Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Ciuman Selamat Malam


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, Loveta tertidur pulas. Gadis kecil itu sudah seharian bermain, jadi wajar saja ketika malam dia sudah lelah. Loveta yang sudah di dalam pelukan Neta membuatnya menggendong Loveta ke dalam kamar.


“Tidak apa-apa, biar aku yang gendong. Takut dia justru bangun.” Neta memberitahu pada Dathan.


“Baiklah.” Dathan mengangguk.


Mereka membawa Loveta ke kamar. Di kamar Neta menurunkan Loveta di tempat tidur dengan perlahan. Memastikan jika Loveta tidak akan bangun. Tak lupa Neta menyelimuti Loveta. Memastikan gadis kecil itu tidak akan kedinginan.


“Sepertinya dia lelah sekali.” Dathan tersenyum melihat anaknya.


“Iya, terus bermain, jadi tentu saja pasti lelah.” Neta mengingat jika Loveta terus saja bermain tadi. Jadi wajar jika gadis itu begitu lelah dan membuatnya pulas sekali.


Saat mereka sedang asyik memandangi Loveta, tiba-tiba ponsel Dathan berdering. Dathan segera mengangkat sambungan teleponnya agar tidak mengganggu Loveta. Sambil mengangkat sambungan telepon dia berjalan keluar.


“Halo, Than.” Suara di seberang sana terdengar.


“Iya, ada apa menghubungi jas segini?” Dathan bertanya sedikit ketus. Telepon itu adalah telepon dari Arriel jadi tentu saja dia sedikit malas.


“Aku ingin berbicara dengan Lolo.” Tampak Arriel begitu bersemangat di seberang sana.


“Apa kamu lupa jika ini jam tidur Cinta?” Dathan tidak habis pikir, mantan istrinya itu tidak ingat sekali jam berapa anaknya tidur.


“Aku ingat, tetapi aku pikir saat jalan-jalan dia akan tidur terlambat.” Arriel merasa sedikit kecewa ketika anaknya sudah tidur.


“Jam tidur anak secara alami berjalan sendiri. Secara alami di waktu yang sama anak-anak akan mengantuk di jam tidur mereka. Harusnya kamu belajar akan hal itu.”


“Maaf, Than, aku sedang di Paris, jadi ini masih siang, karena itu aku menghubungi.”


“Teleponlah besok, dan bicaralah dengannya.” Dathan memilih memberitahu sang mantan istri.


“Tapi, besok aku takut tidak bisa, besok aku kembali. Jadi mungkin aku akan menemuinya saja nanti.”

__ADS_1


Dathan mengembuskan napasnya. Dia sebernarnya malas jika berdebat masalah waktu. Mantan istrinya memang soal tidak punya waktu untuk Loveta. “Terserah padamu.”


“Baiklah, aku akan langsung temui saat sampai nanti.”


“Iya.” Dathan menjawab malas.


“Selamat malam, Than.”


“Malam.” Dathan segera mematikan sambungan telepon. Dia berbalik untuk kembali masuk ke kamar. Namun, dia dikejutkan oleh kehadiran Neta yang berdiri di belakangnya. “Kamu sejak kapan di sini?” Dia tidak dengar sama sekali kedatangan Neta.


“Sejak kamu menerima panggilan telepon. Aku hanya ingin berniat ke gazebo, tetapi tak sengaja mendengar kamu sedang serius bicara, jadi aku tidak mau mengganggu.” Neta menjelaskan pada kekasihnya itu.


Dathan mengangsur tubuhnya mendekat pada Neta. Tangannya meraih pinggang Neta. “Kamu tidak akan pernah mengganggu.” Dathan tersenyum. Tangannya membelai lembut pipi Neta.


Neta tersenyum. Namun, sejenak dia teringat tentang Dathan yang sedari tadi begitu dingin pada mantan istrinya. “Apa kamu sedingin itu pada mantan istrimu?” Neta merasa jika Dathan begitu ketus dengan mantan istrinya.


“Apa terlihat jelas?” tanya Dathan.


“Entah, sejak aku berpisah, aku memang menjaga jarak. Jadi saat tidak ada Cinta di sekitar aku akan bersikap seperti itu secara tidak sadar. Karena itu berjalan bertahun-tahun, jadi aku merasa itu hal biasa.” Dathan menertawakan dirinya.


“Apa kamu akan bersikap seperti itu padaku juga?” Neta merasa takut ketika Dathan melakukan hal itu padanya.


