Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Karena ....


__ADS_3

“Iya, saya ingin tahu alasan Pak Dathan.” Neta penasaran dengan yang menjadi alasan Dathan.


Dathan mendekatkan tubuhnya. Hal itu membuat Neta memundurkan tubuhnya. Dia takut ketika Dathan mulai mendekat.


“Karena … karena ….” Dathan sengaja menjeda lama ucapannya. Merasa kapan lagi memandangi Neta dari dekat.


“Karena apa?” Neta yang semakin penasaran pun bertanya.


Tin ... tin ....


Belum sempat Dathan menjawab, suara klakson mobil yang hendak keluar dari gang membuat Dathan menghentikan ucapannya. Sungguh, Dathan tidak tahu jika sedari tadi dia menepikan mobilnya di depan gang. Dathan menyesali. Dia harusnya tadi menepikan mobilnya di tempat yang benar. Jika sudah begini, dia kehilangan kesempatannya.


Dathan memundurkan tubuhnya. Dia segera memasang kembali sabuk pengamannya. Memutar kunci mobil dan menginjak pedal gas. Dathan meninggalkan tempat di mana dia menepikan mobil.


Neta yang melihat Dathan menjauhkan tubuhnya serta melajukan mobilnya kembali, merasa lega. Tadi jantungnya sudah tidak menentu ketika Dathan berusaha mendekat. Sejujurnya, Neta begitu suka aroma parfum Dathan. Aroma itu membuatnya selalu terngiang oleh pria tampan itu.


Dathan terus melajukan mobilnya. Dia menuju ke tempat kos Neta. Mengantarkan gadis itu. Sambil terus melajukan mobilnya, dia memikirkan bagaimana cara dia bisa mengatakan pada Neta jika dia menyukai Neta.


Neta sesekali melirik. Dia memerhatikan apakah Dathan yang sibuk menyetir. Setelah kejadian tadi tak ada lagi suara di dalam mobil. Mereka berdua memilih diam. Neta benar-benar merasa situasi ini tidak nyaman sama sekali.


Padahal aku akan dengar alasannya.


Neta sebenarnya begitu penasaran sekali dengan yang dikatakan oleh Dathan. Dia ingin tahu alasan apa yang akan Dathan berikan karena memanggil ‘sayang’ padanya.


Mobil sampai di tempat kos Neta. Dathan menepikan mobilnya dan memarkirkan mobilnya tepat di samping kos. Beruntung ada tempat kosong, sehingga dia bisa memarkirkan mobilnya di sana.


Melihat tempat memungkinkan untuk bicara kembali dengan Neta, akhirnya Dathan memilih untuk berbicara.


“Aku—”


“Kenapa tidak bisa dibuka, Pak?” Bersamaan dengan Dathan yang ingin bicara, Neta berusaha untuk membuka pintu mobil.


“Aku ingin bicara dulu. Melanjutkan pembicaraan tadi.” Dathan memberikan pengertian pada Neta untuk tidak keluar.

__ADS_1


Neta akhirnya tahu alasan Dathan belum membuka pintu. Ternyata pria itu ingin berbicara dengan dirinya. Neta memutar tubuhnya menghadap Dathan. Ini agar dia lebih mudah untuk mendengarkan Dathan bicara.


“Apa kamu mau tahu alasanku memanggilmu ‘sayang’?” Dathan mengangsur tubuhnya mendekat pada Neta.


Kali kedua Neta dibuat jantungan lagi. Jarak yang semakin terkikis tentu saja membuat aroma parfum tercium dengan jelas.


“I-iya, saya mau tahu alasannya.” Dengan sedikit gugup Neta mengungkapkan keinginannya.


“Aku memanggilmu ‘sayang’ karena aku menyukaimu.” Dathan bukan lagi anak muda yang harus bermanis-manis untuk pendekatan. Dia sudah terlalu tua untuk berlama-lama untuk hal-hal sepele itu. Jadi dia memilih untuk langsung mengatakannya.


Untuk sesaat Neta terperangah. Dia hanya bisa membulatkan matanya mendengar ucapan Dathan. Untuk sesaat pikirannya melayang memikirkan apa yang sedang dilakukan Dathan. Kenapa pria itu dengan mudahnya mengatakan menyukainya? Apa Dathan sedang bersandiwara seperti yang tadi dilakukannya di restoran tadi.


Neta mendorong tubuh Dathan. “Jangan bercanda, Pak. Ini bukan sandiwara seperti yang Pak Dathan lakukan tadi.” Neta berusaha menyadarkan dirinya.


