
“Kenapa bilang dilaporkan polisi?” Dathan langsung melempar pertanyaan itu.
“Iya, apa lagi jika bukan karena kamu memacari anak di bawah umur. Jika aku dan kamu kenal aku sepuluh tahun yang lalu. Pasti aku adalah anak sekolah.” Neta tertawa.
Dathan ikut tertawa. “Jadi memang Tuhan kirimkan kamu di waktu yang tepat.”
Mendengar ucapan Dathan, Neta tersenyum.
“Astaga, bisakah aku kembali ke kosmu.” Dathan tidak sabar bertemu dengan Neta lagi.
Neta merona. Dia juga sama dengan Dathan. Ingin sekali sekarang bertemu dengan Dathan, tetapi dia sadar jika baru saja bertemu dengan Dathan.
“Besok kita bisa bertemu.” Neta tersenyum.
“Kabari jika kamu pulang besok.” Dathan ingin selalu mendapatkan kabar dari Neta.
“Tentu saja.” Neta pasti akan mengabari Dathan. Paling tidak agar kekasihnya itu jauh lebih tenang.
Mereka mengakhiri telepon setelah bercerita sedikit. Neta yang menyelesaikan telepon langsung segera beristirahat. Jadi besok dia akan jauh lebih segar saat mulai bekerja.
...****************...
Pagi ini Neta bekerja dengan semangat. Liburannya memang memberikan energi lebih pada Neta. Sehingga dia begitu bersemangat sekali. Memulai rutinitasnya, Neta ke kantor dengan menggunakan motornya. Tidak ada yang berubah ketika dia menjadi kekasih seorang Dathan Fabrizio.
Di kantor dia memulai pekerjaanya dengan baik. Hasil wawancaranya sudah dikirim pada Adriel. Jadi tentu saja hal itu membuat Neta tinggal menunggu hasil dari Adriel yang mengecek pekerjaan Neta.
“Ta, apa yang akan dikatakan Adriel jika dia tahu kekasihmu siapa?” Maria begitu penasaran sekali dengan apa yang akan terjadi.
“Entah, tetapi aku berharap dia tahu setelah wawancara selesai. Jadi dia tidak akan berpikir aku sengaja membuat wawancara tampak baik.” Neta menanggapi apa yang ditanyakan Maria.
“Ta, tapi kemarin aku melihat dia cukup terkejut ketika mengetahui kamu memiliki pacar duda.” Maria mengingat wajah Adriel kemarin.
“Biar saja. Lagi pula itu hakku.” Neta merasa jika Adriel harus terima jika dirinya memiliki kekasih. Lagi pula, mereka sudah putus.
“Ta ….” Seorang teman memanggil Neta yang sedang asyik bergosip dengan Maria di tengah-tengah pekerjaanya.
Neta langsung menoleh ke arah temannya itu. Memastikan untuk apa temannya itu memanggil.
“Pak Adriel memanggilmu.” Teman Neta itu langsung memberitahu Neta.
Neta segera berdiri. Dia bersiap ke ruangan Adriel. Dia tahu, pasti ini membahas tentang wawancaranya dengan Dathan. Mungkin Adriel sudah mengecek dan perlu ada yang direvisi.
__ADS_1
Di depan ruangan Adriel Neta mengetuk pintu. Sesaat kemudian dia mendorong pintu. Tampak Adriel duduk di meja kerjanya sambil menatap laptopnya. Saat Neta masuk, dia mengalihkan pandangan pada mantan kekasihnya itu.
“Masuk, Ta.” Adriel mempersilakan Neta masuk.
Neta segera masuk. Dia duduk di kursi yang berada di depan Adriel. Biasanya dia selalu ketakutan setiap bertemu dengan manajer. Namun, kali ini dia jauh lebih tenang, mengingat manajer adalah Adriel.
“Sepertinya kamu tampak tenang masuk ke sini.” Adriel sudah kenal lama Neta. Dia adalah tempat cerita Neta tentang pekerjaan. Jadi dia tahu jika Neta selalu takut ke ruang manajer.
Neta tersenyum. “Karena manajernya kamu, aku jauh lebih tenang. Kamu tidak akan mengancam aku dipecat ‘kan?” tanya Neta polos.
“Tergantung.” Adriel tersenyum menyeringai.
“Sama saja.” Neta menekuk bibirnya.
Adriel hanya tertawa melihat wajah Neta.
“Kamu sudah baca laporanku?” Neta menebak jika Adriel memanggilnya karena laporannya.
“Belum.” Adriel menggeleng.