“Untuk apa aku melakukannya padamu?” Dathan menautkan alisnya.


“Aku takut saja.” Neta menjawab lirih.


“Aku tidak akan melakukannya.” Dathan yang gemas mencubit lembut pipi Neta. “Kamu tahu alasanku melakukan padanya. Jika padamu tidak ada alasannya, untuk apa aku melakukannya.”


Neta tersenyum. Dia merasa senang karena Dathan tidak akan melakukan itu padanya. “Sebaiknya kita tidur, besok pagi aku akan mengajakmu untuk melihat matahari terbit. Dari sini akan terlihat matahari terbit.” Dathan tak sabar menikmati matahari terbit esok hari.


“Ayo.” Neta mengangguk. Dia berusaha bergerak, tetapi sayangnya Dathan tidak melepasakannya sama sekali. “Katanya mau tidur, tetapi kamu tidak melepaskan aku.” Neta yang melihat Dathan tidak melepaskannya melemparkan protesnya.

__ADS_1


Dathan tersenyum. “Tadi pagi aku dapat ciuman selamat pagi, sekarang aku mau dapat ciuman selamat malam.” Dia menyeringai.


Neta malu ketika Dathan meminta ciuman selamat malam. Tadi pagi dia melakukannya karena Dathan tidak melepaskannya. Sekarang juga Dathan sengaja tidak melepaskannya lagi dan meminta hal yang sama. Namun, kali ini dia tidak mau melakukan. Loveta sudah tidur, jadi tidak punya alasan untuk mencium Dathan.


Dathan tahu jika sang kekasih sedang malu-malu akan menciumnya. “Baiklah, aku saja yang melakukannya.” Dathan mendekatkan wajahnya pada Neta.


Neta sudah pernah dicium Dathan, tetapi tetap saja membuat dia tetap berdebar-debar. Hal itu tentu saja membuatnya langsung memejamkan mata.


Dathan mendekatkan bibirnya tepat di bibir Neta. Senyum tipis tertarik di sudut bibirnya ketika melihat Neta yang memejamkan matanya. Namun, alih-alih langsung mencium bibirnya, dia memilih mencium pipi Neta.


Neta yang merasakan bibir kenyal milik Dathan di pipinya terkejut. Dia tidak menyangka ternyata Dathan mencium pipinya.


“Aku tidak mau sering-sering menciummu di bibir. Aku mau menikmatinya sering saat kita menikah.” Dathan tersenyum. Dia merasa harus menahan. Banyak hal yang tidak selalu dengan ciuman untuk mengekspresikan sebuah cinta.


Neta tersenyum. Mendengar itu Neta tersenyum. Dathan punya seribu keunikan yang luar biasa. Hingga mungkin dirinya tak berhenti mengagumi.


Neta segera berjinjit. Mendaratkan kecupan di pipi Dathan. “Selamat malam.” Neta tersenyum. Dia kini justru berani mencium Dathan. Ini adalah ungkapan cinta yang bisa Neta berikan.


Dathan tersenyum sambil melepaskan pelukannya. Dia segera mengajak Neta untuk masuk ke kamar. Seperti kemarin Neta dan Dathan tidur dengan Loveta sebagai pembatasnya. Menjaga diri untuk tidak melakukan lebih.


Dathan meraih tangan Neta. Tatapannya penuh damba ketika memandangi wajah gadis cantik di depannya. “Selamat malam, Sayang.” Dia tersenyum.


“Selamat malam.” Neta tersenyum.


Mereka berdua menikmati tidur saling memeluk Loveta. Tangan mereka saling menggenggam satu dengan yang lain. Tak mau terpisahkan sama sekali.


...****************...


Neta mengerjap. Lampu yang temaram membuatnya perlu menajamkan pandangan untuk melihat ruangan. Neta merasa ada sesuatu yang kurang. Saat dia menoleh ke sisi tempat tidur Dathan, ternyata pria itu tidak ada di tempat tidur. Hal itu tentu saja membuat Neta memikirkan ke mana gerangan perginya pria itu.


Neta mengedarkan pandangan. Pintu yang terbuka sedikit menandakan jika Dathan keluar dari kamar. Neta yang penasaran pun memilih untuk berangsur bangun. Dia turun dari tempat tidur dan berjalan keluar. Memastikan keberadaan Dathan di luar kamar.

__ADS_1


__ADS_2