
Dathan yang mendapatkan pertanyaan itu hanya tersenyum saja. Dia tampak begitu tenang. Tidak takut ketika Neta tampak kesal.
“Aku sedang menyelamatkanmu.” Dathan menjawab pertanyaan dari Neta.
Neta menautkan kedua alisnya. Merasa heran dengan ucapan Dathan. Bisa-bisanya Dathan mengatakan hal itu. “Memang Anda pikir saya sedang dalam bahaya, harus diselamatkan?” cibir Neta.
Dathan tersenyum tipis. Melihat Neta yang kesal justru menggemaskan sekali. “Iya, kamu sedang dalam bahaya karena masuk ke kandang buaya.” Dengan tenangnya Dathan menjelaskan.
Neta hanya menatap heran. “Kandang buaya?” Neta masih belum bisa menangkap apa yang dikatakan oleh Dathan. “Bagaimana bisa Pak Dathan bilang saya masuk ke kandang buaya?” Neta masih tidak pikir apa yang dikatakan oleh Dathan.
“Apa kamu tahu jika David memiliki banyak skandal dengan para wanita? Artinya kamu sedang masuk ke kandang buaya darat seperti David.” Dathan mencoba menjelaskan pada Neta.
Akhirnya Neta mengerti apa yang dipikirkan oleh Dathan. “Saya sudah tahu karena saya sudah menyelidiki semua narasumber yang akan saya wawancara. Jadi tanpa Anda memberitahu, saya sudah tahu.” Neta kesal pada Dathan yang seenaknya saja.
Dathan sadar Neta adalah seorang wartawan, tentu saja dia akan mencari informasi. Dathan mengangsur tubuhnya mendekat pada Neta. “Apa kamu juga mencari informasi tentang aku?” Dia menyeringai menatap Neta.
Tatapan Dathan seketika membuat Neta begitu berdebar-debar. Dia memundurkan tubuhnya untuk menghindari kontak fisik dengan Dathan. “Te-tentu saja saya mencari tahu juga.” Neta menjawab dengan gugup pertanyaan Dathan.
“Lalu informasi apa yang kamu dapat tentang aku?” Dathan masih terus berjalan mendekat pada Neta.
“Sa-sa-saya ….” Neta bingung menjawab apa. Karena memang tidak banyak informasi yang dia dapatkan dari Dathan. Tidak seperti David yang beritanya berseliweran di media.
Dathan terus mengayunkan langkahnya mendekat pada Neta, hal itu membuat Neta semakin memundurkan langkahnya. Neta sendiri tidak tahu kenapa terus mundur. Jantung Neta benar-benar tidak karuan ketika melihat Dathan. Bagaimana Dathan menatapnya itu benar-benar berbeda dengan pertama kali pria itu melihatnya.
“Papa.”
Ketika Dathan berusaha terus mendekat, tiba-tiba suara Loveta terdengar. Dathan dan Neta mengalihkan pandangan pada Loveta yang berdiri tak jauh dari tempat mereka berdiri.
__ADS_1
Loveta yang melihat ada Neta di depan sang papa langsung berlari menghampiri, sambil memanggil, “Aunty Neta.” Dia yang menghampiri Neta langsung memeluk Neta.
Neta yang melihat Loveta langsung tersenyum. Tangannya membelai lembut rambut Loveta. Sekali pun dia kesal dengan sang papa, tetapi tidak melampiaskan pada sang anak.
Dathan yang melihat anakanya memeluk Neta merasa begitu iri. Bagaimana bisa anaknya bisa leluasa memeluk Neta, sedangkan dirinya tidak bisa melakukannya.
“Aunty Neta di sini?” Loveta menengadah. Melihat ke arah Neta.
“Iya, tadi Aunty ada pekerjaan, jadi di sini.” Neta menjelaskan sambil membelai lembut rambut Loveta. Dia suka dengan Loveta yang tampak begitu ceria. “Loveta kenapa ada di sini?” Neta begitu penasaran kenapa bisa Loveta dan Dathan berada di tempat yang sama dengannya.
“Lolo menginap di sini. Bersama Aunty Rifa dan juga Kak Richa.” Loveta menjelaskan pada Neta kenapa dirinya berada di hotel yang sama dengannya.