Neta membulatkan matanya. Tebakannya meleset. Harusnya, Adriel memanggilnya untuk revisi hasil laporan wawancara, tetapi mantan kekasihnya itu justru belum membaca laporannya.
“Lalu kamu kenapa memanggil aku?” Neta merasa heran alasan Adriel memanggilnya.
“Kapan acaranya?” tanya Neta yang ingin tahu.
“Acaranya hari sabtu malam.” Adriel menatap Neta dengan tersenyum tipis.
“Hah … sabtu?” Neta benar-benar kesal mendengar akan hal ini. Sabtu dan minggu akan menjadi waktunya bersama Dathan. Jika dipakai untuk bekerja, tentu saja hal itu membuatnya harus merelakan waktunya bersama Dathan.
“Aku tahu jika kamu sudah punya pacar dan pasti malam minggumu akan digunakan untuk berkencan. Namun, ini sangat penting. Jadi aku mohon datang dan liput siapa saja yang datang. Wawancara singkat juga Bryan Adion pemilik Adion Company.” Adriel menjelaskan pada Neta.
Neta mengembuskan napasnya. Pekerjaan seperti ini sudah biasa, harusnya dia tahu. Saat tidak punya kekasih, Neta suka sekali bekerja di malam minggu. Paling tidak, dia tidak seperti jomlo kesepian. Namun, saat punya kekasih, rasanya menyebalkan sekali.
“Baiklah.” Neta pasrah ketika harus mendapatkan tugas itu. Urusan Dathan, dia akan bicara pada kekasihnya itu.
Adriel tersenyum. “Baiklah, hanya itu saja.” Dia mengakhiri obrolan dengan Neta.
Neta yang merasa sudah selesai dengan obrolan pekerjaan dengan Adriel pun memilih untuk keluar dari ruangan Adriel. Namun, langkahnya terhenti ketika di depan pintu.
“Pak Adriel,” panggil Neta.
__ADS_1
Adriel yang hendak fokus pada laptopnya, kembali mengalihkan pandangan pada Neta. “Apa?” tanyanya.
“Tolong cek laporan saya, jangan sampai liburan saya harus dipakai untuk revisi.” Neta dengan senyum manisnya memohon.
Adriel tersenyum. “Baiklah, aku akan cek.”
Neta yang sudah selesai dengan urusannya pun memilih untuk segera keluar dari ruangan Adriel. Adriel sendiri langsung membuka laporan milik Neta. Saat pertama kali membuka laporan, Adriel disuguhi dengan wajah yang tidak asyik.
“Ini.” Dia mencoba mengumpulkan memorinya. Mengingat di mana gerangan dia bertemu dengan pria itu. “Ini pria yang berada di kafe waktu itu.” Dia akhirnya menemukan siapa gerangan pria yang dilihatnya sekarang. “Jadi ini Dathan Fabrizio.” Adriel tidak menyangka jika ternyata pria itu adalah Dathan yang sama. Padahal jelas-jelas dia menyebut nama ‘Dathan’, tetapi Adriel tidak menyangka itu orang yang sama.
“Lalu untuk apa dia ke kafe depan kantor malam-malam?” Pertanyaan itu menghiasi kepala Adriel. Dia merasa jika dirinya terasa aneh seorang Dathan Fabrizio ke kafe depan kantornya.
...****************...
“Kamu sudah makan?” Pertanyaan klasik yang sering ditanyakan pasangan baru ternyata ditanyakan juga oleh Dathan.
“Sudah baru saja.” Neta menjawab malu-malu. “Kamu sendiri?”
“Aku sudah makan tadi dengan Cinta.”
“Sedang apa Cinta sekarang.”
“Mau bicara dengan Cinta?” Dathan di seberang sana bertanya.
“Iya.” Neta begitu semangat menjawab.
“Baiklah.” Suara tampak tenang. Hingga tiba-tiba suara Loveta terdengar. “Hai, Aunty.”
“Halo, Cinta. Cinta sedang apa?” Neta begitu penasaran sekali.
“Cinta sedang bermain. Aunty kapan ketemu Lolo?”
Neta tersenyum. “Aunty kerja dulu. Nanti Aunty akan temui Cinta jika libur.”
“Oke, Aunty, aku main dulu.”
“Da … Cinta.”
“Sudah bicaranya?” Dathan tampak bertanya.
“Sudah, aku rindu sekali dengan Cinta.” Neta baru saja sehari tidak bertemu Loveta, tetapi sudah rindu.
__ADS_1
“Hanya Cinta?” Dathan di seberang sana bertanya.