
Neta yang mendapatkan perintah pun bersiap untuk mengajukan pertanyaan. Ini kesempatannya untuk bertanya banyak. Karena Dathan pasti tidak akan banyak bertanya aneh-aneh ketika ada anaknya.
Neta segera menyalakan perekam suara. Tak lupa memberikan isyarat tangan di mulut pada Loveta untuk diam. Loveta pun mengangguk dan tersenyum.
“Bagaimana cara Pak Dathan mengembangkan perusahaan ini. Kini perusahaan Pak Dathan menjadi salah satu perusahaan manufaktur terbesar di negara ini?” Neta melemparkan pertanyaannya.
“Aku hanya bisa melakukan yang terbaik sesuai dengan yang aku bisa. Jika pun mendapatkan nilai plus, itu tidak lain karena bantuan karyawan juga. Setiap orang yang bekerja berperan penting dalam berkembangnya perusahaan ini.” Dathan menjawab pertanyaan Neta.
“Banyaknya persaingan yang terjadi, apa tanggapan Anda?” Kapan lagi bisa mengajukan banyak pertanyaan jika bukan sekarang. Mumpung ada Loveta. Tidak mungkin Dathan akan protes.
Dathan mengembuskan napasnya. Dia merasa kesal sekali ketika harus mendapatkan pertanyaan lebih dari satu. Itu artinya bukan satu pertanyaan banding satu pertanyaan lagi.
Aku akan hitung berapa banyak pertanyaan yang diberikan.
Bukan Dathan namanya jika menyerah begitu saja. Tentu saja dia akan membalas pertanyaan itu nanti.
“Dalam sebuah bisnis selalu ada persaingan dan saya tidak bisa memungkirinya. Tentu saja hal itu adalah pemicu untuk saya melakukan inovasi-inovasi baru. Dengan memberikan stand makanan dan permainan anak adalah salah satu yang membuat kami berbeda. Keluarga tidak akan hanya berbelanja, tetapi bisa mendapatkan hiburan.”
“Berapa karyawan yang Pak Dathan miliki sekarang?” Neta membaca pertanyaan yang sudah dia siapkan.
“Saya kurang tahu pastinya. Hanya saja dari kantor, pabrik, dan toko ada sekitar lima ribu ribu pekerja.”
Neta cukup tercengang ketika ternyata sebanyak itu pegawai Dathan.
“Berapa omzet yang didapatkan oleh IZIO?” tanya Neta kembali.
“Sekitar sepuluh triliun per tahun.”
__ADS_1
“Apa itu sudah termasuk IZIO food?”
“Belum. IZIO food memiliki jauh lebih banyak pendapatan. Sekitar delapan belas triliun. Karena faktanya orang ke IZIO lebih banyak mencari makanan.” Dathan tertawa.
“Kalau itu saya akui, Pak. Karena saya adalah salah satu penikmat makanan di IZIO. Terutama Korean Food-nya.” Neta tersenyum. Karena memang dia dan temannya akan ke IZIO sekadar untuk makan saja.
Dathan dan Neta yang asyik wawancara tidak menyadari jika ternyata Loveta tertidur. Pantas saja gadis kecil itu tidak sama sekali berisik
Melihat sang anak tertidur Dathan akhirnya mematikan perekam suara. Menghentikan wawancara, karena harus memindahkan Loveta ke kamarnya.
“Sebaiknya kita lanjutkan saja besok wawancaranya.” Dathan menatap Neta.
Wawancara tadi sudah menghabiskan waktu sekitar dua jam. Waktu yang cukup lama. Walaupun lama saat dirinya dan Dathan saling melempar pertanyaan.
“Baik.” Neta mengangguk.
Dathan segera berdiri. Dia menghampiri Loveta dan mengangkat tubuh mungil itu. Neta yang melihat hal itu segera meletakkan kertas yang dibawanya. Dia ikut berdiri, mengikuti Dathan yang membawa Loveta ke kamar sebelah. Neta juga membantu Dathan membukakan pintu penghubung antara ruangan Dathan dan kamar Loveta.
Neta terus memasang mata. Apa yang dilakukan Dathan adalah sesuatu yang luar biasa. Di saat bekerja, dia masih menyempatkan diri untuk menjaga anaknya.
“Apa aku boleh bertanya?” Suara Neta terdengar lirih. Tak mau sampai mengganggu Loveta.
Dathan tersenyum saat mengalihkan “Apa?”