“Aku sedang tidak bersandiwara.” Dathan mengelak tuduhan Neta.


“Jika bukan sandiwara, apa Pak Dathan sedang akan menjadikan saya wanita perebut suami orang!” Neta tidak mau menjadi wanita seperti itu. Dia masih mau jadi wanita baik-baik yang menikah dengan baik.


“Pak Dathan sudah punya istri dan anak. Kenapa berani-beraninya mengatakan itu pada saya?” Neta tidak habis bagaimana bisa Dathan menyatakan cinta padanya. Harusnya Dathan tidak melakukan hal itu karena itu akan sangat menyakitkan orang lain.


Untuk sesaat Dathan mencerna ucapan Neta. Dari apa yang diucapkan Neta, akhirnya Dathan menemukan apa yang dipikirkan Neta selama ini. “Apa kamu berpikir aku punya istri?” Dia mencoba memastikan.


“Iya.” Neta mengangguk pasti.


Dathan menjauhkan tubuhnya. Dia langsung tertawa. Merasa lucu sekali karena Neta berpikir jika dirinya punya istri. Harusnya, dari beberapa kali pertemuan gadis di depannya itu tahu, kalau tidak ada wanita di sisinya.


Neta hanya merasa semakin aneh. Dathan justru tertawa. Padahal dia benar-benar tidak tahu. Lebih tepatnya tidak mau menduga-duga.


“Apa kamu melihat ada wanita di sekitar aku dan Cinta?” Dathan menatap Neta lekat. Walaupun di dalam mobil gelap, tetapi masih ada sorot lampu dari luar.


Neta menggeleng.


“Lalu bagaimana bisa kamu mengatakan aku punya istri?” Dathan masih tidak habis pikir. Jelas-jelas terlihat sekali. Neta juga pernah ke rumahnya. Bagaimana bisa dia gadis itu berpikir jika dia punya istri.

__ADS_1


“Jadi Pak Dathan tidak punya istri?” Neta memastikan kembali.


“Tidak, aku sudah bercerai.” Dathan baru kali ini berani mengatakan pada orang lain. Biasanya dia malas membahas masalah pribadinya.


“Syukurlah.” Dengan polosnya Neta mengusap dadanya. Merasa lega mendengar apa yang dikatakan Dathan.


Dahi Dathan berkerut dalam. Merasa bingung dengan rasa syukur yang diucapkan Neta. “Apa yang kamu syukuri?” tanyanya penasaran.


“Saya bersyukur karena akhirnya saya bukan wanita perusak rumah tangga orang. Jika sampai itu terjadi. Dosa saya semakin banyak. Karena menyakiti seorang wanita, menyakiti seorang anak.” Neta masih mengelus dadanya. Merasa Tuhan masih begitu baik tidak menjerumuskannya ke lubang dosa.


Dathan tertawa. Gadis di depannya benar-benar lucu sekali.


“Kenapa Pak Dathan tertawa?” Neta merasa malu ketika ditertawakan Dathan.


“Kamu lucu sekali.” Dathan tertawa. Hal yang tak pernah Dathan lakukan bertahun-tahun adalah tertawa bersama seorang wanita. Dia merasa hidupnya benar-benar berubah malam ini.


Neta melihat jelas wajah Dathan yang tertawa lepas. Baru kali ini dia melihat Dathan tertawa lepas sejak pertama kali bertemu. Tersorot cahaya dari luar mobil membuat Dathan tampak begitu memesona. Untuk sesaat Neta terbuai dengan pria di depannya itu.


Dathan yang merasa tawanya sudah terlalu lama seketika menghentikannya. Dia menatap Neta yang berada di depannya itu.


“Apa kamu bisa menjawabnya sekarang?” Dathan langsung to the point. Tak mau berlama-lama.


“Tentang apa?” Neta merasa bingung. Dia tadi sudah membahas banyak hal. Tentu saja kini dia bingung harus menjawab apa yang ditanyakan Dathan.


Dathan mengembuskan napasnya. Dia harus banyak-banyak bersabar. “Tentang perasaanku tadi.”


“Yang Pak Dathan mengatakan menyukai saya?” tanya Neta memastikan.


“Iya, apa kamu bisa menjawabnya?” Dathan tak mau berbasa-basi sama sekali.


Neta yang langsung ditodong jawaban tantang perasaan Dathan tentu saja bingung. Semua seolah di luar kendalinya. Dia yang ingin melancarkan aksinya untuk mendapatkan wawancara, tetapi justru dia mendapatkan ungkapan cinta.


Aku harus jawab apa?

__ADS_1


__ADS_2