Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Jalan-Jalan


__ADS_3

Sore ini Dathan akhirnya pergi mengajak Neta untuk jalan-jalan. Mereka menyusuri jalanan yang terbuat dari kayu. Kanan kiri lautan yang biru, dan tentu saja memberikqn pemandangan yang begitu indah.


Mereka berfoto bersama. Neta bergaya di depan kamera Dathan. Sengaja Dathan membawa kamera miliknya untuk mengabadikan setiap tempat yang ada di sini. Tak mau melepaskan momen berharga ini. Neta bergaya di depan kamera. Menciptakan gambar-gambar indah.


Senyum manis menghiasi wajah mereka berdua. Hingga membuat mereka berdua begitu bahagia sekali. Semoga ini akan menjadi kenangan manis untuk mereka.


Mereka melanjutkan bermain di pinggir pantai. Di sana ada ayunan, dan Neta menaikinya. Dathan pun sibuk mengabadikan momen itu.


Di pinggir pantai, mereka menikmati suasana tersebut. Pasir pantai yang lembut membuat mereka dapat begitu senang. Karena pasir yang melewati celah jari terasa begitu menggelitik.


Puas bermain, mereka kembali ke vila. Dathan tidak mau sang istri kelelahan. Lagi pula esok mereka bisa jalan-jalan lagi.


Neta yang sampai di vila, melihat kolam dihiasi kelopak bunga mawar dan ada bentuk love di tengah. Dia hanya tercengang saja. Dengan segera mengalihkan pandangan pada Dathan. Pasti suaminya itu yang melakukannya.


Di depan kolam renang ada meja makan yang disusun dengan dua gelas dan satu botol minuman soda.

__ADS_1


“Kamu yang menyiapkan semua?” tanya Neta.


“Bukan, petugas vila mungkin.” Dathan tertawa.


“Mana ada petugas tanpa instruksi dari kamu.” Neta menekuk bibirnya kesal.


Dathan tersenyum. “Iya, aku yang memintanya dan petugas yang menyiapkan. Untuk wanita yang aku cintai.” Dia meraih tangan Neta dan membawanya untuk duduk.


Mereka berdua menikmati minuman yang tersedia. Sambil melihat sang surya yang pulang ke peraduan.


“Aku akan membangunkan kamu dengan lembut. Menyambutmu dengan sebuah kecupan.” Neta menjelaskan apa yang akan dilakukannya. “Aku akan menyiapkan jas kerjamu. Memakaikan dasimu. Menemanimu sarapan.” Dia menambahi apa yang akan dilakukannya nanti. Membayangkan saja sudah indah sekali. “Saat pulang, aku akan menyambutmu dengan senyuman paling indah.” Neta tersenyum lebar pada sang suami.


“Aku tidak sabar menunggu hari itu, dan aku harus bersabar dalam beberapa minggu dulu.” Dathan mengerti jika Neta harus bekerja setelah menikah. Jadi wajar saja jika dia harus mengerti akan hal itu.


“Bersabarlah, tiga minggu tidak akan lama.” Neta tersenyum.

__ADS_1


Dathan berharap tiga minggu benar-benar tidak akan lama.


Mereka menikmati minuman sambil menunggu sang surya yang perlahan pulang ke peraduannya. Sampai saatnya malam menyapa. Langit yang tadinya terang berubah jadi gelap.


Penjaga vila pun menyajikan makanan. Mereka menikmati bersama-sama. Sambil saling bercerita.


“Apa yang dilakukan Cinta kira-kira dengan mamanya?” Neta begitu penasaran sekali.


“Mungkin dia sedang menikmati waktu bersama.” Dathan memikirkan apa yang dilakukan sang anak.


“Aku rindu.” Neta sudah tidak bertemu tiga hari, dan itu membuatnya merindukan gadis kecil yang sekarang sudah jadi anaknya.


“Di sini dua jam lebih cepat. Artinya dia belum tidur. Jadi kita bisa menghubunginya.” Dathan memberikan ide pada sang istri. Sekaligus ingin tahu keadaan sang anak.


“Baiklah.” Neta berbinar. Dia ingin berbicara dengan Loveta. Melepaskan rindunya pada gadis kecil itu.

__ADS_1


__ADS_2