
“Silakan.” Arriel meletakan minuman di atas meja.
“Terima kasih.” Neta tersenyum. Dia memeluk Loveta. “Terima kasih sudah menjaga Cinta.” Neta merasa senang ada Arriel yang menjaga Loveta.
“Tidak masalah. Lagi pula dia juga anakku.”
Arriel merasa ini juga bagian dari tanggung jawabannya. Jadi dia tidak masalah jika harus ikut menjaga. “Jika kalian ada keperluan, jangan sungkan untuk menitipkan Lolo di sini.” Arriel menambahkan ucapannya.
“Tentu.” Neta mengangguk.
Dathan hanya diam. Karena sudah diwakilkan oleh istrinya. Jadi tidak ada yang bisa dibicarakan.
Dathan dan Neta meminum minuman yang disuguhkan oleh Arriel. Sambil mendengarkan Loveta yang bercerita. Tampak seminggu ini Loveta begitu bersenang-senang dengan mamanya. Karena yang diceritakan tampak begitu bersemangat sekali.
“Aku akan ambilkan barang-barang Lolo.” Di tengah-tengah Neta dan Dathan yang sedang mendengarkan Loveta, Arriel menyela sebentar.
Neta mengangguk. Mengizinkan Arriel untuk pergi.
Arriel segera berdiri. Mengayunkan langkahnya ke kamarnya. Sesaat kemudian, dia keluar dengan satu koper yang sewaktu itu dibawa oleh anaknya. Meletakkannya di dekat ruang tamu.
Neta dan Dathan yang melihat koper siap, segera berdiri. Berniat membawa Loveta pulang. Ini sudah malam, dan Loveta harus segera pulang dan tidur.
__ADS_1
“Lain waktu, tidak perlu bawa baju jika Lolo ke sini. Karena di sini sudah banyak baju.” Arriel menatap Neta. Dia yakin kelak Netalah yang akan menyiapkan baju yang dibawanya ketika ke apartemennya.
“Baiklah.” Neta mengangguk. Mengerti yang dijelaskan oleh Arriel.
Arriel beralih pada anaknya. Tangannya membelai lembut wajah sang anak. “Nanti main lagi dengan Mama.” Senyumnya, menghiasi wajah Arriel.
“Iya, Ma.” Loveta langsung memeluk sang mama.
Arriel mendaratkan kecupan. Dia merasa senang seminggu ini bersama anaknya. Apalagi dirinya bisa menghabiskan waktu. Mulai bermain, belajar, dan berbelanja. Itu benar-benar mengasyikkan sekali. Dia berharap anaknya akan sering-sering ke apartemennya. Menemaninya yang kesepian.
“Kami pulang dulu.” Kali ini Dathan bicara. Dia berpamitan pada mantan istrinya itu.
“Iya.” Arriel mengangguk.
Di mobil, Loveta masih terus bercerita. Tentu saja hal itu membuat Neta senang. Karena mendengar keceriaan Loveta lagi. Dathan yang melihat dari pantulan kaca di atas dasboard, melihat sang anak dan istri yang begitu akur. Terlihat seperti teman yang sedang bercerita.
“Nanti Lolo mau bobo dengan mami.” Ini kali pertama Neta menginap di rumah. Jadi Loveta tidak akan melepaskan kesempatan itu.
Neta melihat sang suami yang sedang menyetir. Tatapan yang menyiratkan agar Dathan mengizinkan. Sayangnya, Dathan menggeleng. Dia merasa tidak rela jika sang istri tidur dengan sang anak.
“Tentu saja boleh.” Neta tersenyum. Dia merasa ini adalah keputusan benar. Dia ingin juga tidur dengan Loveta yang kini jadi anaknya.
__ADS_1
Mendengar jawaban Neta, tentu saja membuatnya membulatkan matanya. Dia tidak menyangka jika sang istri akan tidur dengan anaknya. Padahal tadi dia sudah menggelengkan kepala.
“Berarti nanti Lolo boleh tidur di kamar mami dan papa?” Loveta begitu bersemangat sekali.
“Tentu.” Neta tersenyum setuju.
Dathan mengembuskan napasnya. Kejadian seperti ini pasti akan terjadi. Namun, tidak menyangka akan secepat ini. Tentu saja hal itu membuatnya tidak bisa menolak keinginan dari sang anak.
Sebelum mereka pulang, Dathan mengajak mereka untuk makan malam sekalian. Sepanjang makan Loveta terus bercerita apa yang akan dilakukannya saat tidur bersama. Dia sudah membuat rencana akan tidur di tengah mami dan papanya. Neta dan Dathan hanya bisa tersenyum saja. Karena anaknya sudah merencanakan dengan baik. Dathan yang mendengar hal itu pun merasa harus merelakan sang istri dimiliki oleh sang anak. Beruntung Dathan sudah menghabiskan waktu seminggu dengan sang istri. Tidak sia-sia tidak melepaskan sang istri sewaktu bulan madu.
Akhirnya mereka sampai juga di rumah. Mereka segera menuju ke kamar. Loveta begitu bersemangat sekali. Karena bisa tidur bersama dengan mami dan papanya. Walaupun sudah pernah tidur bersama, tetapi kali ini dilakukan di rumah tentu saja rasanya berbeda.
“Lolo mau tidur di tengah.” Loveta bersorak senang ketika naik ke atas ranjang.
Neta melirik sang suami yang tampak cemberut. Dia langsung menyenggol sang suami untuk tersenyum ketika sang anak antusias. Tak boleh terlihat sedih.
Mereka naik ke atas tempat tidur segera menyusul Loveta. Keduanya langsung memeluk Loveta bersama-sama. Walaupun Dathan awalnya memang sedikit berat untuk membiarkan anaknya di kamar bersama, tetapi dia tahu sang anak butuh kehangatan dari kedua orang tua, dan baru kali ini dia bisa memberikannya.
Untuk kali ini Dathan ingin membuat anak mereka bahagia. Nanti, dia akan memberitahu jika memang anaknya harus tidur sendiri agar semua berjalan seimbang.
Loveta yang dipeluk begitu bersemangat sekali. Dia mendaratkan kecupan di pipi papa dan maminya. Sebuah ungkapan rasa bahagia yang sederhana.
__ADS_1
Mungkin bahagia anak sesederhana itu. Memiliki kedua orang tua yang utuh. Walaupun terkadang keadaan tak sesuai dengan keinginan, tapi anak-anak hebat yang bisa menerima dengan lapang keadaan orang-orang dewasa dengan segala permasalahannya.