“Kenapa membuat kamar di sini? Maksud aku kenapa Loveta harus di kantor?” Dari kemarin dia masih bingung dengan alasan Dathan.
“Hak asuh Loveta ada padaku. Jadi dia akan bersamaku sepanjang waktu. Hanya saat hari libur dia akan pergi dengan mamanya. Karena itu aku membuat kamar ini. Aku ingin memantau anakku sekaligus bekerja.” Dathan memang tidak bisa membiarkan anaknya di rumah menunggunya bekerja.
__ADS_1
Neta mulai mengerti yang dijelaskan oleh Dathan. “Banyak orang memakai babysitter dan meninggalkannya di rumah, apa kamu tidak berpikir seperti itu?”
Dathan tersenyum. “Aku menghargai adanya pekerjaan itu, tapi aku dididik oleh orang tuaku sendiri dan selalu ditemani oleh orang tuaku sendiri. Jadi aku ingin anakku seperti aku. Karena kebetulan aku memiliki usaha sendiri jadi bukan persoalan susah. Aku mau saat anakku ingin bertanya tentang apa yang dia tidak tahu, dia bisa langsung bertanya padaku.” Sejak kecil Dathan memang selalu ditemani orang tuanya. Sehari-hari sekali pun orang tua Dathan bekerja, dia selalu ada untuknya. Karena itu, dia mau anaknya juga seperti itu.
Neta akhirnya tahu alasan Dathan. Dia sadar, setiap orang punya prinsip masing-masing. Jadi menurut dia sah-sah saja jika dia mau melakukan itu.
“Apa kamu bercerai karena prinsip ini?” Neta takut-takut bertanya.
“Salah satunya.” Dathan menganggukkan kepalanya.
Kini Neta tahu alasan dari perceraian Dathan. Walaupun dia tidak tahu pasti apa yang terjadi dan alasan itu salah satunya, dia yakin sekali Dathan pasti sudah menimbang-nimbang untuk sebuah perceraian. Mengingat pastinya dia mau anaknya tumbuh baik dengan kedua orang tuanya.
“Apa kamu sedang berpikir jika prinsipku menjadikan seorang istri sekadar babysitter?” Dathan menerawang ke dalam ke dua bola mata Neta. Neta adalah wanita yang bekerja. Bisa jadi dia memiliki prinsip yang berbeda.
“Tidak.” Neta menggeleng. “Aku paham maksudmu. Jadi tentu saja aku tidak berpikir seperti itu.” Neta tersenyum. Memang benar adanya jika dia tidak sama sekali berpikir akan hal itu. “Setiap orang diberikan kesempatan untuk menjadi ibu, tetapi terkadang wanita punya caranya masing-masing untuk menjadi ibu yang terbaik untuk anak-anaknya. Aku tidak berpikir jadi ibu hanya sekadar jadi babysitter. Karena tugas ibu jauh lebih banyak.” Dia tersenyum menjelaskan apa yang menjadi pandangannya pada Dathan.
Dathan tersenyum. Dia tahu Neta adalah orang yang berpikiran luas. Jadi karena itu tidak salah dia menjatuhkan pilihannya. Dathan sudah banyak berkenalan dengan wanita, tetapi dengan Neta, dia memiliki keyakinan jika mereka punya pola pikir yang searah. Jika mereka mempunyai cara pandang hidup yang sama, pastinya akan mudah untuk menjalankan semuanya kelak.
“Kamu mengajukan lima pertanyaan tadi.” Dathan menyeringai ketika kembali mengingatkan Neta akan pertanyaan yang diajukan gadis itu tadi.
Seketika Neta menekuk bibirnya. Dia tidak menduga jika Dathan menghitungnya.
“Masih ada berapa pertanyaan lagi yang harus aku jawab?” Dathan begitu penasaran.
“Entah.” Neta tidak ingat karena dia menulisnya di kertasnya.
“Kalau begitu kamu bisa ajukan besok.” Dathan mengakhiri wawancara hari ini. Baginya untuk hari ini cukup pertanyaan itu. Jika banyak-banyak. Yang ada dia tidak punya waktu bersama Neta.
__ADS_1
Neta melihat waktu di jam tangannya yang berada di pergelangan tangannya. Waktu menujukan jam setengah empat. Sebentar lagi jam pulang kantor. Artinya pekerjaannya sudah selesai.”
“Apa tidak bisa sekalian?” Neta menego pada Dathan. Jika hari ini bisa diselesaikan kenapa harus menunggu besok.