
Pagi ini Neta tidak terlalu mual dibanding kemarin. Karena itu, dia menggunakan waktu untuk pergi jalan-jalan bersama Dathan dan Loveta.
Loveta menaiki sepeda roda empat miliknya. Wajah Loveta begitu bahagia sekali. Kapan lagi bisa naik sepeda pagi-pagi. Sejak sang mami mual-muntah. Loveta jarang naik sepeda lagi.
“Cuacanya cerah.” Neta menghirup udara pagi. Begitu menyejukkan sekali. Apalagi masih banyak sekali pohon-pohon di sekitar rumah.
“Saat hamil sepertinya kamu harus banyak-banyak jalan-jalan.” Dathan menatap sang istri. Memberikan saran demi kesehatan kandungan sang istri.
“Aku juga mau jalan-jalan pagi, tetapi kamu tahu sendiri bukan jika aku sering mual.” Neta merasa jika memang dirinya belum sekuat itu.
“Iya, nanti saja. Saat kamu sudah lebih enak saja.” Dathan sebenarnya juga tidak memaksakan. Lagi pula, jika keadaan sang istri tidak bisa, tentu saja akan membahayakan.
“Papa-Papa di sana ramai.” Tak jauh dari rumah, ada taman bermain. Loveta begitu heboh meminta ke sana.
Neta dan Dathan yang melihat mana yang ditunjuk anaknya, langsung mengalihkan pandangan. Melihat ada banyak orang yang sedang bermain di sana.
Neta menghampiri Loveta. Kemudian berjongkok di samping sepeda sang anak.
“Cinta, mulai sekarang panggil Papa dengan sebutan papi, ya.” Dia menyampaikan kesepakatan mereka kemarin dengan sang suami.
“Kenapa?” Loveta penasaran sekali. Karena setahunya panggilan itu sudah melekat pada sang papa.
__ADS_1
“Karena agar bisa membedakan. Jika nanti Mama Arriel punya suami, Cinta bisa panggil papa. Jadi jika sama, nanti akan bingung. Jadi panggilan Papa Dathan diganti Papi Dathan.” Neta menjelaskan dengan baik.
Loveta mencoba mencerna dengan baik.
“Jadi sekarang Lolo panggil papi. Nanti jika mama menikah Lolo panggil papa.” Dia yang mendengar penjelasan sang mama pun memastikan pemahamannya.
“Iya. Jadi nanti mami-papi dan mama-papa.” Neta kembali menjelaskan lebih sederhana.
“Iya, Lolo tahu.” Loveta tersenyum. Kemudian mengalihkan pandangan pada Dathan. “Papi.” Dia memanggil Dathan sesuai dengan yang sudah dijelaskan.
Dathan tersenyum. Menghampiri anaknya dan mendaratkan kecupan di pipi sang anak.
“Ayo kita ke taman.” Neta pun berdiri kembali. Mengajak anak dan suaminya ke tempat keramaian itu. Dia senang karena terlihat banyak orang di sana. Pastinya akan sangat menyenangkan berada di sana.
Dathan pasrah ketika anak dan istrinya mengajaknya. Lagi pula, ini hiburan untuk mereka berdua. Hiburan sederhana yang pastinya sangat menyenangkan.
Di taman hiburan banyak sekali orang-orang di sana. Anak-anak bermain, sedangkan para ibu menunggu anak mereka bermain. Loveta ikut bermain di taman. Apalagi ada banyak anak sebayanya di sana.
“Sayang, biar aku temani mereka saja. Kamu duduk saja.” Dathan meminta sang istri untuk tetap duduk di kursi yang berada di taman. Dia tidak mau sampai ada masalah dengan sang istri.
Neta memilih duduk. Menunggu Dathan dan Loveta yang bermain. Suasana yang ramai anak-anak memang begitu menyenangkan. Jadi wajar sang anak begitu bersemangat.
__ADS_1
Neta terus memerhatikan sekitar. Tak jauh dari taman tersebut ada pohon jambu air. Sayangnya, pohon itu berada di pekarangan seseorang. Jadi jika harus meminta izin jika memintanya.
Neta mencari keberadaan Dathan. Sayangnya, Dathan begitu sibuk sekali dengan anaknya. Hingga membuat Neta berkali-kali memanggil, tetapi tidak didengar. Akhirnya, Neta memilih untuk menghampiri Dathan.
“Sayang,” panggil Neta.
Dathan yang serang fokus pada anaknya, seketika mengalihkan pandangan ketika mendengar suara sang istri. Dilihatnya sang istri datang menghampirinya.
Dathan segera mengajak anaknya berhenti bermain, dan menghampiri sang istri.
“Kenapa?” tanya Dathan.
“Aku mau jambu itu.” Neta menunjuk ke pohon besar yang tak jauh dari rumahnya.
Keinginan sang istri sudah bagai titah bagi Dathan. Jadi dia pun mengangguk. Menuruti keinginan sang istri.
“Ayo, kita ke sana untuk minta.” Dathan mengajak sang istri untuk ke rumah tersebut.
Kebetulan rumah itu bersebelahan dengan rumah Reno. Jadi pasti akan mudah untuknya meminta nanti. Memberikan alasan jika dirinya adalah kerabat Reno.
Neta begitu senang. Tak sabar mencicip buah tersebut. Pastinya sangat menyegarkan sekali ketika jambu dimakan dengan bubuk pedas-asin.
__ADS_1