Akhirnya Neta tahu apa yang membuat Dathan berada di hotel yang sama dengannya. Ternyata dia sedang menginap bersama anaknya. Jadi ini hanya sebuah kebetulan saja.
Loveta beralih pada sang papa yang berdiri di belakangnya. “Papa kenapa lama ke toiletnya?” Loveta yang merasa sang papa lama, mengajak Richa untuk mencari papanya. Rifa dan Reno tidak bisa menghalangi apalagi gadis kecil itu sudah hampir menangis menunggu papanya yang begitu lama sekali.
Loveta mengangguk mengerti. Dia kembali beralih pada Neta. “Aunty ayo ikut makan bersama.” Tanpa menunggu persetujuan dari Neta, dia segera menarik tangan Neta begitu saja. Mengajaknya untuk ke meja makan di mana ada Rifa dan Reno.
Dathan yang melihat aksi sang anak hanya tersenyum saja. Adanya Loveta sedikit membantu. Karena paling tidak dia tidak susah payah membuat Neta berada di restoran.
Neta tidak punya pilihan ketika tangannya ditarik oleh Loveta. Tak jauh dari tempatnya berdiri tadi, dia melihat seorang anak remaja yang berdiri menunggu Loveta. Dia menebak-nebak siapa gerangan anak remaja itu.
“Aunty ini kenalkan Kak Richa.” Loveta berhenti ketika menarik Neta.
Neta melambaikan tangan sambil menyapa. “Hai.” Dia wajah yang ceria, dia menyapa Richa.
“Hai, Aunty.” Richa membalas lambaian tangan Neta.
__ADS_1
“Ayo, Aunty kita ke meja makan.” Loveta menarik kembali Neta. Membawanya ke meja yang berada di seberang.
Neta pasrah mengikuti ke mana Loveta membawanya. Saat menuju ke meja yang dimaksud Loveta, dia melihat ada Rifa dan Reno di sana. Walaupun tadi Loveta sudah bertemu, tetap saja dia begitu terkejut. Apalagi dia harus bertemu Rifa lagi setelah tadi sempat bertemu di butik.
“Hai, Neta.” Rifa melembaikan tangannya. Menyambut kedatangan Neta. “Tidak menyangka kita bertemu lagi di sini.”
“Hai, Kak Rifa.” Neta tersenyum. “Iya, tidak menyangka jika kita bertemu di sini.” Neta sendiri masih bingung. Kebetulan macam apa yang Tuhan berikan hingga mereka bertemu kembali.
“Ayo, duduk.” Rifa meminta Neta untuk bergabung.
Neta sebenarnya malas jika harus bergabung. Perasaannya masih begitu kesal sekali dengan Dathan. Jadi dia merasa tidak dalam keadaan baik-baik saja. Namun, Neta tidak bisa menolak. Apalagi Loveta sudah menariknya.
Richa yang berada di belakang Neta langsung ikut bergabung. Dia duduk bersama dengan sang mama.
Dathan yang sedari tadi mengekor anaknya dan Neta pun ikut bergabung. Dia dengan santai duduk manis bersebelahan dengan Neta. Dia memerhatikan gadis cantik yang sedari tadi menarik perhatiannya itu.
Kursi yang ada di meja makan hanya ada lima. Neta pun meminta Loveta untuk duduk di pangkuannya. Loveta yang senang tak menolak sama sekali. Dia duduk manis di pangkuan Loveta.
Rifa yang melihat pemandangan itu merasa senang. Kedekatan Neta dengan Loveta terjalin begitu baik. Dathan yang menyukai Neta, pastinya akan dapat dengan mudah karena anaknya sudah dekat dengan Neta.
Reno yang berada di samping Dathan menatap temannya itu. Sedari tadi dia mendengarkan drama yang berada di sebelah. Sungguh menggelikan sekali mendengar temannya yang sedang beraksi itu.
“Jadi kamu ke butik untuk datang ke acara makan malam di sini, Ta?” Rifa menatap Neta. Dia membuat Neta nyaman ketika bergabung bersama.
“Iya.” Neta mengangguk.
“Lalu mana Bu Rania?”
__ADS_1
Mendengar pertanyaan itu Neta langsung melirik Dathan kesal. Jika bukan karena Dathan pasti dia masih bersama manajernya. Atau bahkan sudah pulang dengan sang manajer.