
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. Hari ini adalah hari terakhir Neta bekerja. Sudah sebulan sejak dirinya menikah, dan kini akhirnya dia menyelesaikan pekerjaanya sampai akhir.
Walaupun beberapa waktu lalu dihiasi drama pernikahan yang terpajang di majalah. Kini semua sudah jauh lebih baik. Sejak Syailen Gosip menampilkan majalah tersebut. Kini tidak ada lagi gosip tentang Neta.
Setelah pekerjaanya selesai, Neta memilih untuk berpamitan dengan temannya satu per satu. Rasanya, berat ketika harus melepaskan pekerjaan yang selama ini diimpikannya. Namun, hidup selalu dihadapkan dengan sebuah pilihan. Jadi tentu saja Neta harus memilih.
“Kejutan.” Saat berpamitan teman-teman Neta memberikan kejutan sebuah kue.
Neta yang melihat hal itu tersenyum.
Temannya memberikan kue dengan fondan bentuk ibu-ibu sosialita. Tulisan di dalam kue pun bertuliskan ‘calon ibu-ibu sosialita’.
“Astaga. Aku tidak akan jadi ibu-ibu sosialitas.” Neta mengelak.
“Kamu sekarang jadi istri pengusaha, jadi tentu akan jadi ibu-ibu sosialita,” ucap salah satu teman.
“Nanti jika sudah jadi ibu sosialita, jangan lupa kami,” timpal salah satu teman.
“Tentu saja aku tidak akan lupa dengan kalian semua.” Neta memeluk semua. Kenangan bekerja bersama dengan teman-temannya tentu saja tidak akan dilupakan.
Neta memotong kue. Menikmati dengan teman-temannya. Teman-teman Neta pun memberikan hadiah pada Neta. Sebagai kenang-kenangan. Neta terharu dengan perpisahan manis yang diberikan oleh teman-temannya. Merasa semakin berat untuk berpisah.
__ADS_1
“Sebagai manager di divisi ini, aku mengucapkan terima kasih pada Neta yang sudah berkontribusi untuk perusahaan ini. Semoga setelah ini kita semua masih bisa saling berkomunikasi agar terjalin hubungan pertemanan yang lebih erat. Semoga apa yang diharapkan Neta ke depan untuk masa depannya dapat tercapai. Kita sebagai teman turut mendoakan.” Adriel mewaliki teman-temannya mengucapkan perpisahan.
“Terima kasih semua.” Neta begitu terharu. Ini akan jadi perpisahan manis untuknya. Berharap kelak dia bisa berkumpul dengan teman-temannya lagi, meskipun bukan sebagai wartawan lagi.
...****************...
Neta membawa pulang beberapa kado yang diberikan teman-temannya. Dia benar-benar tidak menyangka teman-temannya memberikan kado untuknya sebanyak itu.
“Teman-temanmu sepertinya menyiapkan perpisahan manis.” Dathan yang melihat kado-kado di atas sofa hanya bisa menggeleng.
“Iya, mereka menyiapkan kenangan-kenangan untuk aku. Dan apa kamu tahu, mereka bilang apa.” Neta sedikit menekuk bibirnya.
“Mereka bilang, “Neta, mungkin ini tidak seberapa, mungkin suamimu bisa memberikan lebih dari ini, tetapi semoga ini jadi kenang-kenangan untukmu”. Saat mereka bilang begitu aku tidak suka. Seolah mereka malu memberikan itu padaku.” Neta sedikit menekuk bibirnya.
Dathan hanya tersenyum.
“Apa jadi istri Dathan Fabrizio membuatku berbeda dengan mereka?” Neta sedikit tidak suka dengan sikap teman-temannya.
“Tidak ada yang berbeda jika kamu tidak berubah. Jadi jangan pernah berubah. Jadilah Neta seperti biasanya.” Dathan membelai lembut wajah sang istri.
Neta mengangguk. Tentu saja dia tidak akan berubah sama sekali. Tetap akan jadi Neta seperti biasa.
__ADS_1
“Besok kamu sudah tidak bekerja. Apa yang akan kamu lakukan di rumah?” Dathan begitu penasaran sekali. Apa yang akan dilakukan sang istri di hari pertamanya tidak bekerja.
“Besok aku mau bangun pagi. Menyiapkan sarapan untuk kalian. Mengantarkan Cinta ke sekolah. Setelah itu, aku akan berbelanja. Saat siang, aku akan jemput Cinta.”
“Aku belum dapat supir. Jadi untuk sementara aku akan mengantarkanmu.” Dathan membelai lembut rambut Neta.
“Bolehkah aku menyetir sendiri?” Neta memastikan.
“Kamu bisa menyetir?” Dathan memastikan. Setahunya, Neta hanya bisa naik motor saja.
“Apa kamu tahu, aku harus belajar menyetir karena ketika aku harus mengejar berita, aku harus siap sedia. Apalagi ketika pergi bersama yang lain, aku harus bergantian membawa mobil.” Neta menjelaskan bagaimana dirinya belajar menyetir.
Dathan masih tidak percaya. Dia belum pernah lihat sang istri menyetir.
“Kamu tidak percaya?” Neta menebak.
Dathan hanya memamerkan senyumnya saja.
“Bagaimana jika besok aku yang akan mengantarkamu. Jadi aku akan antarkan Cinta ke sekolah, setelah itu mengantarkanmu ke kantor, baru aku pergi berbelanja.” Neta memberikan idenya.
Dathan tampak berpikir. “Baiklah.” Dia pun setuju. Dia ingin melihat keahlian sang istri.
__ADS_1