Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Menerawang


__ADS_3

Dathan segera menyalakan lampu yang ada di kamar Neta. Saat melihat Neta yang hanya memakai bathrobe, dia yakin sekali jika Neta tidak memakai apa pun. Belum lagi rambutnya yang dibungkus dengan handuk, membuat leher jenjang nan putih terlihat begitu jelas. Sungguh membuat jantung Dathan tak menentu.


Neta yang melihat Dathan melihatnya, membuat Neta reflek menutupi bagian dada dan bagian bawah miliknya.


“Kenapa melihat aku seperti itu?” tanya Neta.


“Aku hanya berusaha menerawang apa yang ada di dalamnya.” Dathan menyeringai.


Neta semakin merapatkan tangannya. Berusaha menutupi apa yang bisa ditutupi.


Dathan yang melihat hal itu langsung tertawa. Sungguh lucu sekali kekasihnya itu.


“Kamu pikir aku punya ilmu untuk menerawang.” Dia merasa lucu dengan kekasihnya itu.


Neta jadi malu. Benar, tidak mungkin kekasihnya punya ilmu seperti itu. Dia segera mengambil bajunya, dia segera pergi ke kamar mandi untuk mengganti baju.


“Kenapa tidak di sini saja?” Dathan menggoda Neta.


“Belum sah, tidak boleh.” Neta menggerakkan telunjuknya. Memberikan kode larangan pada Dathan.


Dathan hanya bisa tersenyum saja. Merasa lucu dengan kekasihnya itu. Dia pun membiarkan sang kekasihnya untuk mengganti baju.

__ADS_1


Sesaat kemudian Neta keluar dengan tubuh yang sudah dibalut dengan pakaian. Senyumnya menghiasi wajahnya yang cantik.


Neta segera duduk di depan kaca. Mengambil hair dryer yang ada dia atas meja. Dathan yang melihat hal itu langsung menghampiri. Dia meraih hair dryer dan mengeringkan rambutnya.


Neta tersenyum ketika melihat kekasihnya mengeringkan rambutnya. “Kapan Cinta ke rumah mamanya?” Sambil menunggu Dathan mengeringkan rambutnya, dia pun bertanya.


“Tadi, dia dijemput. Setelah Cinta pergi, barulah aku pergi ke rumah Reno dan kita bertemu dengan pihak wedding organizer.” Dathan menjelaskan apa saja yang dilakukannya.


“Lalu bagaimana tadi bertemu wedding organizer-nya?” Neta begitu penasaran sekali.


“Dia memberikan gambar untuk kita pilih. Nanti kita pilih bersama-sama.” Dathan akan menunjukan foto yang diberikan Rowan pada Neta nanti.


“Baiklah.” Neta tidak sabar untuk melihat dekorasi pernikahannya.


Saat rambut Neta sudah kering, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk makan malam. Neta mampir ke kamar Maria sebelum pergi, tetapi Maria mengatakan malas untuk keluar. Dia ingin makan di kamar dan segera tidur saja. Neta pun tidak memaksa. Dia akhirnya pergi berdua dengan Dathan.


Tanpa disangka-sangka ternyata Dathan sudah memesan meja makan spesial di depan kaca besar yang menghadap ke langit dan jalan-jalanan. Meja yang disusun, begitu tampak romantis sekali.


“Kamu pasti sudah memesan jauh-jauh waktu?” Neta memastikan.


“Iya, aku pesan saat sampai di hotel.” Dathan tersenyum. Dia segera menarik kursi dan mempersilakan Neta untuk duduk. Kemudian duduk di sana.

__ADS_1


Neta melihat jelas jalanan yang begitu ramai. Lampu dari mobil-mobil terlihat indah sekali dilihat dari atas. Apalagi langit malam terlihat beberapa bintang yang bersinar. Tampak begitu indah sekal pemandangan dilihat dari atas.


“Padahal aku besok sudah mau pulang, tetapi kamu ke sini.” Neta merasa sepertinya Dathan sia-sia saja jika datang ke hotel.


“Semalam pun itu berarti bagiku. Jadi tidak ada yang sia-sia.” Dathan tidak masalah jika harus membuang uang hanya untuk bertemu dengan Neta.


Neta tersenyum. Dathan selalu saja bisa membuatnya senang. Memang benar, waktu begitu berarti sekali.


“Oh ya, besok kita kembali dan langsung ke toko perhiasan. Kita harus memesan cincin untuk pernikahan.” Dathan sudah merencanakan akan hal itu.


“Kita pesan cincin di mana?” Neta memastikan.


“Di tempat Arriel sekalian menjemput Cinta.” Dathan selama ini memang memesan cincin di sana. Biasanya dia meminta Mauren untuk memesannya. Karena ini pernikahannya, jadi dia akan membawa Neta langsung.


Neta mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia tahu jika Arriel adalah pemilik toko perhiasan. Arriel adalah desainer perhiasan. Jadi wajar saja Dathan memesan di sana.


“Apa Arriel akan membuatkan cincin untuk kita?” Neta memastikan.


“Tidak, Mauren-asisten Arriel yang akan membuatkan cincinnya.” Dathan menjelaskan.


Neta tidak masalah siapa yang akan membuatkan cincin. Yang terpenting cincinnya muat dengan jarinya. Lagi pula, yang penting pernikahannya sah.

__ADS_1


Mereka berdua menikmati waktu berdua. Saling bercerita dan bersendau gurau berdua. Akhir pekan benar-benar dimanfaatkan keduanya menikmati waktu bersama. Seolah tidak akan mereka melepaskan waktu bersama.


“Kamu akan tidur di mana nanti?” Neta melemparkan pertanyaan itu di sela-sela mengobrol.


__ADS_2