Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Aku Dijemput


__ADS_3

Motor Maria sampai di halte bus. Neta segera turun dari motor. Tepat saat Neta turun, suara ponselnya berdering. Dia menduga jika itu adalah Dathan. Dengan cepat dia mengambil ponsel yang diletakkan di dalam tasnya. Sayangnya, Neta justru mendapati Adriel yang menghubunginya. Dia merasa bingung untuk apa Adriel menghubunginya. Bukankah pria itu harusnya sudah pulang?


Rasa penasarannya membuat Neta segera mengangkat sambungan telepon tersebut. Memastikan apa yang menyebabkan Adriel menghubunginya.


“Halo, Kak.” Neta menyapa.


“Ta, kenapa tidak pakai helm?” Adriel langsung bertanya hal itu. “Kalau kamu tidak bawa helm, kamu pulang denganku saja.” Dia langsung menawarkan pada Neta. Tak mau sampai Neta kenapa-kenapa.


“Kak Adriel lihat aku naik motor dengan Maria?” tanya Neta memastikan. Dia merasa aneh di mana gerangan Adriel sampai bisa melihatnya.


“Aku di kafe, tadi aku melihatmu. Kamu di mana sekarang aku akan jemput kamu.”


Neta benar-benar terkejut dengan ucapan Adriel. Dirinya akan pulang dengan Dathan. Jadi tentu saja tidak bisa mungkin. “Kak, aku tidak pulang dengan Maria. Tadi aku hanya ikut dia ke tempat parkir saja. Bukan mau ikut dia sampai rumah.” Neta mencoba menjelaskan.


“Lalu kamu pulang naik apa?” tanya Adriel yang tampak khawatir di seberang sana.


“Aku dijemput, Kak.” Neta memberanikan diri untuk mengatakan sesungguhnya. Tak mau berbohong.


Untuk sesaat Adriel diam saja. Dia merasa terkejut dengan ucapan Neta.


“Kak.” Neta yang mendengar tidak ada suara pun memanggil Adriel.


“Baiklah, hati-hati.” Hanya kalimat itu yang didengar Neta.


“Baik, Kak.” Neta segera mematikan sambungan telepon tersebut setelah mendengar ucapan Adriel. Dia segera memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.


“Adriel?” tanya Maria memastikan.


“Iya, dia di kafe depan dan melihat kita.” Neta menjelaskan.

__ADS_1


“Mau apa dia? Mengantarkanmu?” Maria tersenyum menggoda.


“Iya.” Neta mengangguk.


Tepat saat jawaban Neta diberikan, mobil Dathan datang. Maria pun langsung berpamitan dengan Neta. Maria meminta Neta jangan pulang malam-malam. Mengingatkan temannya itu.


Setelah Maria pergi, Neta segera masuk ke mobil Dathan. Senyum Dathan langsung menyambut Neta. Hal itu membuat Neta ikut tersenyum. Neta segera duduk dan memasang sabuk pengamannya. Dathan pun segera melajukan mobilnya. Mengantarkan Neta untuk pulang.


“Cinta sudah tidur?” tanya Neta.


“Sudah. Jadi aku bisa menjemputmu.” Dathan tersenyum.


Neta mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Apa masih banyak orang tadi di kantor?” Dathan masih penasaran sekali dengan situasi pekerjaan Neta.


“Banyak, karena biasanya kami dikejar date line. Jadi biasanya kami akan sampai malam bekerja. Ini adalah sebagian yang di kantor. Yang di luar kantor terkadang juga sama.” Neta menjelaskan pada Dathan pekerjaanya.


“Wawancara tidak dilakukan malam hari, tetapi kadang ada acara-acara bisnis yang diadakan malam hari. Biasanya kami meliputi itu. Melihat siapa-siapa saja yang datang ke acara itu. Atau terkadang kami harus ke luar kota atau luar negeri untuk liputan pembukaan perusahaan baru, pabrik baru, atau peluncuran produk.” Neta menceritakan secuil pekerjaanya. Walaupun itu tidak semua. Karena memang banyak hal yang dilakukannya.


Dathan yang mendengar itu melihat ternyata pekerjaan Neta cukup berat. “Apa kamu juga sering ke luar kota apa ke luar negeri untuk liputan?” tanya Dathan kembali.


