
Neta bangun lebih awal. Saat membuka matanya, dia melihat Dathan dari kejauhan yang tampak begitu pulas sekali. Wajah Dathan begitu mengemaskan. Rasanya Neta tidak sabar untuk menunggu di mana dirinya akan menjadi istri Dathan dan menikmati wajah Dathan saat membuka matanya.
Neta segera berangsur bangun. Hari ini libur, dan ada Dathan di rumah. Neta ingin memasak hari ini di kosnya. Kapan lagi menunjukkan keahliannya di depan kekasihnya. Neta segera berangsur. Sambil bangun, tangannya mengikat rambutnya dengan ikat rambut yang berada di pergelangan tangannya.
Neta berjalan keluar dari kamar dengan perlahan. Dia harus ke tukang sayur yang berada tak jauh dari tempat kosnya. Dia ingin membeli bahan masakan di sana.
Tepat di depan kamar kosnya, dia bertemu dengan Maria. Tampak temannya itu juga baru keluar dari kosnya. Tampak Maria membawa plastik laundry. Neta yakin jika temannya itu mau ke tempat laundry.
“Mau ke mana, Ta?” Maria menatap Neta sambil menutup pintu kamarnya.
“Mau ke tempat penjual sayur.” Neta menjawab sambil menutup pintu kamarnya. Mengunci pintu dari luar agar tidak ada orang yang masuk.
“Kamu mau masak?” Maria menatap Neta penasaran. Jika Neta mau masak, artinya dia sedang rajin dan akan seharian di rumah.
“Iya, aku mau masak.” Neta membenarkan apa yang dikatakan oleh Neta.
Mereka berdua berjalan bersama. Karena tempat laundry dan tempat jualan sayur dekat, jadi arah mereka sejalan.
Tepat di lantai bawah. Maria melihat mobil Dathan yang terparkir di tempat parkir. Dia langsung menatap temannya yang berada di sampingnya.
“Dathan menginap di sini?” Maria langsung melemparkan pertanyaan itu pada Neta.
Neta tampak terdiam. Dia merasa bingung menjawabnya. “Dengar, dia tidur di sofa, dan aku tidur di tempat tidur.” Neta tidak menjawab ucapan Maria, tetapi justru langsung menjelaskan.
__ADS_1
Dari penjelasan yang diberikan oleh Neta, sudah menjelaskan jika Dathan memang menginap.
“Sayang sekali kalian tidak memanfaatkan keadaan. Harusnya kalian manfaatkan itu. Lumayan mencari kenikmatan.” Maria justru berpikir yang lain. Dia membayangkan jika diberikan kesempatan seperti itu, pasti akan sangat nikmat.
“Dasar!” Neta mendorong tubuh Maria pelan. Dia benar-benar tidak menyangka jika ternyata Maria memikirkan hal itu.
Maria hanya tertawa ketika Neta tampak kesal dengan ucapannya.
Mereka terus berjalan. Neta berbelok di tukang sayur, sedangkan Maria melanjutkan langkah ke laundry. Karena hari ini Neta hanya ingin memasak yang simple saja, akhirnya dia memutuskan untuk membuat ayam bumbu mentega dan juga tumis jamur. Itu cukup untuk mereka sarapan. Alih-alih memilih nasi, Neta memilih membeli kentang untuk karbohidrat untuk teman dari masakannya hari ini.
Neta yang selesai lebih dulu kembali lebih dulu. Dia meninggalkan Maria yang tampaknya masih di tempat laundry.
Neta segera kembali ke kamar kosnya. Dia ingin segera memasak untuk sarapan kali ini.
“Astaga.” Baru saja Neta berbalik. Ternyata Dathan baru saja keluar dari kamar mandi. Hal itu membuatnya terkejut. Dia langsung memegangi dadanya karena begitu terkejutnya.
“Apa aku mengagetkan kamu?” Dathan tidak menyangka jika ternyata Neta begitu terkejut.
“Iya, kamu tiba-tiba keluar dari kamar mandi. Jadi tentu saja aku terkejut.” Neta mengakui apa yang terjadi padanya.
“Kamu dari mana? Aku bangun kamu tidak ada dan kamu mengunciku di dalam kamar.” Dathan menatap sang kekasih. Tadi saat bangun dia tidak mendapati Neta di kamar. Saat ingin mencari tahu, justru Dathan mendapati jika dirinya dikunci.
“Aku baru beli bahan masakan di warung sayur dekat kosan. Aku mau memasak dulu untuk sarapan kita.” Neta menunjukkan plastik belanjaan yang dibawanya. Dia segera mengayunkan langkahnya ke dapur. Meletakan plastik di dapur kecil miliknya.
__ADS_1
“Apa kamu butuh bantuan?” Sambil berjalan, Dathan menawarkan diri.
“Tidak perlu. Karena sekarang di kosku. Jadi aku yang akan memasak.” Neta tersenyum memamerkan deretan giginya.
Dathan tersenyum. Dia pun tidak memaksa. Dathan memilih untuk melipat selimut yang dipakainya. Kemudian meletakkan di atas tempat tidur Neta. Karena selimut Neta juga berantakan, dia melanjutkan melipat slimut milik Neta.
Neta yang berada di kamar langsung bergerak memasak. Kali ini, hanya masakan simple. Jadi tak butuh waktu lama.
Sambil menunggu Neta memasak, Dathan mencoba menghubungi ponsel asisten rumah tangga di rumah. Dia menanyakan apakah anaknya sudah bangun atau belum. Ternyata anaknya sudah bangun dan sedang mandi dengan mamanya.
“Cinta sudah bangun?” Neta menatap Dathan yang baru saja menghubungi orang rumah. Entah siapa yang dihubungi, tetapi Neta yakin bukan Arriel.
“Iya, sudah dan sedang mandi dengan mamanya.” Dathan menjelaskan seperti yang dijelaskan oleh asisten rumah tangga.
“Apa kamu jadi mengatakan pada Cinta kamu sudah berpisah dengan mamanya?” Neta menatap Dathan sejenak sebelum kembali mengalihkan perhatian pada masakannya.
“Iya, aku akan mengatakan setelah ini. Semakin lama aku menunda. Keadaan akan semakin rumit. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Arriel, tetapi aku takut Arriel memanfaatkan keadaan.” Dathan kali ini akan bertindak tegas. Cukup baginya memberikan ruang untuk Arriel. Jika dilanjutkan, dia takut Arriel akan memanfaatkan anaknya.
Neta mengangguk mengerti. Dia hanya bisa berharap Loveta bisa mengerti keadaan orang tuanya. Walaupun terlalu kecil untuk dirinya memahami itu.
“Apa kamu mau menemani aku?” Dathan menatap Neta. Kali ini dia butuh dukungan Neta. Jadi dia berharap Neta akan ikut.
“Baiklah, aku akan ikut.” Neta mengangguk. Dia akan mendukung Dathan. Hanya itu yang bisa dilakukan saat ini.
__ADS_1