pengertian.
“Sayangnya, sebuah kesempatan tidak datang dua kali.” Neta tersenyum.
Beruntung mereka sampai di depan pintu kamar mereka masing-masing. Sehingga obrolan itu harus berakhir. Maria paham betul perasaan Neta. Kembali pada Adriel tentu saja bukan pilihannya. Maria pun tidak melanjutkan pembicaraan mereka.
...****************...
Pagi ini Neta berangkat bekerja. Kemarin ada info jika pagi ini ada rapat. Jadi Neta memastikan jika tidak mau sampai terlambat. Karena hari ini harus ke kantor Dathan, Neta memilih untuk menumpang pada Maria. Jadi nanti dia akan naik taksi untuk ke kantor Dathan. Dengan begitu, dia bisa diantar pulang oleh Dathan.
“Jadi sekarang kamu tidak mau naik motor sendiri karena akan diantar pulang?” Maria mencibir Neta.
Dengan wajah polosnya, Neta tersenyum manis. “Benar sekali.”
“Sepertinya kamu sudah mulai jatuh cinta.” Maria kembali mencibir.
“Sedikit.” Neta menunjukan jari tengah dan jempolnya yang menempel. Dia memperlihatkan seberapa perasaan cintanya yang sudah ada di hati.
Mereka berdua keluar dari lift. Saat sampai di kantor, teman-temanya sudah rusuh sekali. Mereka sedang sibuk bergosip ria pagi-pagi. Hal itu membuat Neta dan Maria saling pandang. Seolah memberikan isyarat pertanyaan, ‘apa yang terjadi?’. Mereka berjalan ke meja kerja, sekaligus menghampiri teman-temannya. Mereka ingin tahu apa yang terjadi.
“Ada apa?” Neta yang penasaran pun segera bertanya. Dia tidak mau mati penasaran.
“Buma mau diganti.” Seorang teman memberitahu Neta.
Neta dan Maria saling pandang. Mereka terkejut sekali. Ini sangat mendadak. Karena tidak ada gosip sebelumnya.
“Kamu sudah dengar? Kenapa tidak bilang padaku?” Neta menatap Maria. Dia belakangan ini selalu keluar kantor. Jadi tentu saja tidak tahu perkembangan kantor.
“Aku tidak tahu, bagaimana bisa aku memberitahu.” Maria mengelak tuduhan Neta. Dia sendiri juga tidak tahu perihal Buma yang akan digantikan. Seharian kemarin di kantor juga tidak ada gosip apa pun.
“Siapa yang menggantikan?” Neta begitu penasaran sekali.
__ADS_1
“Belum ada kabar.” Seorang teman menjawab.
Neta semakin penasaran sekali siapa yang akan menggantikan posisi manajernya. Neta berharap jika penggantinya akan jauh lebih baik. Jadi dia tidak perlu takut dengan ancaman dipecat lagi.
“Sudah ayo kita cepat ke ruang rapat. Kita tunggu di sana siapa gerangan yang akan menggantikan Buma.” Maria segera meletakkan tasnya di meja kerjanya.
Neta segera meletakkan tasnya juga di meja kerjanya. Bersama Maria, dia segera menuju ke ruang rapat.
Di ruang rapat mereka menunggu dengan cemas siapa yang akan menjadi pengganti bu manajer. Ruang rapat begitu gaduh. Mereka menebak-nebak siapa gerangan yang akan menggantikan. Namun, sayangnya itu hanya tebakan saja karena tidak ada bukti orang tersebutlah yang akan menggantikan bu manajer.
“Pagi.” Rania masuk ke ruang rapat.
“Pagi.” Semua membalas sapaan Rani-sang manajer. Sayangnya mereka dikejutkan dengan kehadiran Adriel di belakang Rania. Pria itu tampak ikut masuk ke ruang rapat bersama Rania.
Neta yang melihat Adriel bersama manajernya, begitu terkejut sekali. Dia memikirkan apakah Adriel yang akan menggantikan manajernya itu untuk menjadi manajer. Perasaan Neta semakin berdebar-debar menanti Bu Rania menjelaskan jika Adriel adalah orang yang akan menggantikannya.
“Terima kasih kalian semua sudah berkumpul di sini. Di sini saja ingin memberitahu jika bulan ini adalah terakhir saya bekerja di devisi ini. Karena suami saya akan dipindah tugaskan, jadi saya meminta untuk pindah ke cabang.” Bu Rania mencoba menjelaskan pada semua karyawan yang berada di ruang rapat. “Untuk itu, saya ingin memperkenalkan pengganti saya. Ini bukan wajah baru jadi pasti kalian sudah kenal.” Dia memperkenalkan Adriel. “Jadi Adriel yang akan menggantikan saya.
“Selamat pagi semua, semoga kita bisa bekerja sama.” Adriel menganggukkan kepalanya sedikit memberikan salam.
Dugaan Neta benar jika Adriel yang akan menggantikan Bu Rania. Entah kenapa Neta tidak suka ketika Adriel berada di kantor yang sama dengannya. Perasaannya pasti akan sangat canggung berada dalam satu tempat kerja dengan mantan kekasihnya itu.
“Apa kamu tidak tahu hal ini juga?” Neta berbisik pada Maria. Kemarin temannya itu sempat bertemu dengan Adriel. Jadi tentu saja hal itu harusnya diketahuinya. Bisa saja Adriel menceritakan sesuatu pada temannya itu.
“Dia tidak bercerita.” Maria memberitahu pada Neta. Memang benar adanya jika Adriel kemarin hanya membahas tentang Neta, dan beberapa kegiatan di kantor saja.
Neta mengembuskan napasnya. Dia tahu Adriel sengaja menyembunyikan dari Maria karena tahu pasti Maria akan menceritakan padanya.
Adriel menatap Neta. Dia tersenyum pada mantan kekasihnya itu. Sebenarnya kemarin dia datang ke kantor untuk memberitahu Neta. Sayangnya, gadis itu sedang tidak di kantor. Akhirnya dia memilih untuk menjadikan ini kejutan untuk Neta saja.
“Untuk semua laporan, sudah bisa kalian berikan pada Adriel.” Bu Rania kembali berbicara. “Neta, laporan wawancara Dathan Fabrizio bisa mulai kamu berikan pada Adriel juga. Tolong segera selesaikan.” Dia memberikan peringatan pada Neta.
__ADS_1
“I-iya, Bu.” Neta takut-takut menjawab.