“Iya, biasanya aku hanya ke luar kota saja. Tidak ke luar negeri. Karena aku hanya mengurus berita di dalam negeri saja.” Neta kembali menjelaskan.


Dathan mendengarkan penjelasan Neta. Obrolan tentang pekerjaan ini cukup menarik. Jadi dia tahu sedikit tentang pekerjaan Neta.


Akhirnya mobil sampai di tempat kos Neta. Dathan segera menepikan mobilnya ditempat biasanya.


“Terima kasih sudah menjemputku.” Neta melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya sambil menatap Dathan.

__ADS_1


“Kenapa harus berterima kasih. Aku akan selalu menjemputmu jika kamu pulang.” Dathan tidak akan pernah membiarkan Neta untuk pulang sendiri apalagi malam-malam.


Neta tersenyum ketika mendapatkan perhatian itu. “Jika kamu memanjakan aku seperti itu, aku takut aku tidak bisa mandiri.” Dia menatap Dathan. Neta memang terbiasa mengerjakan pekerjaanya sendiri. Pekerjaanya menuntutnya untuk mandiri. Terkadang dia harus pergi ke luar kota sendiri untuk meliput. Jadi tentu saja dia jarang tergantung pada orang.


“Jangan mandiri. Karena saat kamu mandiri, kamu tidak akan butuh aku.” Dathan menarik tangan Neta. “Aku mau kamu selalu membutuhkan aku, karena saat kamu tidak butuh aku, tidak ada tempat untukku di hatimu.”


Neta tersenyum. Di mana-mana pria berharap kekasihnya atau bahkan istrinya mandiri, tetapi pria di depannya ini justru tidak. Dia justru berharap dirinya yang manja. Entah keunikan apa lagi dari Dathan yang tidak diketahui Neta. Semakin Neta tahu, semakin Neta terpesona.


“Aku akan selalu ada untukmu. Jadi jangan sungkan untuk menghubungi aku.” Dathan kembali mengingatkan.


“Baiklah Pak Dathan Fabrizio. Aku akan menghubungi kamu.” Neta tersenyum.


Dathan ikut tersenyum. “Cepat masuklah, istirahat, dan sampai bertemu besok.” Dia yang sedari tadi memegangi tangan Neta, menarik lembut tangan Neta. Mendaratkan kecupan di punggung tangan Neta.


Neta hanya bisa tersipu malu. Dathan memang benar-benar membuatnya melayang. Dia hanya berharap Dathan tidak menghempaskannya. Hingga dia akan terluka.


“Baiklah, sampai bertemu besok.” Neta tersenyum.


Saat Dathan melepaskan tangannya, dia segera keluar dari mobil. Neta langsung masuk ke tempat kos sambil melambaikan tangan. Saat Neta sudah masuk, barulah Dathan melajukan kembali mobilnya.


Tepat tak jauh dari mobil Dathan, ada mobil Adriel. Dia melihat jelas Neta yang melambaikan tangan pada orang yang berada di dalam mobil.


“Dia tampak bahagia.” Adriel mengembuskan napasnya. Dadanya terasa sesak ketika melihat Neta justru bahagia bersama orang lain. Saat melihat Neta hilang dari pandangan, Adriel pun segera melajukan mobilnya. Meninggalkan tempat kos Neta.


...****************...


Pagi ini Neta begitu bersemangat sekali. Dia sudah mengemasi baju yang dipakainya untuk pergi ke Bali. Rasanya tidak sabar untuk menikmati waktu dengan Dathan dan Loveta. Karena nanti Dathan akan menjemputnya langsung ke kantornya, jadi Neta membawa tas berisi pakaiannya sekalian saat berangkat bekerja.


Di kantor tak ada yang aneh ketika Neta membawa tas atau pun koper. Mereka sudah terbiasa melihat hal itu, karena biasanya orang-orang yang membawa itu adalah mereka yang akan ke luar kota atau ke luar negeri untuk melakukan liputan.

__ADS_1


“Kamu mau ke mana, Ta?” Tepat di depan lift saat Neta dan Maria sedang menunggu lift terbuka, Adriel datang dan menghampiri mereka. Adriel tahu jadwal Neta tidak ada acara ke luar kota atau ke luar negeri. Jadi dia penasaran ke mana Neta dengan membawa tas yang biasa dipakainya untuk ke luar kota.


__ADS_2