Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Satu Bulan Lagi


__ADS_3

Semua orang tertawa ketika melihat aksi Loveta. Ajakan menikah Loveta terdengar begitu enteng sekali. Seolah tak ada beban yang dipikul.


“Selamat, Neta.” Rifa memberikan ucapan selamat pada Neta. Menautkan pipinya pada pipi Neta.


“Terima kasih, Kak.” Neta tersenyum senang. Rifa dan Reno adalah orang terpenting dalam hidup Dathan. Jadi dia juga merasa mereka sama pentingnya.


“Selamat, Ta.” Reno mengulurkan tangan pada Neta.


“Terima kasih, Kak.” Neta tersenyum.


“Selamat Aunty Neta.” Richa ikut memberikan ucapan selamat.


“Terima kasih, Sayang.” Neta tersenyum sambil membelai lembut pipi Richa.


Mereka semua akhirnya memutuskan untuk ke restoran di mana tadi Rifa, Reno, Richa, dan Loveta berada. Tempat itu lebih luas untuk melanjutkan berbincang. Lagi pula Loveta belum puas melihat penguin.


Di restoran, Loveta dan Richa langsung melihat penguin, sedangkan Dathan, Neta, Reno, dan Rifa mengobrol bersama di satu meja.


“Jadi kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?” Rifa menatap Dathan dan Neta bergantian.


“Aku berniat bulan depan. Apa kira-kira cukup waktunya?” Dathan menatap Neta. Tatapan itu seolah sebuah tanya, apakah Neta setuju dalam waktu satu bulan akan menikah.


Neta terperangah. Menikah dalam waktu satu bulan itu benar-benar cepat sekali. Jadi tentu saja mereka harus mempersiapkan semuanya. Dia justru berpikir, apa waktu sebulan itu cukup untuk mereka.

__ADS_1


“Menikah itu tergantung hotelnya, kalau hotelnya oke, minggu depan juga bisa.” Rifa tertawa. Dia seorang desainer gaun pengantin. Jadi sering dengar cerita dari pengantin.


“Kalau begitu aku akan cek dulu hotelnya. Jika nanti ready bulan depan. Kita booking.” Reno selalu ada untuk Dathan. Sebagai teman dan asisten, dia selalu mengerti kebutuhan Dathan.


“Baiklah, kamu cek dulu setelah itu baru kita urus yang lainnya.” Dathan tersenyum.


“Than, kamu main urus-urus saja, apa kamu tidak datang ke orang tua Neta untuk melamarnya. Kamu harusnya datang ke ibu panti karena Beliau orang yang bertanggung jawab atas Neta.” Rifa seketika mengingatkan temannya. Karena jelas mereka harus tahu sopan santun sebelum mengajak anak orang menikah.


“Astaga, aku sampai lupa.” Dathan langsung menatap Neta. “Sayang, aku akan menemui ibu panti untuk melamarmu secara langsung nanti.” Dia segera menggenggam tangan Neta.


Neta tersenyum. Dirinya sendiri saja sampai lupa jika tidak Rifa bicara.


“Iya, kita atur waktu saja.” Neta setuju saja. Lagi pula pasti ibu panti suka jika Dathan datang melamar. Artinya, sang ibu dianggap.


“Terima kasih, Kak.” Neta terharu sekali ketika Rifa dan Reno dengan baiknya membantu. Mereka begitu tulus sekali.


“Jangan seperti itu. Kalian juga adalah bagian dari keluarga kami. Jadi tentu saja kami akan membantu.” Rifa tersenyum. Dia merasa tidak ada masalah sama sekali ikut andil dalam pernikahan Dathan dan Neta.


“Baiklah, semua sudah beres. Jadi aku rasa tidak ada masalah lagi jika pernikahan diadakan dalam waktu sebulan.” Dathan sudah tidak sabar untuk menjadikan Neta istrinya. Memboyong Neta ke rumahnya dan menjadikannya nyonya rumah.


Neta tersenyum. Dia ikut senang. Obrolan pernikahan terdengar tanpa masalah. Jadi dia berharap kelak juga mereka tidak akan ada masalah.


Mereka melanjutkan berbincang ringan. Membahas tentang tema apa yang akan dipakai oleh Dathan dan Neta. Kebetulan Neta tidak mau terlalu mewah. Jadi Dathan akan memilih tidak akan mengundang tamu terlalu banyak. Hanya keluarga, teman, dan beberapa rekan bisnis saja.

__ADS_1


Usai mengobrol ringan, mereka memutuskan untuk pulang. Rifa meminta Dathan untuk mengantarkan Neta pulang saja. Loveta akan bersama mereka pulangnya. Jadi Dathan tidak bolak-balik. Dathan merasa ide Rifa cukup baik, jadi dia setuju saja. Memilih untuk menitipkan anaknya pada teman-temannya.


Dathan melajukan mobilnya ke kos Neta. Mengantarkan kekasihnya itu untuk pulang. Sepanjang jalan Dathan menggenggam tangan Neta. Dia benar-benar sedang sangat bahagia sekali. Yang merasakan kebahagiaan, tidak hanya Dathan saja. Neta pun merasakan hal yang sama.


“Jadi kira-kira kapan kita akan ke panti asuhan?” Dathan menatap Neta sejenak. Membagi konsentrasinya pada jalanan di depannya.


“Minggu ini aku harus ke luar kota. Jadi tidak bisa. Kalau minggu depannya lagi bagaimana?” Neta merasa jika minggu ini akan sangat padat sekali. Jadi tentu saja dia tidak bisa pergi ke panti asuhan. Kalau mengambil waktu di jam pulang kerja, pasti akan sulit karena sudah terlalu malam. Tidak enak jika datang ke panti malam-malam.


“Baiklah, kita ke panti minggu depan saja, tapi besok kita ke butik Rifa sepulang kerja.” Dathan merasa jika pergi ke butik pastinya tidak masalah jika malam hari. Apalagi temannya sendiri sang desainernya.


“Aku akan usahakan besok. Besok aku akan kabari.” Neta tersenyum. Jika ke tempat Rifa, mungkin dia tidak akan masalah. Apalagi Rifa teman Dathan sendiri.


Mobil sampai di tempat kos Neta. Dathan ikut turun dari mobil. Dia ingin mengantarkan Neta sampai ke kamar kosnya. Neta pun tidak menolak sama sekali.


“Tidur yang nyenyak.” Dathan membelai lembut pipi Neta.


“Tentu saja aku akan tidur nyenyak malam ini.” Saat bahagia, tentu saja Neta akan tidur dengan nyenyak. Apalagi tidak ada masalah apa pun yang harus dipikirkan.


Dathan mendaratkan kecupan di dahi sang kekasih. “Selamat istirahat.”


Neta tersipu malu ketika Dathan mendaratkan kecupan dahinya. Merasa pasti tidurnya nanti akan semakin nyenyak lagi.


Saat Dathan sedang mencium Neta, terdengar suara pintu kamar Maria terbuka. Dathan segera menjauhkan tubuhnya ketika mendengar suara terbuka. Mereka berdua segera mengalihkan pandangan untuk melihat Maria yang keluar dari kamar. Sayangnya, ternyata yang keluar dari kamar Maria bukanlah Maria.

__ADS_1


__ADS_2